Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Sabtu 04 Juli 2026

Bacaan Liturgis – Hari Minggu Biasa XIII, 04 Juli 2026

  • Bacaan Pertama: Kitab Amos 9:11-15

  • Mazmur Tanggapan: Tuhan mewartakan damai kepada umat-Nya.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mazmur 85:9.11-12.13-14

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya. Sabda-Mu adalah kebenaran, ya Tuhan; kuduskanlah kami dalam kebenaran. Alleluya

  • Bacaan Injil: Injil Matius 9:14-17

Berpuasa Sebagai Sarana Refleksi Atas Kedosaan Kita

Saudari dan saudara, tradisi puasa dan mati raga adalah salah satu praktek olah rohani bagi kita kaum kristiani yang sangat penting demi peningkatan mutu hidup rohani kita. Akan tetapi kita harus diingatkan secara tegas dan terus-menerus bahwa puasa, pantang dan mati raga itu bukanlah tujuan hidup. Semua itu hanya jalan dan sarana untuk semakin memurnikan motivasi diri, melatih kedisiplinan serta mengenal jati diri secara jelas dan menyeluruh. Maka kegiatan puasa, pantang dan mati raga bukanlah sebuah prestasi hidup rohani yang harus dibangga-bangkan atau dipamerkan, tetapi sebaga sarana pemurnian diri demi mencapai kesucian hidup yang mendalam.

Kristus hari ini memberikan pengajaran kepada kita agar jangan kita memamerkan perilaku hidup doa, pantang puasa dan perbuatan-perbuatan baik kita hanya untuk mencari pujian dan penilaian baik dari orang lain. Orang-orang Farisi jatuh kepada mentalitas kesucian palsu dan kesombongan hidup rohani yang membuat mereka tidak akan pernah sampai kepada perjumpaan dan pengalaman dengan Tuhan Allah yang sesungguhnya. Berpuasa atau tidak berpuasa semua itu tergantung dari keberadaan Kristus sebagai Sang Mempelai di tengah-tengah kita. Kristus adalah pusat penggenapan suka cita kita.

Berpuasa adalah salah satu ungkapan keprihatinan da refleksi atas pengalaman kedosaan kita di masa lalu. Pengalaman kedosaan kita adalah situasi di mana Allah serasa jauh dari diri kita. Hendaknya sikap puasa adalah pintu gerbang bagi kita untuk memulai pertobatan menuju perjumpaan dengan Tuhan. Hidup kita sebagai seorang kristiani harus diarahkan sesuai dengan peristiwa hidup Kristus sendiri. Yesus sebagai pusat hidup kita adalah bagaikan anggur baru dalam kantung yang baru. Bersama Kristus kita memiliki semangat hidup yang baru pula. Di situlah kita menemukan suka cita sejati

@Rm. Tinto Hasugian O. Carm

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.