Tentang Gereja Maria Kusuma Karmel

Simbol Paroki

Logo & Makna

Pengantar

Gereja Maria Kusuma Karmel, Paroki Meruya Selatan, Jakarta Barat, menggambarkan simbol cita-citanya dalam bentuk logo. Bentuk logo dapat kita lihat di tengah tulisan ini. Setiap bagian logo mengungkapkan makna tertentu.

Bintang

Duabelas bintang segi enam adalah simbol keduabelas Rasul. Mereka adalah dasar iman yang diwarisi dan diwartakan dalam kerasulan Gereja Maria Kusuma Karmel.

Perisai

Perisai dengan tiga bintang segi enam diambil dari lambang Ordo Karmel, yang mendapatkan perlindungan rohani dari Bunda Maria, Nabi Elia, dan Nabi Elisa. Arsiran warna hitam berbentuk segitiga adalah simbol gunung Karmel, tempat Ordo Karmel berasal, dengan menghidupi tiga spiritualitas, yaitu doa, persaudaraan, dan pelayanan di tengah umat.

Ranting

Dua ranting daun zaitun adalah simbol damai-sejahtera. Keseimbangan antara damai dengan Tuhan dan sesama, suatu penghayatan hukum cinta kasih.

Mahkota dan Salib

Mahkota dan salib adalah simbol Kristus yang disalibkan dan menjadi Raja kasih yang merajai kehidupan kita.

Kitab Suci

Kitab Suci yang terbuka adalah simbol Firman Allah yang menjadi sumber makanan rohani sehari-hari bagi kita, sebagaimana Yesus sendiri yang makanan-Nya ialah melaksanakan kehendak Bapa (Yoh 4:34).

Sibori

Sibori adalah simbol kurban darah Kristus yang dicurahkan demi pengampunan dosa, yang kita rayakan dalam Ekaristi. Itulah sumber makanan rohani bagi, selain Firman Allah.

Sinar Samping

Tujuh sinar di samping kiri sibori adalah simbol tujuh sakramen Gereja (Baptis, Krisma, Ekaristi, Rekonsiliasi, Pengurapan Orang Sakit, Perkawinan, dan Tahbisan); dan tujuh sinar di samping kanan sibori adalah simbol tujuh karunia Roh Kudus (Hikmat, Pengertian, Keperkasaan, Nasihat, Pengenalan akan Allah, Kesalehan, Takut akan Allah).

Sinar Atas

Sembilan sinar di atas mahkota melambangkan sembilan buah Roh, yaitu kasih, sukacita, dan damai sejahtera; kesabaran, kemurahan hati, dan kebaikan; kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (bdk. Gal 5:22).

Refleksi Teologis

Logo dan Bentuk Bangunan Gereja

Pilihan “logo” dan “bentuk bangunan gereja” adalah symbol; dan simbol adalah bahasa. Dalam kehidupan Gereja digunakan aneka macam simbol, karena ungkapan-ungkapan kebenaran iman tidak seluruhnya bisa dibahasakan secara lisan.

Simbolisasi Gedung Gereja

Gereja sebagai umat Allah disimbolkan juga dalam bentuk bangunan gedung. Gedung Gereja Maria Kusuma Karmel dibangun dengan perencanaan yang matang. Perlu dicatat beberapa orang yang terlibat dalam pembangunan, yakni: Ir. Ign. Purwoko Raharjo (arsitektur), Ir. Lou Kin Kok (bidang struktur), Ir. Agus Sudjadi (bidang elektrikal dan mekanikal), Ir. Vincentius Winarko dan Ir. Ferry Gunadi (koordinator pembangunan fisik), dan Ir. Amin Jusuf (bidang ventilasi).

Selain hal-hal umum yang biasa ada dalam pembangunan gedung gereja Katolik, seperti mimbar, altar, tabernakel; ada beberapa hal yang sengaja direncanakan secara khusus.

Bentuk Bangunan

Bentuk seluruh bangunan menyerupai kemah. Makna simbolisasi yang terkandung di dalamnya adalah kemah Allah yang tinggal di tengah-tengah umat, sebagaimana dikatakan dalam Kel 36:8-38. Selain itu, bangunan tersebut juga menyerupai bentuk gunung. Maknanya mengacu pada gunung Karmel, sebab para gembala yang diberi tugas melaksanakan pembangunan tersebut berasal dari Ordo Karmel (biasa disingkat: O,Carm).

