Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Selasa 31 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Pekan Suci, Selasa, 31 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Yesaya 49:1-6

  • Mazmur Tanggapan: Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu, ya Tuhan.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15.17

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Salam, ya Raja kami yang setia kepada Bapa; Engkau dibawa untuk disalibkan, tidak membuka mulut seperti domba yang dibawa ke pembantaian.Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 13:21-33.36-38

Jangan Seperti Yudas Iskariot

Saudari-saudara yang dikasihi Tuhan, salah satu dari kedua belas murid Yesus yang dipanggil sesuai dengan kehendak-Nya untuk menyertai Dia adalah Yudas Iskariot (Mrk 3:13-19), anak Simon Iskariot (Yoh 12:26; lih. 6:71). Iskariot artinya orang dari Kariot, yang dalam daftar nama para rasul selalu disebut terakhir (Mat 10:4; Mrk 3:19; Luk 6:16); itu pun oleh penginjil Matius dan Markus masih diberi keterangan “yang mengkhianati Dia”, sedangkan Lukas memberinya keterangan “yang kemudian menjadi pengkhianat”.

Keterangan “yang mengkhianati Dia” dan “yang kemudian menjadi pengkhianat” telah menjadi cap yang termeterai pada Yudas Iskariot. Karena itu, tidak akan dilupakan orang apa yang telah dia lakukan terhadap Sang Guru.

Penginjil Matius (26:6-16) dan Markus (14:3-11) menunjukkan alasannya, mengapa Yudas Iskariot melakukan hal yang demikian. Alasannya ialah karena runtuhnya iman akan Yesus sebagai Sang Terurapi (bdk. Yoh 12:4-6). Sementara itu, penginjil Yohanes (6:67-71) menunjukkan alasan lain yakni karena ketidakmampuannya untuk memahami misteri pemberian Diri Yesus sebagai roti hidup.

Dalam perjamuan malam terakhir bersama para murid, Yesus secara umum menyinggung pengkhianatan Yudas Iskariot (Yoh 13:10.18-20). Kemudian dalam Injil hari ini Yesus bersaksi, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh 13:21).

Pernyataan Yesus tersebut tentu saja menimbulkan teka-teki di antara para murid Yesus, siapakah yang dimaksudkan-Nya. Yesus pun sengaja tidak menyebut nama. Dengan tidak menyebut nama murid yang Yesus maksudkan, secara simbolis bisa berarti bahwa dia sudah tidak termasuk dalam kawanan domba Yesus (Yoh 10:3). Dengan keputusannya ia telah menolak kasih Yesus dan kehendak-Nya untuk menyertai Dia (Mrk 3:13-14) serta tetap berada dalam bilangan orang-orang pilihan-Nya.

Teka-teki sebenarnya sudah sedikit terkuak ketika Yesus menjawab pertanyaan murid yang duduk dekat Yesus, “Tuhan siapakah itu?” (Yoh 13:25) dan Yesus pun berkata, “Dia adalah orang, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya” (ay. 26).

Sesudah Yesus mencelupkan roti itu ke dalam anggur dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot, ia segera pergi (ay. 30a) sesuai dengan pesan Yesus (ay. 27), agar tidak menimbulkan kecurigaan pada para murid yang lain. Penginjil mencatat bahwa waktu itu hari sudah malam (ay. 30b). Apa artinya hal ini?

Yesus adalah terang dunia (Yoh 8:12; 9:5; bdk. 12:46). Maka, dengan meninggalkan Yesus, berarti Yudas Iskariot meninggalkan terang. Ia memilih berjalan dalam kegelapan malam. Bisa jadi dia sudah lupa akan kata-kata Sang Guru, “Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya” (Yoh 11:10).

Saudara dan saudari, berjalan pada malam hari tanpa ada terang selain kegelapan, sangat membahayakan keselamatan jiwa. Itulah yang terjadi pada Yudas Iskariot. Akhir hidupnya amat menyedihkan. Ia memutuskan untuk menggantung diri (Mat 27:5). Namun, Lukas mencatat lain, bahwa ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar (Kis 1:18). Jika catatan atau keterangan Lukas ini dikaitkan dengan kata-kata Yesus dalam Yoh 11:10 sangat bisa dimengerti bahwa dia kakinya terantuk karena ia berjalan pada malam hari dan terang tidak ada dalam dirinya. Akibat yang dialaminya sangat fatal.

Apa yang dikatakan oleh Lukas barangkali terkesan melebih-lebihkan. Namun demikian, pesannya tetap aktual bahwa berjalan bersama Yesus sang terang dunia jauh lebih menjamin keselamatan daripada berjalan dalam kegelapan bersama iblis. Hidup dalam persekutuan dengan Yesus lebih menyelamatkan daripada meninggalkan Dia dan persekutuan dengan-Nya.

Oleh karena itu, saudara-saudari, Anda dan saya telah menjadi pengikut Yesus. Pada Pekan Suci ini mari kita meneguhkan komitmen kita untuk tetap setia mengikuti Yesus. Jangan goyah. Jangan ragu-ragu. Jangan mengkhianati Yesus. Jangan meninggalkan Yesus dan Gereja-Nya. Jangan seperti Yudas Iskariot yang telah menjadi pengkhianat Yesus. Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat Anda dan saya. Mari kita setia mengikuti Dia, sehari demi sehari, dalam segala situasi hidup kita setiap hari, untuk selama-lamanya. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pertobatan untuk merawat bumi, Rumah kita bersama" Oleh RP Agustinus Ari Pawarto, O.Carm