Majalah Kusuma

Majalah Kusuma

EDISI TERBARU

Laskar Tanna Menjadi Garda Terdepan

Laskar Tanna Menjadi Garda Terdepan

Majalah Kusuma Edisi 40 (Agustus 2026) menyajikan serangkaian kegiatan, karya pelayanan, dan evaluasi setengah masa bakti kepengurusan Wanita Katolik RI DPC Maria Kusuma Karmel (MKK) Meruya. Fokus utama edisi ini menyoroti pembentukan dan sosialisasi program Laskar Tanna sebagai langkah nyata pencegahan serta pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan, anak, dan kelompok rentan. Selain itu, dilaporkan pula pencapaian program kerja cabang dan ranting, mulai dari pelatihan kewirausahaan, kegiatan literasi/kesehatan, hingga kegiatan Ziarah dan Ibadat Jalan Salib. Seluruh jajaran WKRI diajak untuk semakin mempererat jejaring kerja sama dengan Gereja, pemerintah, serta masyarakat demi mewujudkan kepedulian sosial yang nyata dan berkelanjutan.

Langkah Kecil Merawat Bumi dan Lingkungan

Selamat Paskah! Majalah Kusuma kembali hadir menyapa umat di tahun 2026. Sejalan dengan ARDAS KAJ 2026 bertema “Keutuhan Alam Ciptaan”, kita diajak untuk semakin peduli dan mengambil langkah nyata dalam merawat bumi serta lingkungan hidup. Upaya ini tidak hanya diwujudkan di lingkungan Gereja, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari kehidupan setiap keluarga sebagai bentuk tanggung jawab bersama terhadap ciptaan Tuhan. Beragam aksi sederhana dapat dimulai dari lingkungan keluarga, seperti melakukan pemilahan sampah rumah tangga hingga mendukung ekonomi sirkular melalui pengolahan limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Salah satu contohnya dilakukan oleh bidang pendidikan WKRI yang mengumpulkan minyak jelantah untuk didaur ulang menjadi sabun dan lilin bernilai guna. Mari bersama-sama menghayati semangat menjaga keutuhan alam ciptaan melalui tindakan nyata sehari-hari, agar bumi yang indah ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

TERUS BERAKTIVITAS, HINDARI SARKOPENIA

Ada sebagian kita mungkin berpikir, kok program kerjanya itu-itu saja, kurang bervariasi sehingga membuat bosan. Maka perlu di­ pikirkan untuk membuat program kerja organisasi di setiap bidang yang kreatif. Artinya, program kerja yang mampu menghasilkan ide-ide baru, bermanfaat, dan inovatif untuk mencapai tujuan organisasi, mengembangkan po­ tensi Anggota, dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekitar, bukan sekadar ide tanpa tujuan. Kegiatan yang disusun secara kreatif, dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan kolaborasi antar Anggota, juga membantu organisasi untuk te­tap relevan. Di sisi lain, Anggota dapat mengembangkan bakat dan keterampilan mereka, serta membangun karakter yang positif seperti rasa tanggung jawab dan empati. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun program kerja organisasi yang efektif dan berdampak, seperti memahami esensi dan tujuan program, menentukan visi misi organisasi sebagai kompas utama, menganalisa kebutuhan Anggota dan lingkungan, merancang program yang variatif dan inovatif, susun anggaran, bentuk panitia, publikasi dan promosi, pelaksanaan, laporan dan evaluasi. Contoh program yang sederhana: gathering Anggota, team building outbound, mengembangkan teknologi yang kreatif, mengembangkan keterampilan kewirausahaan dan kreativitas dalam berbisnis, meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam isu lingkungan melalui video edukasi dan masih banyak lagi. Kreativitas dan inovasi bagi organisasi sangat penting untuk daya saing, sebuah kebutuhan yang sangat vital, karena kreativitas menjadi tulang punggung bagi kelangsungan hidup organisasi. Sedang inovasi merupakan kemampuan untuk menerapkan solusi-solusi kreatif terhadap masalah dan peluang guna menumbuhkan usaha. Kreativitas dan inovasi merupakan kata yang saling terkait dan saling melengkapi. Ciptakan suasana diskusi terbuka agar Anggota merasa nyaman berbagi ide tanpa takut dihakimi

Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang MKK Meruya Masa Bakti 2025 - 2028

Tiga dekade kita alami, dan setiap akan habis masa bakti, ada “kegelisahan,” namun puji syukur, karena Tuhan sendiri yang memilih Pimpinan dan Pengurus, sehingga pelayanan melalui Wanita Katolik RI (WKRI) dapat terus berlang- sung. Semua itu bisa berhasil dengan baik, karena kese- diaan Pengurus dan Anggota untuk melayani, rasa cinta, setia dan rasa memiliki pada WKRI. Normal bila pertama- tama ada rasa “keberatan,” tapi, bila Tuhan memanggil, pasti diberi kemampuan, dan Tuhan tidak akan meninggalkan kita.

Bernadeth Evy Bayu Damarlati - Ketua Presidium WKRI DPD Jakarta

Mengambail salah satu contoh yaitu mengantar paket makanan tambahan setiap bulan ke Puskesmas untuk dilanjutkan ke posyandu- posyandu (pos pelayanan ter- padu yang di antaranya memberi perhatian pada bayi dan balita). Suatu tugas yang dapat dianggap sebagai tugas ringan atau tugas yang membebani. Namun, masih jauh dari makna suatu pelayanan, yang lebih memerlukan hati. Kegiatan Wanita Katolik RI Cabang MKK ini sudah ber- langsung sangat lama dengan dukungan dana dari PSE Paroki Meruya dan melibatkan Ranting- ranting untuk distribusinya. Ke- mudian sejak April 2023, mulai ditambah dengan memperhatikan posbindu-posbindu (pos pembi- naan terpadu di antaranya untuk menanggulangi penyakit tidak menular) dengan memberikan strip pemeriksaan darah. Dari ke- giatan itu, kita bertemu mulai dari satpam yang berjaga, kader, bidan bahkan dokter kepala Puskesmas. Tugas perutusan yang memberi kesaksian sebagai pengikut Kristus, yang lemah lembut dan rendah hati. Dapat membina hubungan baik bila dilakukan dengan setia dan menjadikan kita tidak saling berprasangka satu sama lain.

Elly Kusumawati Handoko - Ketua Presidium WKRI DPP

Dalam organisasi Wanita Katolik RI, Kongres merupakan forum musyawarah tertinggi di tingkat nasional bagi seluruh Anggota, yang memiliki kekuasaan tertinggi melalui sistem perwakilan, dan diselenggarakan lima tahun sekali. Kongres XXI Wanita Katolik RI diselenggarakan di Hotel Mercure Ancol Jakarta, 26-29 Oktober 2023. Kehadiran Utusan dan Peninjau dari seluruh provinsi di Indonesia menjadi penting karena mereka harus menyampaikan mandat dan usulan dari daerah masing-masing pada sidang-sidang. Hadir 36 Dewan Pengurus Daerah (DPD) yaitu Sumatera Utara, Sibolga, Sumatra Barat, Riau, Keuskupan Pangkalpinang, Sumatra Selatan, Lampung, Jakarta, Keuskupan Bogor, Jawa Barat, Keuskupan Purwokerto, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Keuskupan Malang, Bali-NTB, NTT, Keuskupan Ende, Keuskupan Maumere, Keuskupan Atambua, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Keuskupan Tanjung Selor, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Selawesi Tenggara, Maluku, Keuskupan Jayapura Provinsi Papua, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Agung Merauke, Papua Barat, Keuskupan Timika, Keuskupan Agats. Sungguh hal yang menggembirakan, bahwa untuk mencapai kata mufakat, semua perwakilan tetap setia mengikuti sidang-sidang sampai akhir. Apa yang kita lihat dan pelajari dari forum musyawarah ini? Rasa memiliki organisasi yang begitu besar, sehingga berani menyampaikan pendapat/usulan, berani mengkritisi kebijakan, demi perbaikan untuk kemajuan bersama. Antusias dari perwakilan seluruh Indonesia dalam ambil bagian dan memikirkan bersama-sama guna mewujudkan Visi Misi Wanita Katolik RI sesuai tema Kongres XXI ini.

