Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Minggu 14 Juni 2026

Bacaan Liturgis – Hari Minggu Biasa XI, 14 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: Kitab Keluaran 19:2-6a

  • Mazmur Tanggapan: Kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2.3.5

  • Bacaan Kedua: Roma 5:6-11

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Matius 9:36-10:8

Dipadang dengan Belas Kasih-Nya

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, suatu hari, seorang anak kecil tersesat di tengah keramaian pasar. Ia berjalan ke sana kemari mencari orangtuanya. Banyak orang melihatnya, tetapi sebagian hanya melirik lalu kembali pada urusan masing-masing. Hingga akhirnya seorang ibu menghampirinya, berjongkok sejajar dengannya, menenangkan ketakutannya, dan membantunya menemukan jalan pulang.

Perbedaan terbesar bukanlah pada siapa yang melihat anak itu, melainkan pada cara mereka memandangnya. Banyak orang melihat, tetapi hanya sedikit yang sungguh memerhatikan dan menaruh rasa peduli.

Belas kasih yang dilakukan Yesus dalam Injil hari ini sungguh menginspirasi kita. Ketika Yesus memandang orang banyak, Ia tidak hanya melihat kerumunan semata. Ia melihat hati yang lelah, hidup yang terluka, dan jiwa-jiwa yang haus akan kasih. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Belas kasih Yesus bukan sekadar rasa iba, melainkan kasih yang turun tangan, mendekat, memulihkan, dan menyembuhkan.

Ketika Yesus memandang orang banyak, Ia tidak berkata, β€œMereka kurang berdoa.” Ia juga tidak berkata, β€œMereka tidak layak!” Sebaliknya, hati-Nya digerakkan oleh kasih yang mendalam. Ia melihat kerinduan mereka akan Allah. Ia melihat mereka seperti domba-domba yang kehilangan arah dan mendambakan kehadiran Gembala yang baik. Pandangan Yesus adalah pandangan yang mengangkat dan memulihkan. Ia tidak memandang manusia berdasarkan kegagalan, kelemahan, atau dosa mereka. Ia memandang setiap orang sebagai pribadi yang dicintai dan berharga di hadapan Allah.

Sering kali kita pun seperti domba tanpa gembala. Kita bingung menentukan arah hidup. Kita letih menghadapi berbagai persoalan hidup. Kita merasa berjalan sendirian dalam pergumulan yang tidak dipahami orang lain. Ada kalanya kita tersenyum di hadapan banyak orang, tetapi menyimpan luka dan beban yang berat di dalam hati. Namun, kabar baik dari Injil hari ini adalah bahwa Yesus tidak tinggal diam. Ia datang mencari kita. Ia datang memulihkan kita. Ia datang menuntun kita kembali kepada-Nya.

Hari ini pun Yesus memandang kita. Ia melihat perjuangan yang tidak diketahui siapa pun. Ia melihat anak-anak yang sedang memikul beban studi. Ia melihat orang-oerang yang sedang mengalami masalah dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan juga berbagai pergumulan batin yang mungkin disembunyikan di balik senyum. Ia melihat air mata yang tidak sempat jatuh dan doa-doa yang hanya terucap dalam keheningan.

Para saudara, ketika Yesus memandang kita, pandangan-Nya bukanlah pandangan yang menghakimi, melainkan pandangan yang mengangkat, menguatkan, dan memulihkan. Pandangan belas kasih Yesus inilah yang dahulu dialami oleh para murid. "Ketika Yesus melihat orang banyak yang mengikuti-Nya, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala" (Mat 9:36). Setelah memandang mereka dengan kasih, Yesus memanggil dan mengutus mereka. Menariknya, para murid tidak dipanggil karena mereka sempurna. Mereka dipanggil karena mereka dicintai. Panggilan selalu lahir dari kasih Allah terlebih dahulu.

Hari ini Yesus tidak hanya memanggil Petrus, Andreas, Yakobus, atau Yohanes dan delapan murid yang lain sehingga semua berjumlah dua belas orang. Ia juga memanggil kita masing-masing. Sebab itu, cobalah sejenak membayangkan bahwa Yesus berdiri tepat di hadapan Anda saat ini. Dengan penuh kasih Ia menyebut nama Anda dan berkata, "Datanglah. Aku menghendaki engkau menjadi utusan-Ku."

Betapa indahnya bahwa Tuhan tidak memanggil kita berdasarkan nomor, jabatan, prestasi, ataupun kemampuan. Ia memanggil kita dengan nama. Karena nama adalah tanda relasi pribadi. Sejak hari pembaptisan, nama kita telah terukir dalam hati Allah. Kita dikenal, dikasihi, dan dipanggil secara pribadi oleh-Nya.

Ketika Yesus memanggil nama kita, Ia tidak hanya mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Ia juga mengutus kita menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya di dunia. Menjadi utusan Kristus tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar. Kita dapat menjadi utusan-Nya melalui kesetiaan dalam tugas sehari-hari, melalui perhatian kepada sesama, melalui kesediaan mendengarkan mereka yang terluka, melalui kata-kata yang menguatkan, dan melalui doa-doa yang kita panjatkan bagi orang lain.

Tuhan tidak selalu mencari orang yang paling hebat. Ia mencari hati yang mau mendengarkan, percaya, dan bersedia diutus oleh-Nya. Karena itu, ketika kita membuka diri kepada-Nya, belas kasih Kristus yang telah kita terima akan mengalir melalui hidup kita dan menjadi berkat bagi banyak orang. Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, β€œSudahkah aku membiarkan diriku dipandang oleh Yesus dengan belas kasih-Nya?” Dan jika hari ini Yesus memanggil namaku, apakah aku berani menjawab, β€œYa Tuhan, inilah aku. Utuslah aku"? [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.