Interior

Interior berbentuk setengah lingkaran. Makna yang terkandung di dalamnya adalah Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus bersama para murid-Nya (Luk 22:14-23). Yesus duduk di tengah-tengah para murid yang mengelilingi-Nya, dihadirkan kembali dalam Perayaan Ekaristi, dimana posisi imam di tengah umat; dan umat duduk dekat mengelilingi imamnya.

Tiang

Kedua tiang penyangga yang besar dan kokoh berada di samping kiri-kanan salib. Makna simbolis yang terkandung di dalamnya adalah dua tokoh yang menjadi sokoguru utama Gereja Perdana, yaitu Santo Petrus dan Santo Paulus.

Maria Kusuma Karmel

Spiritualitas Pelindung

Tak ada dokumen tertulis yang menjelaskan siapa sebenarnya pencetus nama pelindung Gereja “Maria Kusuma Karmel”. Dalam Buku Kenangan Peresmian Gereja, 02 April 1995, ditemukan sedikit catatan bahwa nama semula yang dipilih adalah “Kusuma Karmel”, tetapi kemudian Mgr. Leo Soekoto, SJ. sebagai Uskup KAJ pada waktu itu, menambahkan kata “Maria”, sehingga menjadi “Maria Kusuma Karmel”. Pada 1988, ketika dibentuk Panitia Persiapan Pembangunan Gereja, “Maria Kusuma Karmel” sudah digunakan untuk nama kepanitiaan tersebut. Pada 05 Agustus 1990, Rm. R.Hadisusanto, O.Carm sebagai Pjs. Ketua Dewan Paroki MBK, dengan Surat Keputusan Dewan Paroki Maria Bunda Karmel, no.004/SKEP/DP-MBK/1990, mengukuhkan Panitia Pembangunan Gereja Maria Kusuma Karmel dalam perayaan Ekaristi dan upacara pemberkatan.

Gereja Maria Bunda Karmel, Paroki Tomang adalah “ibunda” Gereja Maria Kusuma Karmel, Paroki Meruya. Kedua Paroki ini digembalakan oleh para imam dari Ordo Karmel (O,Carm), yang biasa disapa “romo-romo Karmelit”. Ordo Karmel dikenal sebagai Ordo Maria. Nama resmi Ordo Karmel adalah Ordo Fratrum Beatissimae Mariae Virginis de Monte Carmelo (Ordo Para Saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel), yang rupanya terinspirasi dari kapel yang didirikan para Karmelit Awali di Gunung Karmel, Tanah Suci, untuk dipersembahkan kepada Bunda Maria. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa para Karmelit telah memilih Maria sebagai Pelindung.

Pesta Pelindung

  • Pertama, “kunjungan Bunda Maria” (yang ditandai dengan perarakan patung Maria Kusuma Karmel) ke setiap wilayah. Pada saat kunjungan, para pengurus wilayah dan seorang romo mengantar “Maria” dari wilayah satu ke wilayah berikutnya. Kesempatan ini digunakan oleh Romo Karmelit untuk menjelaskan spiritualitas Maria Kusuma Karmel, yang menjadi pelindung Paroki.
  • Kedua, Misa Triduum, dan Misa Meriah pada puncak perayaan. Perayaan Misa Triduum digunakan sebagai kesempatan untuk mensyukuri rahmat Allah yang dianugerahkan kepada seluruh umat, mulai dari fasilitas fisik (gedung gereja, aula, poliklinik, lahan parkir, dan sejenisnya), perkembangan jumlah umat (segi kuantitas dan kualitas kehidupan iman), hingga anugerah komunitas-komunitas rohani yang menjadi wadah pelayanan dan pembinaan umat. Ada puluhan komunitas doa dan organisasi Gerejani.
  • Ketiga, makan bersama (perjamuan agape) dengan aneka hiburan dan pertunjukan dari umat dan untuk umat. Semua itu menjadi ungkapan devosional umat MKK kepada Maria Kusuma Karmel.

