Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Selasa 10 Februari 2026

Bacaan Liturgi : PW Santa Skolastika, Perawan, Selasa, 10 Februari 2026

  • Bacaan Pertama : 1 Raja-raja 8:22-23.27-30

  • Mazmur Tanggapan : R. Betapa menyenangkan kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam.

  • Ayat Mazmur : Mzm 84:3.4.5.10.11

  • Bait Pengantar Injil : Alleluya. Condongkanlah hatiku kepada perintah-Mu, ya Allah, dan kurniakanlah hukum-Mu kepadaku. Alleluya.

  • Bacaan Injil : Markus 7:1-13

Bersikap Legalistis

Yesus mengecam orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat karena mereka begitu memegang kuat adat-istiadat nenek moyang mereka dan memaksakan adat-istiadat tersebut kepada orang lain sampa mengabaikan perintah Allah yang lebih penting dan seharusnya mereka lakukan. Dengan demikian ibadat mereka tidak ada gunanya sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.

Kita pun tanpa kita sadari juga sering bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Lebih mengutamakan adat-istiadat, kebiasaan, tradisi dan aturan yang ada dalam keluarga dan komunitas/biara daripada perintah Allah, yang tidak lain adalah kasih. Memaksakan orang lain untuk mengikuti kebiasaan, aturan yang berlaku, tanpa melihat situasi dan kondisi seseorang. Menerapkan suatu aturan yang kaku pada zaman dulu mungkin bisa diterima. Tetapi pada zaman sekarang sulit diterima karena zaman dan tuntutannya sudah berbeda, sehingga kalau dipaksakan justru akan menghambat perkembangan pribadi dan rohani orang lain.

Ini tidak berarti bahwa tradisi, kebiasaan dan aturan tidak perlu dilaksanakan. Kebiasaan, tradisi, dan aturan tetap kita laksanakan karena bagaimana pun itu penting untuk mengatur kehidupan bersama dan membina relasi yang baik dengan masyarakat. Hanya saja kita perlu bersikap bijaksana dalam penerapannya. Pertama, kita perlu memilah-milah kebiasaan yang baik, dan sesuai dengan tuntutan zaman dan mana yang tidak dan perlu diperbarui. Kedua, kita perlu melihat situasi dan kondisi orang yang melaksanakan aturan itu. Apakah kira-kira dia mampu melakukannya apa tidak. Bila tidak mampu karena alasan tertentu, jangan dipaksakan kepadanya. Lebih dari itu kita perlu melihat, apakah aturan, kebiasaan atau tradisi yang ada itu sudah sesuai dengan perintah Allah atau tidak? Membuat orang semakin terdorong untuk mencintai Allah dan sesamanya atau tidak? Kalau tidak, kita perlu meninjau kembali aturan itu.

(RP. Titus Brandsma Pantjaja Adji Wilasa, O.Carm.)

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Merayakan Pertobatan" Oleh Romo Agustinus Ari Pawarto O.Carm