Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Senin 22 Juni 2026

Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XII, Senin, 22 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: 2 Raja-Raja 17:5-8.13-15a.18

  • Mazmur Tanggapan: Selamatkanlah kami dengan tangan kanan-Mu, ya Tuhan, dan jawablah kami.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 60:3.4-5.12-13

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Firman Tuhan itu hidup dan kuat, menusuk ke dalam jiwa dan roh. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Matius 7:1-5

Selalu Siap Memaafkan, bukan Menghakimi

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, tidak semua orang punya jabatan sebagai hakim. Maksudnya, ia berlaku sebagai hakim terhadap seseorang yang diajukan ke pengadilan. Namun, mengapa orang yang tidak punya jabatan sebagai hakim suka dan mau menghakimi orang lain? Ia mengambil alih tugas hakim. Ia melakukan apa yang bukan wewenangnya. Inilah yang membuat hidup ini kacau, karena semua orang merasa berhak menjadi hakim atas sesamanya sendiri. Dan, banyak orang yang mau main hakim sendiri. Mereka suka menghakimi orang lain. Padahal, mereka tidak punya hak untuk menghakiminya.

Kata menghakimi dalam perikop Injil hari ini, menurut orang yang tahu Kitab Suci dan terjemahan yang tepat, mestinya dipakai kata menyalahkan, yang berarti menyatakan, memandang atau menganggap seseorang telah berbuat salah. Dengan demikian, ayat 1 berbunyi, “Janganlah menyalahkan orang lain, supaya kalian tidak disalahkan.” Pertanyaannya, apakah menyatakan orang lain salah itu tidak boleh? Boleh! Boleh saja!

Yesus tidak melarang menilai perbuatan seseorang, juga kalau seseorang itu melakukan kesalahan. Yang Yesus larang atau tidak kehendaki ialah kalau orang menutup mata atau tidak mau melihat kekurangan atau kesalahan atau kejahatan orang lain. Berarti, ia berlaku acuh tak acuh terhadap orang lain. Ia tidak mau peduli. Dan dengan diam saja, juga bisa berarti membenarkan kesalahan orang lain. Sikap seperti ini bertentangan dengan kasih terhadap sesama. Yang juga Yesus larang atau tidak kehendaki ialah kalau orang menjatuhkan vonis terhadap seseorang tanpa ampun.

Misalnya, sesorang berkata, “Kamu jahat. Kamu akan masuk neraka!” Dalam hal ini, ia telah menjadi hakim dan memvonis sesamanya. Padahal, Allah sendirilah Hakim (Mzm 50:6). Kata-kata vonis semacam itu merusak relasi dan “membunuh” karakter seseorang, seolah-olah kalaupun ia telah bertobat, tetap saja akan masuk neraka.

Selain itu, kecenderungan untuk memvonis orang lain akan membentuk karakter diri sebagai orang benar atau orang yang paling benar dan orang lain yang salah. Inilah kesombongan. Dengan berlaku sombong, menganggap diri benar dan selalu menyalahkan orang lain, akan melemahkan semangat mengampuni.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, di balik larangan Yesus untuk menyalahkan orang lain, sebenarnya Yesus sedang mengajar tentang semangat mengampuni atau memaafkan sesama. Oleh karena itu, agar kita tidak terjerumus ke dalam kebiasaan negatif berupa menjatuhkan vonis kepada orang lain, kita mesti belajar rendah hati. Kita belajar mengakui bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan atau berbuat salah. Maka, kalau orang telah berbuat salah dan mengakui kesalahannya serta minta maaf, mestinya dengan rendah hati kita mau dan bersedia memaafkan orang lain.

Selain itu, kita perlu belajar menghayati hidup yang dijiwai oleh semangat mengampuni atau memaafkan. Jika sesama minta maaf, mengakui kesalahan atau kejahatannya, kita mesti siap memaafkan atau mengampuninya. Sebab, selalu siap mengampuni atau memaafkan orang lain adalah tindakan yang mulia, bijaksana dan itulah yang diminta Yesus untuk dilakukan.

Pada kesempatan lain Yesus berkata, “Ampunilah dan kamu akan diampuni” (Luk 6:37). Pengampunan itu tidak pernah sia-sia dan tidak merugikan diri sendiri. Rasul Paulus juga memberi nasihat, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kol 3:13).

Bahkan para saudara, Rasul Yakobus memberi teguran cukup keras melalui suratnya, “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?” (Yak 4:12).

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hidup bersama itu indah, jika orang selalu bersedia untuk saling mengampuni, bukan saling menghakimi. Sebab, siapakah yang tidak pernah berbuat salah dan tidak membutuhkan pengampunan dari sesama, bahkan dari Tuhan? Berlaku rendah hati, selalu siap memaafkan atau mengampuni, bukan menghakimi, adalah ciri-ciri seorang murid Yesus yang sejati. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.