Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Rabu 24 Juni 2026

Bacaan Liturgis – Hari Raya kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, Rabu, 24 Juni 2026

  • Β· Bacaan Pertama: Kitab Yesaya 49:1-6

  • Β· Mazmur Tanggapan: Aku bersyukur kepada-Mu, oleh karena misteri kejadianku.

  • Β· Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3.13-14ab.14c-15

  • Β· Bacaan Kedua: Kisah Para Rasul 13:22-26

  • Β· Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Engkau, hai anakku, akan disebut Nabi Allah Yang Maha Tinggi, karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya. Alleluya.

  • Β· Bacaan Injil: Lukas 1:57-66.80

Anak Sebagai Tanda Hadirnya Rahmat Tuhan yang Begitu Besar

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini Gereja merayakan hari raya kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Hari raya ini menjadi momentum indah bagi kita untuk kembali merenungkan tentang anugerah Allah.

Berbicara tentang anugerah Allah sebenarnya kita bisa mulai dari segala arah; maksud saya, anugerah Allah itu bisa dilihat dan dimaknai dari setiap hal. Sebab, β€œSegala-galanya adalah anugerah,” kata Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus. Untuk itu, saya akan melihat dan memaknai anugerah Allah dari sosok seorang anak.

Pertanyaannya, benarkah anak adalah anugerah Allah? Benarkah anak adalah anugerah yang diminta (ada yang diminta sampai bertahun-tahun), dirindukan, diharapkan dan diterima dengan hati penuh syukur? Tidak semua suami istri akan memberikan jawaban yang sama. Sebagian (besar) akan menjawab β€œya”, anak adalah anugerah Allah. Sebagian (kecil) lainnya akan menjawab β€œtidak”, sebab kehadiran anak dalam keluarga adalah kehadiran yang tidak diharapkan, tidak dirindukan. Karenanya, anak kemudian dipandang sebagai beban atau aib bagi orangtua.

Di tengah jawaban yang beragam, saya mau mengajak Anda untuk mendengarkan seruan Gereja yang mengatakan, β€œAnak bukanlah sesuatu yang dapat dituntut, melainkan suatu anugerah” (Katekismus Gereja Katolik, No. 2378). β€œJadi,” tegasnya, β€œanugerah perkawinan yang paling unggul adalah satu pribadi manusia” (Ibid.).

Satu pribadi manusia itu adalah anak; dan anak itu adalah kita. Seperti dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Sukacita Kasih, β€œKita harus ingat dengan baik bahwa kita masing-masing adalah seorang anak. Dalam diri setiap orang pun, jika orang itu telah menjadi dewasa, atau menjadi tua, juga jika ia menjadi orangtua, jika ia menduduki posisi penting, di bawah semua itu tetap ada identitas seorang anak. Kita semua adalah anak-anak” (No. 188).

Dengan demikian, kita semua adalah anugerah Allah. Dalam bahasa Paus Fransiskus, anak adalah karunia. β€œAnak-anak adalah karunia. Setiap anak adalah unik dan tidak tergantikan… Kita mengasihi anak-anak kita karena mereka adalah anak-anak, bukan karena mereka rupawan, atau mereka adalah seperti ini atau itu; bukan, karena mereka adalah anak! Bukan karena ia berpikir seperti saya atau karena mewujudkan keinginan saya. Seorang anak adalah seorang anak” (Ibid., No. 170). Ya, seorang anak adalah seorang anak; ia adalah karunia dari Allah.

Para saudara, sebagai suami istri sah, Zakharia dan Elisabet kala itu pasti merindukan karunia dari Allah berupa hadirnya seorang anak dalam keluarga. Sambil berusaha dan berdoa, mereka memohon kepada Allah karunia seorang anak. Tahun demi tahun mereka berdoa dan memohonnya kepada Allah. Sampai suatu saat, ketika Zakharia bertugas sebagai imam dan membakar ukupan di Bait Allah, seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan dan berkata kepadanya, β€œJangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu” (Luk 1:13).

Kata-kata malaikat Tuhan terbukti. Seperti kita baca dan dengar dalam Injil hari ini, β€œKetika para tetangga serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepada Elisabet, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia” (Luk 1:58). Istilah β€œanugerah” yang disebut dalam Katekismus Gereja Katolik atau β€œkarunia” dalam bahasa Paus Fransiskus, dalam bahasa penginjil Lukas disebut rahmat. Kelahiran Yohanes adalah sebuah tanda dari hadirnya β€œrahmat-Nya (Tuhan) yang begitu besar kepada Elisabet”.

Bagaimana dengan kelahiran kita dahulu, dan sekarang telah menjadi dewasa atau bahkan telah mencapai usia lanjut? Kelahiran kita adalah tanda dari hadirnya β€œrahmat-Nya yang begitu besar” kepada orangtua kita. Bagaimana dengan kelahiran anak Anda? Ia adalah tanda dari hadirnya β€œrahmat-Nya yang begitu besar”.

Para saudara yang dikasihi Tuhan, pada hari raya kelahiran Santo Yohanes Pembaptis ini sejatinya adalah hari untuk bersyukur kepada Tuhan Allah kita yang telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepada keluarga kita masing-masing. Kita sendiri adalah tanda dari hadirnya anugerah atau karunia atau rahmat Tuhan yang begitu besar. Anak-anak (kita) dalam keluarga adalah tanda dari hadirnya anugerah atau karunia atau rahmat Tuhan yang begitu besar.

Oleh karena itu para saudara, bersama pemazmur Daud hari ini kita berdoa kepada Tuhan, β€œAku bersyukur kepada-Mu oleh karena misteri kejadianku” (Refren Mazmur Tanggapan). Kita bersyukur kepada Tuhan atas anak sebagai tanda hadirnya rahmat Tuhan yang begitu besar dalam keluarga kita. Tuhan memberkati! [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.