Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Jumat 26 Juni 2026

Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XII, Jumat, 26 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: 2 Raja-Raja 25:1-12

  • Mazmur Tanggapan: Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, bila aku tidak mengingat engkau.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 137:1-2.3.4-5.6

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Matius 8:1-4

KITA JUGA INGIN MENJADI TAHIR

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dalam sebuah katekese tentang iman, Santo Ireneus mengatakan bahwa karena cinta dan belas kasih Tuhan dan karena kekuasaan-Nya yang tak terhingga, Ia dapat melakukan segala, sebab apa yang tidak mungkin bagi manusia, tetap mungkin bagi Tuhan. Ia juga mengatakan bahwa mereka yang melihat terang ada di dalam terang, dan menikmati cahayanya, begitu juga mereka yang melihat Allah ada di dalam Allah, dan melihat cahaya-Nya. Tetapi cahaya Tuhan itu memberi hidup; maka mereka yang melihat Allah akan menikmati hidup.

Santo Ireneus berkata benar. Tuhan dapat melakukan segala. Injil hari ini menunjukkannya. Seorang yang sakit kusta, yang dalam hidup kemasyarakatan selalu dipinggirkan, diasingkan, dan tidak pernah mendapat pengakuan dan sapaan, justru mendapatkannya dari Yesus. Begitu mendengar permintaannya, β€œTuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku”, tak lama kemudian β€œYesus lalu mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata, β€˜Aku mau, jadilah engkau tahir!’ (Mat 8:3a).”

Apa yang terjadi dengan uluran tangan Yesus dan kata-kata yang diucapkan-Nya, β€œAku mau, jadilah engkau tahir!”? Penginjil mencatat peristiwa penting dalam hidup si kusta, β€œSeketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya” (ay. 3b). Luar biasa. Ini adalah mukjizat. Ini adalah karya agung Allah yang dihadirkan oleh Yesus berkat kuasa yang bekerja di dalam Dia.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, perikop Injil yang singkat ini terdapat kata kunci yakni: Tahir. Ada tiga kata yang saling menjelaskan yakni mentahirkan (ay. 2), tahir dan tahirlah (ay. 3). Kata dasar β€œtahir” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya bersih, suci, murni. Permohonan si kusta agar Yesus mentahirkan dirinya dalam arti dia ingin agar anggota tubuhnya dibersihkan atau dibuat bersih dari luka yang tak kunjung sembuh. Dan, apa yang ia inginkan atau harapkan sungguh terjadi berkat kuasa Yesus.

Jika kata β€œtahir” dikaitkan dengan kata β€œsuci” atau β€œmurni”, maka istilah kusta dimengerti secara simbolis. Adalah Santa Teresa dari Avila yang pernah menyebut kata β€œkusta” dalam kaitannya dengan dosa. Dia mau mengatakan bahwa orang yang berdosa sejatinya juga orang yang sakit kusta, bukan pada anggota tubuh bagian luar yang terluka dan kotor sehingga perlu dibersihkan, tetapi pada bagian jiwanya yang perlu disucikan atau dimurnikan oleh kerahiman Allah melalui Sakramen Tobat.

Para saudara sekalian, jangan lupa untuk merenungkan kata-kata si kusta ketika datang kepada Yesus dan sujud menyembah-Nya, β€œTuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku.” Dalam teks berbahasa Inggris berbunyi, β€œLord, if You wish, You can make me clean.” β€œLord” artinya Tuhan (dalam Kitab Suci diterjemahkan: Tuan).

β€œDalam berita-berita Injil, orang-orang yang datang kepada Yesus sering menamakan-Nya β€˜Tuhan’” (Katekismus Gereja Katolik, No. 448). Si kusta dalam Injil hari ini adalah salah satunya. Ia menyebut dan mengakui Yesus sebagai Tuhan. β€œDalam penggelaran ini dinyatakan penghormatan dan kepercayaan mereka yang mendekati Yesus dan mengharapkan bantuan dan penyembuhan dari Dia” (Ibid.).

Ketika si kusta mendekati Yesus serta mengharapkan pertolongan dan penyembuhan dari kustanya, sambil sujud menyembah-Nya dia menyatakan rasa hormat dan kepercayaannya kepada Yesus sebagai Tuhan. Dalam hal ini, β€œTuhan” mendapat warna cinta dan simpati yang bergema dari lubuk hatinya yang terdalam.

Sikap iman yang diwarnai oleh cinta dan simpati seperti ditunjukkan oleh si kusta dalam Injil hari ini menurut hemat saya perlu kita contoh. Pertama, kita juga adalah orang-orang yang sakit kusta, yang secara rohani jiwa kita perlu disucikan atau dimurnikan oleh kerahiman Allah yang berbelas kasih.

Kedua, kita juga adalah orang-orang yang tidak bisa memenuhi segala kebutuhan kita sehari-hari, termasuk kesembuhan jika ada anggota tubuh kita yang sakit atau ada anggota keluarga kita yang sakit. Maka, kita pun perlu mendekati Yesus dan mengakui-Nya sebagai Tuhan. Kita perlu β€œsujud menyembah Yesus” (Mat 8:2) untuk menyatakan rasa hormat , cinta dan simpati kita kepada-Nya.

Ketiga, kita juga adalah orang-orang yang perlu berdoa dengan penuh iman seperti si kusta. Ia menyapa Yesus sebagai Tuhan tidak hanya menambah derajat-Nya tetapi juga menempatkan karya penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus dalam kerangka doa yang penuh iman. Kita perlu berdoa sebagai orang beriman dengan penuh iman. Sebab, oleh iman si kusta, maka Yesus mau memenuhi apa yang diinginkan dan dimintanya. β€œTuhan mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya,” kata Daud (Mzm 4:4).

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, menjadi tahir bukan hanya kerinduan si kusta dalam Injil hari ini. Kita juga ingin menjadi tahir, baik oleh karena kuasa penyembuhan Yesus sebagai Tuhan (khususnya bagi yang sedang sakit secara fisik) maupun oleh karena kuasa kerahiman Allah sebagai Bapa yang penuh belas kasihan. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.