RP A. Ari Pawarto, O.Carm Mengakarkan dan Membumikan Laudato Si

Menerima tugas perutusan sebagai Ketua atau Pengurus dalam komunitas, khususnya organisasi Wanita Katolik RI adalah ungkapan iman kepercayaan bahwa “DIA yang memilih aku”. Bagaimana bekerja dalam mengemban tugas dan tanggung jawab, merupakan bukti nyata bahwa kita mau memberi yang terbaik dalam kesempatan yang DIA berikan. Lalu… apa kiat yang harus dilakukan agar dapat bekerja secara maksimal selama masa bakti? Upaya untuk membenahi diri adalah dengan belajar dan berani berubah.

Titik Sugianti - Pelaku UMKM Yang Gigih

Teman-teman Wanita Katolik RI Terkasih, seiring sebelas ranting sudah berganti pengurus, tentunya teman-teman siap melayani dengan semangat baru, ide-ide/kreativitas yang cemerlang dan inovatif. Pergantian pengurus dan program karya semua berjalan lancar berkat kerja sama, kerja keras, semangat dan komitmen dari Pengurus periode sebelumnya.Kasih, kepedulian dan tindakan nyata telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada martabat manusia. Semoga menjadi berkat bagi keluarga, Gereja, dan masyarakat.

Oma Frida Martha di Graha Lansia Marfati

Masalah klasik yang sering timbul dan menjadi kekhawatiran dalam setiap organisasi pada umumnya adalah masalah regenerasi dan kaderisasi kepengurusan. Upaya membangkitkan semangat anggota, perempuan muda dalam kepengurusan dan mencari anggota baru dari kalangan kaum muda harus segera dilakukan, mengingat jumlahnya sangat sedikit di Wanita Katolik RI Cabang MKK Meruya. Merangkul generasi muda seyogianya dilakukan sejak dini guna proses regenerasi. Untuk anggota usia muda, hal ini dapat dilakukan dengan cara aktif mengajak, mendorong mereka agar terus terlibat dalam kegiatan/organisasi. Buka ruang dan kesempatan lebar-lebar kepada mereka agar dapat berkreativitas, berkarya, berinovasi, namun tetap didampingi oleh para senior agar tetap terarah sesuai visi misi organisasi. Para senior juga harus berani dan tidak pelit mentransfer ilmu dan pengalaman, tetapi terbuka terhadap pendapat lain.

Pimpinan Wanita Katolik Republik Indonesia

Salah satu tugas RT adalah membantu dalam pelayanan masyarakat yang menjadi tugas pemerintah daerah. Wanita Katolik RI (WKRI) adalah organisasi kemasyarakatan yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945, serta berlandaskan Ajaran Sosial Gereja. Maka perlu perwujudan visi misi dalam karya nyata. Perwujudan itu bisa ke dalam, yaitu dengan pemberdayaan anggota, pelatihan, pembekalan organisasi, kaderisasi, dan lain-lain. Bisa juga ke luar melalui kemitraan dan berjejaring dengan institusi lain, kegiatan kemasyarakatan dan peduli lingkungan seperti ikut mengatasi gizi buruk, Peningkatan Perempuan Usaha Kecil (PPUK), napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya), pendidikan anak jalanan, penyuluhan, kesehatan masyarakat, dan lain-lain, dengan nilai injili mewarnai kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan tersebut: jadilah terang dan garam dunia melalui sikap, perkataan dan perilaku. Ini bisa menjadi motivasi bagi kita untuk terus berbuat baik, terutama membantu yang berkekurangan karena dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Dia Yang Memberi Kekuatan

Teman-teman Wanita Katolik yang terkasih, waktu berjalan begitu cepat, tak terasa masa pandemi sudah berjalan satu setengah tahun lebih. Segala kegiatan kita dibatasi dan pertemuan tatap muka belum dapat terlaksana. Dengan penuh harapan kita menanti pandemi cepat berlalu, agar dapat melaksanakan segala kegiatan seperti semula. Tak disangka gelombang kedua pandemi malah datang menyerbu. Bahkan semakin merajalela di belahan bumi ini, khususnya di Indonesia. Jumlah korban meningkat drastis, rumah sakit penuh tak dapat lagi menampung pasien, keadaan semakin genting. Untuk menekan laju pertumbuhan Covid-19 yang tak terkendali, pemerintah akhirnya mengambil sikap dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat. Ruang gerak kita semakin terbatas!

