Jadwal Petugas Tata Tertib

Paroki Meruya

Info Lebih Lanjut

GEMA Newsletter

Gereja Maria Kusuma Karmel dalam Berita

Info Lebih Lanjut

Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Jumat 24 Mei 2024

Bacaan Liturgis – Pekan Biasa VII, Jumat, 24 Mei 2024

  • Bacaan Pertama: Yakobus 5:9-12

  • Mazmur Tanggapan: Tuhan itu pengasih dan penyayang.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2.3-4.8-9.11-12

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Markus 10:1-12

Renungan Singkat : BERTEKUN

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, bertekun adalah sebuah keutamaan hidup. Apa itu bertekun? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bertekun artinya berkeras hati dan sungguh-sungguh. Misalnya, Pak In Jing, bukan nama sebenarnya, berkeras hati atau mempunyai kemauan keras dan sungguh-sungguh dalam bekerja dan memulai usaha mikro (UMKM). Ia melakukannya demi menopang ekonomi keluarga dan terutama untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

Selain itu, bertekun juga berarti tetap berpegang teguh pada sesuatu. Misalnya, Om Yusuf Setyo dan Oma Maria Rahayu, keduanya bukan nama sebenarnya, tetap berpegang teguh pada janji perkawinan yang mereka ucapkan 50 tahun yang lalu. Hingga kini mereka tampak bahagia serta selalu menjadi kegembiraan bagi anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Rasul Yakobus menyebut para nabi yang telah berbicara dalam nama Tuhan dan selalu memberi teladan dalam hal penderitaan dan kesabaran sebagai orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia karena bertekun dan sabar ketika harus menghadapi penderitaan. Rasul Yakobus memberi contoh, “Kalian telah mendengar ketekunan Ayub dan kalian telah tahu apa yang akhirnya disediakan Tuhan yang Maha Penyayang dan penuh belas kasih” (Yak 5:11b).

Ketika menghadapi berbagai pencobaan, Ayub berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayb 1:21). Hebatnya Ayub, dalam semuanya itu dia tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat kurang tepat (ay. 22). Di sinilah letak kesalehan dan kesabaran Ayub dalam menghadapi berbagai peristiwa yang menimpa hidup dan keluarganya.

Suatu saat istri Ayub berkata, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayb 2:9). Kata-kata sang istri ini pun merupakan bagian dari pencobaan yang harus dia hadapi dengan tekun dan sabar. Lantas apa jawaban Ayub, suaminya? Ia menjawab pertanyaan istrinya, “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima apa yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (ay. 10a). Ayub sungguh orang yang saleh; itulah sebabnya dia tetap bertekun dan sabar. Bahkan, dalam semuanya itu dia tidak berbuat dosa dengan bibirnya (ay. 10b). Sangat tepat jika refren Mazmur Tanggapan diambil dari Mzm 103:8 yang berbunyi, “Tuhan itu pengasih dan penyayang.” Teks lengkapnya terdapat dalam bait ketiga yang berbunyi, “Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.”

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, keutamaan ketekunan atau bertekun yang berarti tetap teguh pada sesuatu, dalam hal ini tetap teguh pada janji perkawinan, juga perlu mendapat tempat dalam hidup para suami istri. Sebab, seorang pria yang meninggalkan ibu bapanya dan bersatu dengan istrinya sehingga mereka menjadi satu daging, mengemban tugas perutusan yang tidak ringan. Oleh karena itu, kepada orang-orang Farisi Yesus menegaskan, “Pada awal dunia, Allah menjadikan mereka pria dan wanita; karena itu pria meninggalkan ibu bapanya dan bersatu dengan istrinya. Keduanya lalu menjadi satu daging. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia” (Mrk 10:6-9).

Suami istri menjadi satu daging, utuh, tak terpisahkan, tak terceraikan manusia, karena telah dipersatukan Allah. Ini adalah anugerah indah dari Allah yang mesti diterima dan dipelihara demi pengudusan dan keselamatan pasangan. Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Pascasinode Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) mengatakan, “Sakramen Perkawinan bukan sekadar kesepakatan sosial, ritual kosong atau hanya tanda lahiriah dari suatu perjanjian. Sakramen ini adalah hadiah yang diberikan untuk pengudusan dan keselamatan pasangan. Perkawinan adalah suatu panggilan karena merupakan jawaban terhadap panggilan khusus untuk menghayati kasih suami istri sebagai tanda belum sempurna cinta antara Kristus dan Gereja” (AL, No. 72).

Selanjutnya Paus Fransiskus yang memiliki perhatian besar terhadap kehidupan keluarga ini mengatakan, “Makna dan nilai dari kesatuan fisik mereka dinyatakan dalam kata-kata persetujuan, ketika mereka saling menerima dan memberikan diri satu sama lain, untuk berbagi seluruh hidup. Kata-kata itu memberi makna pada hubungan seksual dan membebaskannya dari ambiguitas apa pun. Namun dalam kenyataannya, seluruh kehidupan bersama suami istri, seluruh jaringan hubungan yang mereka bangun di antara mereka, dengan anak-anak dan dunia di sekitar mereka, akan diresapi dan diteguhkan oleh rahmat Sakramen ini yang mengalir dari misteri Inkarnasi dan Paskah, ketika Allah menunjukkan kepenuhan cinta-Nya kepada umat manusia dan secara erat bersatu dengannya. Mereka tidak akan pernah sendirian dengan kekuatan mereka untuk menghadapi tantangan yang muncul. Keduanya dipanggil untuk menghadapi karunia Allah dengan komitmen, kreativitas, ketekunan dan perjuangan sehari-hari” (Ibid., No. 74). Kata-kata Paus Fransiskus ini semoga meneguhkan perjuangan para suami istri dalam keluarga-keluarga Katolik. Dalam seruan tersebut Paus Fransiskus juga menekankan pentingnya keutamaan ketekunan dalam menghadapi karunia Allah berupa panggilan hidup berkeluarga.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan yang pengasih dan penyayang, bertekun dalam menghayati panggilan hidup berkeluarga adalah sebuah keutamaan penting. Ketekunan inilah yang mengantar para suami istri tetap berpegang teguh pada janji perkawinan di mana lewat janji perkawinan, mereka saling menerima dan memberikan diri. Ketekunan pada gilirannya akan mengantar mereka kepada kesetiaan timbal balik seumur hidup. Bertekun sepanjang hidup adalah kebahagiaan para suami istri setia. Selamat bertekun, Tuhan memberkati!

[RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Alleluia!" Oleh Romo Agustinus Ari Pawarto O.Carm