Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Mingguan

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (setiap Sabtu Pertama setiap bulan)

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Rabu 23 September 2026

Bacaan Liturgis – PW Santo Pius dari Pietrelcina (Padre Pio), Rabu, 23 September 2026

  • Bacaan Pertama: Kitab Amsal 30:5-9

  • Mazmur Tanggapan: Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah pelita bagi langkahku.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29.72.89.101.104.163

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 9:1-6

Mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini Gereja merayakan peringatan Santo Pio atau biasa disebut Santo Padre Pio. Ia lahir di Pietrelcina, Italia, pada 25 Mei 1887 dan diberi nama Francesco Forgione. Setelah usia 16 tahun (1903), ia meninggalkan keluarga dan masuk ke Biara Kapusin (OFM Cap) dan memakai nama biara: Pius atau Pio (Italia).

Ketika Pio masih mengenyam pendidikan calon imam, ia menderita sakit keras dan berada dalam bahaya mati. Oleh karena itu, ia ditahbiskan menjadi imam lebih cepat dari seharusnya, yakni pada usia 23 tahun, tepatnya pada tahun 1910.

Tak lama kemudian, tepatnya pada 7 September 1911, Padre Pio muda mengalami stigmata pada tubuhnya. Karena ia takut akan kejadian ini, pergilah ia kepada Msgr. Salvatore Panullo, yang adalah seorang Pastor Paroki Pietrelcina, agar didoakan. Ia pun kemudian didoakan dan luka-luka stigmata itu hilang.

Ketika Padre Pio sedang menggunakan waktu pribadinya untuk berdoa seorang diri di kapel, sebuah kapel tua di biara tempat dia tinggal, ia mengalami stigmata lagi. Hal itu terjadi tepatnya pada 20 September 1918, 8 tahun dalam hidup imamatnya. Luka-luka itu berada di tangan kiri dan kanan, juga di kedua kaki dan lambungnya, persis seperti kelima luka yang dialami Yesus di salib. Namanya luka, kelima luka tersebut mengeluarkan darah tetapi dengan bau harum mewangi.

Padre Pio adalah imam pertama yang menerima stigmata Yesus. Stigmata ini menjadi bagian dari penderitaan yang harus dialami oleh Padre Pio sampai akhir hidupnya, pada 23 September 1968. Paus Yohanes Paulus II memberi gelar Beato pada 2 Mei 1999 dan kemudian menyatakannya sebagai orang kudus (Santo) pada 16 Juni 2002, atau 20 tahun silam.

Saudara-saudari, imam dan biarawan Kapusin ini meski menerima stigmata Yesus dan tidak luput dari derita karenanya, juga berkat rahmat tahbisannya dia menerima kuasa seperti yang Yesus berikan kepada para murid-Nya, yakni kuasa β€œuntuk menyembuhkan penyakit-penyakit” (Luk 9:1). Banyak orang datang kepadanya, untuk merayakan Ekaristi bersamanya, untuk merayakan Sakramen Tobat dan juga untuk mendapatkan pelayanan doa. Orang-orang sakit minta didoakan olehnya dan mengalami kesembuhan dari berbagai penyakit mereka.

Dengan demikian, ia mengambil bagian dalam misi Yesus. Ia β€œmemberitakan Injil serta menyembuhkan orang sakit” (ay. 6). Inilah sebagian dari misi Yesus yang ia lakukan dalam kesehariannya.

Para saudara, mewujudkan misi Yesus sejatinya adalah tugas setiap pengikut Yesus. Khususnya melalui Sakramen Krisma, kita diutus untuk mengambil bagian dalam misi Yesus, misi keselamatan bagi banyak jiwa. Pesan Yesus, β€œJangan membawa apa-apa dalam perjalanan. Jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju” (ay. 3).

Apa maksud Yesus dengan peringatan dan larangan tersebut? Apakah Dia ingin kita sengsara dan mengalami berbagai kendala dalam perutusan? Inilah salah satu cara Yesus membentuk karakter para murid-Nya. Yesus ingin agar para murid-Nya, dulu dan sekarang, tidak mengandalkan diri sendiri. Kita diajar supaya mengandalkan Allah dan kuasa-Nya.

Dengan istilah lain, supaya kita percaya dan lebih mengandalkan pada penyelenggaraan ilahi ketimbang mengandalkan kekuatan sendiri yang sangat terbatas dan bisa membuat kita gagal. Itulah sebabnya Yesus memberikan tenaga dan kuasa kepada para utusan-Nya (Luk 9:1).

Jika Yesus memberikan tenaga dan kuasa kepada para murid-Nya, itu karena Dia tahu bahwa tanpa tenaga dan kuasa yang dari pada-Nya, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Persis yang Yesus ingatkan ketika Ia berbicara tentang pokok anggur yang benar, β€œSebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5).

Pribadi Yesus dan kuasa-Nya itu menentukan hidup, pekerjaan dan perutusan seseorang. Maka, dengan hati terbuka kita menerima tenaga dan kuasa dari pada-Nya. Seperti dialami oleh Rasul Paulus, β€œSegala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13). Paulus mengandalkan Tuhan dan kekuatan yang mengalir dari pada-Nya.

Karena Tuhan adalah sumber kekuatan dalam menanggung segala perkara, maka layaklah jika kita senantiasa berlindung kepada-Nya. Sebab, β€œTuhan itu perisai bagi orang-orang yang berlindung kepada-Nya” (Ams 30:5), demikian yang dapat kita baca dari bacaan pertama.

Para saudara sekalian, mari kita hidup, bekerja dan terus berusaha mewujudkan misi Yesus yang juga adalah misi Gereja. Caranya, dengan mengandalkan penyelenggaraan ilahi dan selalu berlindung kepada-Nya. Tuhan memberkati! [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.