Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Selasa 09 Juni 2026

Bacaan Liturgis โ€“ Pekan Biasa X, Selasa, 09 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Raja-Raja 17:7-16

  • Mazmur Tanggapan: Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2-3.4-5.7-8

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapamu di surga. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Matius 5:13-16

Memuliakan Bapa di Surga

Menimbang badan tidak naik,

karena rajin berolahraga.

Mereka melihat perbuatan baik

dan memuliakan Bapamu di surga.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pantun โ€œsantai tapi seriusโ€ ini ditulis oleh Rm. Aloysius Susilo Wijoyo, Pr. Ia adalah seorang imam diosesan, yang terinspirasi oleh Injil hari ini (Mat 5:14-16), yang berbicara tentang panggilan kita sebagai garam dunia (ay. 13) dan terang dunia (ay. 14-16).

Renungan hari ini difokuskan pada hal kedua, bagaimana kita sebagai murid-murid Yesus menjadi cahaya atau terang dunia. Yesus menggambarkan panggilan kita seperti kota yang terletak di atas gunung yang keberadaannya tidak mungkin tersembunyi. Sama seperti Kota Yerusalem, khususnya dengan Bait Allah, yang letaknya di atas gunung, sehingga tampak dari kejauhan, ibarat terang yang menyinari dunia.

Karena merupakan sebuah metafora, gambaran, atau lambang, maka terang dunia dalam arti sesungguhnya bukanlah sebuah kota tertentu atau rumah ibadat tertentu, melainkan sesuatu yang bersifat rohani. Apa itu? Cinta, kata Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus.

Dalam Autobiografinya dia mengutip kata-kata Yesus, โ€œLagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah ituโ€ (Mat 5:15). Setelah mengutip ayat tersebut, dia berkata, โ€œSaya berpendapat bahwa pelita itu adalah lambang cinta kasih yang harus menerangi, menggembirakan bukan saja mereka yang mengasihi kita, tetapi semua yang ada di dalam rumah itu, tanpa kecuali.โ€

Santa Teresia membantu kita untuk merefleksikan panggilan kita, menjadi cinta yang harus bersinar di depan orang, bahkan yang harus menyinari semua orang, terutama dan pertama-tama semua orang โ€œyang ada di rumah ituโ€, yakni rumah (komunitas) kita masing-masing. Benarkah cahaya dalam diri kita, kasih, bersinar bagi semua anggota keluarga? Adakah anggota keluarga yang tidak kebagian kasih kita karena kita tutupi bagi dia atau karena kita egois? Adakah anggota keluarga yang bahkan dibenci sehingga tidak tinggal โ€œdi rumah ituโ€? Apakah panggilan kita menjadi cinta benar-benar kita hidupi dan hayati? Kita perlu belajar dari orang kudus asal Lisieux, Perancis, ini yang berkata, โ€œDi dalam jantung ibuku Gereja kudus, saya mau menjadi CINTA!โ€ Cinta yang terus bercahaya, menyinari semua orang tanpa kecuali, dan tanpa pilih-pilih.

Lebih lanjut Santa Teresia menegaskan bahwa cinta itu harus diletakkan bukan dalam perasaan, tetapi dalam perbuatan; tepatnya dalam perbuatan yang baik. Seperti ditegaskan oleh Yesus, โ€œDemikianlah hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surgaโ€ (ay. 16).

Jadi, terang yang harus bersinar dari dalam hati kita, orang beriman, murid-murid Yesus, harus tampak dan dapat dirasakan oleh semua orang dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang baik. Kata-kata Yesus tersebut mengingatkan, pertama, bahwa kalau kita bisa berbuat baik atau melakukan hal yang baik, itu pertama-tama bukan karena kita baik, artinya karena jasa kita atau hebatnya kita sehingga kita menjadi sombong, tetapi karena Allah yang Mahabaik yang bekerja di dalam kita.

Kedua, bahwa kalau kita berbuat baik, motivasi mendasar mestinya bukan supaya kita mendapat apresiasi, penghargaan, pujian, kemuliaan diri atau ucapan terima kasih dari orang lain, melainkan demi kemuliaan Allah semata. Itu motivasi yang benar, mendasar, murni dan sejati. Berbahagialah orang yang bisa dan mau berbuat baik demi kemuliaan Allah atau supaya lewat perbuatan baik tersebut orang memuliakan Allah Bapa di surga.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kita perlu belajar berbuat baik. Belajar membiarkan Allah berkuasa sebagai Allah dalam diri kita sehingga kita mampu melakukan perbuatan yang baik. Sebab, saat itulah dan dengan cara itulah cinta kita memancar, bersinar di depan orang. Bukan untuk sombong, tetapi supaya orang lain mengalami cinta Allah melalui cinta kita yang terungkap dalam berbagai bentuk perbuatan baik.

Sekali lagi, para saudara kekasih Tuhan, kita perlu belajar berbuat baik. Tuhan sendiri berkata, โ€œBelajarlah berbuat baikโ€ (Yes 1:17). Berbuat baik dengan motivasi murni, tanpa pamrih, tidak untuk mencari apresiasi, pujian dan ucapan terima kasih itu tidak gampang. Perlu belajar, belajar dan belajar sehingga baik kita maupun orang lain bisa memuliakan Bapa di surga, sumber segala kebaikan. Setiap kali kita melakukan perbuatan yang baik, kita berpartisipasi dalam kebaikan Allah dan itulah panggilan kita. Tuhan memberkati. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.