Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Kamis 26 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Hari Kamis, Pekan V Prapaskah, 26 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Kejadian 17:3-9

  • Mazmur Tanggapan: Selama-lamanya Tuhan ingat akan perjanjian-Nya.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 105:4-5.6-7.8-9

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Janganlah keraskan hatimu, tetapi dengarkan suara Tuhan. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 8:51-59

Sebelum Abraham Jadi, Aku Ada

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, peribahasa Latin mengatakan, “Nome nest omen.” Artinya, nama adalah satu pertanda. Seorang teman saya diberi nama Suroji oleh kedua orang tuanya. Ketika saya penasaran dengan nama itu dan bertanya kepadanya tentang arti nama tersebut, dia menjelaskan, bahwa ia diberi nama Suroji karena lahirnya pada 1 Suro (tanggal 1 bulan pertama menurut Kalender Jawa) sehingga sebagai penanda peristiwa penting berupa kelahiran anak dalam keluarga, diberilah nama Suroji. Tak lama kemudian dia dibaptis dengan nama orang kudus Yusuf, sehingga nama lengkapnya menjadi Yusuf Suroji.

Nama adalah satu pertanda. Nama dipilih untuk mengingatkan akan suatu peristiwa penuh makna dalam sejarah kehidupan seorang anak manusia.

Gereja juga mengajarkan bahwa nama mengungkapkan hakikat seseorang, identitas pribadi dan arti kehidupannya (Katekismus Gereja Katolik, No. 203). Selain itu, nama itu serupa ikon pribadi. Sehingga, sebagai tanda martabat orang yang memakainya, nama harus dihargai (Katekismus Gereja Katolik, No. 2158).

Dengan mengambil sikap bersujud ketika Allah menampakkan Diri kepadanya, Allah berfirman kepada Abraham, “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itgu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa” (Kej 17:4-5).

Allah memberi nama baru kepada Abram sehingga namanya bukan lagi Abram, melainkan Abraham. Nama tersebut berarti “bapa sejumlah besar bangsa” atau “bapa banyak bangsa”. Sebenarnya nama itu hanya bentuk variasi dari Abram saja, yang berarti “bapaku (adalah) agung”.

Nama Abraham itu agung. Ia adalah bapa yang agung, karena ia ditetapkan Allah untuk menjadi bapa sejumlah besar bangsa, menjadi bapa banyak bangsa. Ia adalah bapa penerima janji Allah sebagaimana difirmankan-Nya, “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun” (Kej 17:7 dan 9). Selain Abraham sebagai penerima janji Allah, juga semua keturunan yang Allah buat “menjadi bangsa-bangsa” (ay. 6), menjadi penerima dan pembawa janji yang Allah ikrarkan, yang sifatnya kekal.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Abraham sendiri sebagai bapa sejumlah besar bangsa adalah seorang yang beriman. Karena ia “percaya tanpa ragu-ragu” (Rom 4:20), maka Abraham “menjadi bapa secara rohani bagi semua orang yang percaya kepada Allah” (Rom 4:11). Oleh karena itu, Abraham dikenal juga sebagai “bapa semua orang beriman”.

Namun, Allah, yang kepada-Nya Abraham telah percaya, telah “menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita” (Ibr 11:40), yakni rahmat supaya beriman kepada Putra-Nya Yesus “yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr 12:2).

Sayang, orang-orang Yahudi menutup diri rapat-rapat atas “sesuatu yang lebih baik” dari Allah itu. Mereka tidak mau menerima rahmat-Nya supaya percaya kepada Putra-Nya Yesus. Bahkan ketika mereka mendengar kata-kata Yesus (Yoh 8:51), mereka menolak tegas dengan berkata, “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barang siapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Apakah Engkau lebih besar daripada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati! Dengan siapakah Engkau samakan Diri-Mu?” (ay. 52-53).

Begitu kerasnya hati orang-orang Yahudi, sehingga Yesus, Putra Allah, yang menjanjikan hidup abadi, malah dituduh kerasukan setan. Sebuah tuduhan yang sama sekali ngawur, tidak berdasar, dan melawan kebenaran. Tuduhan mereka adalah kesombongan mereka. Kesombongan mereka adalah bukti ketertutupan hati mereka. Ketertutupan hati mereka adalah pemicu tindakan anarkis mereka. Sebab, mereka tega mengambil batu untuk melempari Yesus (ay. 59). Keterlaluan! Tega-teganya mereka!

Saudara-saudari, sebagai orang-orang yang percaya kepada Allah, yang melalui Sakramen Pembaptisan menjadi anak-anak-Nya dan percaya kepada Putra-Nya Yesus sehingga menjadi murid-murid-Nya, mari kita sungguh-sungguh hidup dalam iman. Selain hidup dalam iman akan Allah, juga hidup dalam iman akan Putra-Nya Yesus yang menjanjikan hidup yang kekal. Sebab, kata Yesus, “Setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:26). Untuk itu, mari kita setia kepada Yesus, yang hari ini berkata, “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku ada” (Yoh 8:58). [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pertobatan untuk merawat bumi, Rumah kita bersama" Oleh RP Agustinus Ari Pawarto, O.Carm