Karakter Saya Jadi Bertumbuh

Memasuki tahun 2021, virus Corona belum terlihat akan pergi, namun justru bermutasi menjadi lebih menular. Sementara vaksinnya pun masih pro kontra, tetapi hidup mesti berjalan. Lalu, bagaimana kita mesti menjalani hidup ini ? Tidak dapat disangkal lagi bahwa pandemi ini membawa duka bagi banyak keluarga. Dari kalangan tenaga kesehatan, rohaniwan, pejabat pemerintah, masyarakat atas sampai bawah, orang yang tidak kita kenal sampai orang sekitar kita, sehingga kita merasakan semakin tipisnya batas hidup dan mati. Memang, kematian adalah suatu keniscayaan.

Kreativitas di Masa Pandemi

Mewabahnya pandemi Corona yang menghebohkan di awal tahun 2020, merupakan hal baru bagi dunia yang membuat cemas setiap insan di bumi. Namun di balik rasa khawatir, bingung, takut dan sedih, ternyata masih ada seberkas cahaya kegembiraan, kebanggaan ketika melihat kepedulian sebagian rakyat Indonesia terhadap orang yang terdampak Covid-19. Ada yang menyumbang dana melalui komunitas sosial, membuat masker, face shield, cairan antiseptik untuk disumbangkan bagi yang membutuhkan, membeli makanan, snack, yang dijual secara online oleh Anggota WKRI Cabang MKK, Panti Asuhan, Rumah Retret yang saat ini sepi pengunjung, mengusahakan nasi murah di warteg yang disubsidi untuk pengemudi ojol, sopir mikrolet dan orang-orang kecil lainnya. Bahkan ada yang menyediakan makanan kepada tetangga yang sedang dikarantina di rumahnya, menjadi pekerja sosial di rumah sakit, relawan dan lain sebagainya.

Perempuan adalah Tiang Keluarga Untuk Mengubah Dunia

Tahun 2020 dibuka dengan “genangan”. Genangan air (banjir) dan genangan air mata (tangis) sebagian penduduk Jakarta yang terkena imbas, termasuk juga kawasan MKK. Apa yang harus kita perbuat? Ikut-ikutan mentertawakan orang yang kita anggap berwenang? Atau marah-marah? Atau cuek bebek karena merasa tidak terdampak? Tentu TIDAK. Sebagai Anggota Wanita Katolik RI kita sudah dilatih untuk bersyukur dan sabar, bahkan diasah untuk peduli, peka dan membuka hati bagi orang lain yang sedang susah. Kepekaan sosial dan moral akan berbuah pada rasa keadilan dan bela rasa

Syukur 25 Tahun WKRI DPC MKK Meruya

Berhati tulus, berjiwa pelayanan merupakan suatu hal yang harus dikembangkan dan dengan penuh kesadaran ditekuni oleh orang-orang yang berkecimpung di organisasi yang bersifat pelayanan. Namun yang masih sempat diragukan adalah apakah pelayanan itu murni tulus, atau hanya saja menjalankan pekerjaan sebagai pelayan? Setiap orang tentunya akan berbeda-beda karakteristik dan motivasi diri yang mendorong untuk melakukan pelayanan terhadap orang lain.

Keceriaan Dalam Keterbatasan

Pernah kita dengar orang bilang: “Aku kurang apa...? Aku sudah pelayanan….” Begitulah, kadang orang mengukur pelayanannya dengan besarnya dana/bantuan atau banyaknya waktu yang dikorbankan untuk melayani. Kita harus berterimakasih atas pelayanannya, kita membutuhkan dia. Namun pelayanannya masih bisa ditingkatkan menjadi Pelayanan Yang Berhikmat, sehingga hasilnya bisa lebih bermanfaat, baik itu untuk diri sendiri maupun bagi yang dilayani. Kuncinya adalah mohon hikmat dari Roh Kudus. Dengan bantuan Roh Kudus, kita bisa disiplin diri, melayani dengan hati dan semangat, walaupun di saat kita sedang ingin menikmati Me Time.

