Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Mingguan

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (setiap Sabtu Pertama setiap bulan)

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Jumat 04 September 2026

Bacaan Liturgis โ€“ Pekan Biasa XXII, Jumat, 04 September 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Korintus 4:1-5

  • Mazmur Tanggapan: Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6.27-28.39-40

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya. Aku ini cahaya dunia, sabda Tuhan. Yang mengikuti Aku, hidup dalam cahaya. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 5:33-39

Jiwa yang Berkenan kepada Allah

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Injil hari ini (Luk 5:33-39) mengajak kita untuk kembali merenungkan โ€œHal Berpuasaโ€. Tentang hal ini, murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang. Demikian juga murid-murid orang Farisi (ay. 33). Juga orang-orang Yahudi biasa, mereka sering berpuasa dan sembahyang.

Namun, ketika orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat melihat bahwa para murid Yesus tidak berpuasa, mereka berkomentar tentang para murid Yesus yang makan dan minum. Atas komentar mereka, Yesus memberikan tanggapan, โ€œDapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, selagi mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya mempelai diambil dari mereka; pada waktu itulah mereka akan berpuasaโ€ (ay. 34-35).

Lantas apa yang dapat kita renungkan dari Injil hari ini? Pertama, para murid Yesus sedang bersama sang mempelai, sehingga saat itu mereka makan dan minum, alias tidak berpuasa. Mereka berada dalam solidaritas dengan sang mempelai yang sedang bergembira, bersukaria dan berbahagia. Itulah sebabnya Yesus berkata, โ€œDapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, selagi mempelai itu bersama mereka?โ€ (ay. 34).

Kedua, apabila saat itu mereka sedang makan dan minum, tidak berarti bahwa mereka tidak mengindahkan atau mempraktikkan puasa. Mereka bisa melakukannya pada kesempatan lain. Itulah sebabnya, Yesus berkata, โ€œTetapi akan datang waktunya mempelai diambil dari mereka; pada waktu itulah mereka akan berpuasaโ€ (ay. 35). Melalui ayat ini tersembunyi suatu ucapan mengenai kesengsaraan dalam menyambut kedatangan mempelai laki-laki. Para murid Yesus tidak bersedih waktu itu (Luk 24:17-38) sebelum mereka menyaksikan kebangkitan dan kehadiran Yesus yang berkelanjutan di tengah mereka (Luk 24:52).

Ketiga, Yesus sendiri tidak alergi dengan praktik berpuasa. Sebagai contoh, pada awal pelayanan-Nya, Yesus menandainya dengan pergi atau tepatnya โ€œdibawa oleh Roh Kudus ke padang gurunโ€ (Luk 4:1). Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan tidak makan apa-apa (ay. 2). Di sana Ia berpuasa. Oleh karena itu, Yesus tidak memandang rendah puasa (Mat 6:16-18).

Keempat, para murid dan Gereja perdana mempraktikkan puasa. Secara teratur mereka berpuasa dan berdoa (Kis 2:42; 13:3; 14:23). Praktik berpuasa dan berdoa ini diteruskan dalam Gereja Katolik, yang secara eklesial-komuniter dilakukan pada Masa Prapaskah. Namun, di luar itu, praktik berpuasa dan berdoa bisa dilakukan sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh masing-masing pribadi atau oleh tarekat tertentu sebagaimana diatur dalam Regula, Konstitusi atau Statuta masing-masing tarekat.

Kelima, praktik berpuasa tidak pernah berdiri sendiri. Itulah sebabnya, dalam Khotbah di Bukit Yesus menyebut berpuasa (Mat 6:16-18) dalam kaitannya dengan berdoa (ay. 5-6) dan memberi sedekah atau amal (ay. 1-4). Ketiganya merupakan tiga serangkai, menyatu dan tak terpisahkan.

Santo Petrus Kristologus, seorang Uskup dan Pujangga Gereja asal Italia (380-450) menegaskan kaitan ketiganya demikian, โ€œDoa, puasa dan amal; tiga ini merupakan kesatuan. Ketiganya saling memberi hidup. Sebab puasa itu jiwa doa; dan amal adalah kehidupan berpuasa. Janganlah ketiga ini dipisahkan; sebab ketiga-tiganya tak terpisahkan. Kalau orang hanya memiliki salah satu saja, atau kalau tidak memiliki ketiga-tiganya bersama, ia tidak mempunyai apa-apa. Maka, yang berdoa, harus juga berpuasa; dan yang berpuasa harus juga berbuat amal.โ€

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, praktik berpuasa itu memperkaya sekaligus diperkaya oleh keutamaan doa dan amal. Demikian sebaliknya. Ketiganya saling memperkaya siapa pun yang mau mempraktikkannya tanpa mengabaikan salah satu atau keduanya dan hanya menekankan yang satu. Dengan melakukannya secara utuh, tak terpisahkan, maka manfaat rohani akan diperoleh, seperti dikatakan oleh Santo Petrus Krisologus, yakni โ€œjiwa menjadi kurban yang murni, persembahan yang suci, kurban yang hidup, yang tetap menjadi milikmu meskipun dipersembahkan kepada Allahโ€.

Singkat kata, berpuasa, berdoa dan beramal selalu menyangkut satu hal ini: Jiwa, yakni jiwa yang berkenan kepada Allah. Maka, ketiganya mesti dilakukan secara benar dan dalam satu kesatuan. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.