Maria dan Yesus, Putranya

Dalam sejarah Ordo Karmel, devosi marial berkembang berkat ketekunan refleksi, studi, meditasi, dan pengalaman kontemplasi dalam doa pribadi. Seni lukisan La Bruna (Santa Perawan Maria Coklat) di Napoli, menunjukkan getaran kelembutan relasi yang sangat akrab antara Maria dan Putra yang digendongnya. Devosi Ordo Karmel pada Maria tidak pernah dipisahkan dari peranan Yesus, Putranya. Itulah devosi yang sehat dan sejati. Selain mengikuti perayaan tentang Maria menurut ketentuan kalender Liturgi Gereja, Ordo Karmel juga memiliki doa-doa khusus, peringatan-peringatan, pesta, dan hari raya dengan doa-doa prefasi misa khusus yang luar biasa.

Lagu “Flos Carmeli”

Dalam tradisi Karmel, Maria diidentikkan dengan keibuan yang amat lembut. Dalam berbagai kesempatan yang terungkap dalam pengalaman doa, para Karmelit merasakan kehadiran Maria; kadang sebagai “bunda”, kadang sebagai “saudari”, kadang sebagai “pelindung”, kadang sebagai “model-teladan”. Ada gelar sangat populer di kalangan Karmelit bagi Maria, yaitu Maria sebagai “Bunda dan Keindahan Karmel” (Mater et Décor Carmeli). Lagu “Flos Carmeli”, yang menjadi lagu wajib para Karmelit, diwarisi juga oleh umat MKK.

FLOS CARMELI, VITIS FLORIGERA. SPLENDOR CAELI, VIRGO PUERPERA. SINGULARIS.
MATER MITIS, SED VIRI NESCIA, CARMELITIS ESTO PROPITIA. STELLA MARIS.

KUSUMA KARMEL, ANGGUR YANG BERBUNGA. CAHYA SORGA, PRAWAN LAGI BUNDA. TIADA TARA. BUNDA ALLAH, LEMBUT TANPA NODA, SUDILAH BUNDA LINDUNGI PUTRANDA. BINTANG SAMUDRA.

Dengan menjadikan nyanyian “Flos Carmeli” sebagai bagian dari kekayaan rohani, maka Gereja MKK memandang Maria: Pertama, sebagai “Pelindung”. Pada abad pertengahan, konsep “pelindung” menunjukkan relasi timbal balik antara tuan yang melindungi hamba-hambanya; dan para hamba mengurus kepentingan tuannya. Kedua, sebagai “Bunda”, bahkan “Bunda dan Keindahan”. Ketiga, sebagai “saudari”. Konsep “saudari” ditemukan dalam ajaran Paus Paulus VI tentang Maria yang juga sama seperti manusia lainnya, pernah mengalami masa-masa kegelapan iman, nyaris kehilangan harapan, dan saat-saat kekeringan cinta. Namun, justru kenyataan itulah yang membuat kita merasa dekat dengan Maria, dalam suka duka pergulatan hidup iman. Keempat, sebagai “Perawan Murni”. Secara khusus, Maria dilihat sebagai Perawan Murni, yang menyimpan sabda Allah dalam hati dan merenungkannya (Luk 2:19.51). Hati Maria murni, tak terbagi. Kelima, sebagai “Model-Teladan”. Dengan memandang Maria sebagai “model-teladan”, kita memperhatikan apa yang dikatakan dan dilakukan Maria, dalam seluruh pola pikir, sikap dan tingkah laku sepanjang hidupnya.

Skapulir Coklat

Tanda khusus devosi terhadap Maria Kusuma Karmel adalah “Skapulir Coklat”, yang sudah menjadi tradisi sejak abad ke-16 (XVI). Dengan tanda skapulir ini, devosi terhadap Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel tersebar luas secara cepat. Skapulir adalah tanda sebagai anggota keluarga Karmel (Familia Carmelitana), yang biasa dikenal dengan “Persaudaraan Skapulir Coklat”; yang juga telah direstui Gereja. Skapulir merupakan tanda cinta keibuan Maria, yang mengungkapkan keakraban relasi Maria dengan umat beriman yang mengenakannya.

Refleksi Teologis

Pelindung Gereja

Pelindung Gereja “Maria Kusuma Karmel” adalah tanda keikutsertaan seluruh umat Paroki dalam spiritualitas Bunda Maria, khususnya pengalaman sejarah Ordo Karmel.