Kita Menyatukan

Majalah Kusuma Edisi 24 mengusung tema utama "Kita Menyatukan" yang sejalan dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta tahun 2018 sebagai Tahun Persatuan. Edisi ini menyoroti suksesi kepemimpinan Wanita Katolik RI (WKRI) DPC MKK Meruya periode 2018–2021 yang terpilih melalui rangkaian kegiatan Rekoleksi, Rapat Antar Ranting, dan Konferensi Cabang. Pembaca juga diajak mengenal profil Romo Yosef Arnoldus Devanto, O.Carm, yang membagikan perjalanan panggilan imamatnya hingga pelayanannya di Paroki Meruya, Gereja Maria Kusuma Karmel. Selain itu, terdapat pula edukasi organisasi mengenai pentingnya penyusunan rencana kerja yang terarah demi keberhasilan program kerja kategorial. Seluruh sajian ini dibalut pesan reflektif untuk mengajak setiap anggota keluar dari zona nyaman dan melayani sesama dengan semangat pantang menyerah.

Kita Bhinneka, Kita Melayani

Edisi 23 kali ini menyajikan laporan kegiatan dan panduan keterlibatan sosial Wanita Katolik RI (WKRI) Cabang MKK Meruya dengan mengusung semangat keberagaman dan keberadaan di tengah masyarakat. Majalah ini menyoroti refleksi pastoral "Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia", kisah profil anggota tertua Oma Margaretha Utami Halim yang genap berusia 93 tahun, serta berbagai aksi nyata seperti bakti sosial di Kapuk Muara dan pelatihan memasak bersama warga sekitar paroki. Melalui berbagai program inklusif dan pembinaan organisasi, ditekankan pentingnya merawat kesatuan, toleransi, serta pemberdayaan perempuan dalam keluarga maupun ruang publik.

Melayani dengan Rendah Hati

Majalah Kusuma Edisi 22 kembali hadir dengan berbagai inspirasi dan informasi seputar karya serta kehidupan Wanita Katolik RI DPC MKK. Edisi kali ini mengangkat sosok Clara Christina Winda, yang dikenal sebagai pribadi yang setia di WKRI, sekaligus menghadirkan berbagai topik menarik seperti team building, pelayanan dengan rendah hati, dan pemanfaatan kamera smartphone secara maksimal. Beragam tulisan di dalamnya tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga mengajak kita untuk terus bertumbuh dalam kebersamaan, pelayanan, dan kreativitas. Jangan lewatkan Majalah Kusuma Edisi 22 dan temukan kisah serta inspirasi yang dapat memperkaya semangat kita dalam berkarya dan melayani.

Umpan dan Kail Perempuan Usaha Kecil

Majalah Kusuma Edisi 21 menandai 10 tahun perjalanan WKRI DPC MKK sebagai media komunikasi, dokumentasi, dan sarana berbagi karya pelayanan. Edisi ini menegaskan bahwa pelayanan WKRI bukan hanya di sekitar altar, tetapi juga hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan sosial, pemberdayaan perempuan, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan. Salah satu highlight utama adalah PPUK (Peningkatan Perempuan Usaha Kecil) yang memberikan pendampingan dan modal usaha bagi perempuan prasejahtera agar dapat berkembang dan mandiri. Melalui Rakorda dan Rakorcab, WKRI juga memperkuat evaluasi organisasi dengan fokus pada regenerasi anggota, kaderisasi, pemberdayaan masyarakat, serta gerakan kepedulian terhadap lingkungan. Secara keseluruhan, edisi ini menggambarkan semangat “melayani, bertumbuh, dan hadir bagi masyarakat”, sekaligus mengajak anggota WKRI untuk terus memperkuat persaudaraan dan karya pelayanan.