Bacaan Liturgis – Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah, 2 Februari 2025
Bacaan Pertama: Maleakhi 3:1-4
Mazmur Tanggapan: Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan.
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7.8.9.10
Bacaan Kedua: Ibrani 2:14-18
Bait Pengantar Injil: Alleluya. Dialah terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain, dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. Alleluya.
Bacaan Injil: Lukas 2:22-40 (Singkat 2:22-32)
Renungan Singkat : Keselamatan yang dari Allah dalam Diri Yesus
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini Gereja merayakan pesta Yesus dipersembahkan kepada Allah di Bait Allah atau Kenisah di Yerusalem. Dalam Peristiwa Gembira dari doa Rosario suci, peristiwa keempat berbunyi, “Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah.”
Peristiwa Gembira tersebut biasanya didoakan pada hari Sabtu dan Senin. Namun, karena pesta Yesus dipersembahkan kepada Allah ini jatuh pada hari Minggu, yang biasanya digunakan Peristiwa Mulia, maka pada hari ini kita bisa menggantinya dengan Peristiwa Gembira. Dengan demikian, misteri yang direnungkan sesuai dengan Injil dan pesta yang dirayakan pada hari ini.
Peristiwa Yesus dipersembahkan di Bait Allah di Yerusalem terjadi pada hari keempat puluh sejak kelahiran-Nya. Saat itu, Maria dan Yusuf, suaminya yang paling murni, memenuhi apa yang ditetapkan dalam hukum Taurat Musa. Mereka pergi ke Bait Allah baik untuk mempersembahkan Anak Yesus kepada Allah maupun untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan.
Saat itu, dengan kasih yang sedemikian besar, Maria mendekap Kanak-kanak Yesus dalam pelukannya. Dengan kepatuhan dan kepasrahan putrawi yang sedemikian besar, Bayi mungil itu membiarkan Diri-Nya digendong oleh ibu-Nya, sementara ibu-Nya mendekapkan Dia kepada hatinya dengan kemesraan yang tanpa batas.
Selanjutnya, Maria, ibu-Nya, menyerahkan Sang Bayi mungil itu ke tangan imam. Dengan demikian, Ia dipersembahkan kepada Bapa sebagai kurban dan persembahan untuk menebus kita dari segala dosa. Imam yang sudah lanjut usia bernama “Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk 2:28-32).

Saudara-saudari seiman, pujian Simeon kepada Allah sungguh luar biasa. Terkesan, Simeon telah menemukan puncak kehidupannya justru pada saat berjumpa dengan Kanak-kanak Yesus, Si Bayi mungil, yang bagi Simeon Dia adalah keselamatan yang dari Allah. Berjumpa dan mengalami keselamatan yang dari Allah dalam Diri Yesus ketika menyambut dan menatang Dia dalam tangannya adalah hal yang terpenting dan kesempatan yang terindah dalam hidupnya. Oleh sebab itu, Simeon menyatakan diri bersedia untuk meninggalkan dunia ini, pergi (baca: mati) dalam damai sejahtera. Bagaimana dengan Anda?
Mata kita telah melihat keselamatan yang dari Allah dalam Diri Yesus. Namun, kita masih lebih senang tinggal di dunia ini, walau hidup susah dan barang-barang kebutuhan hidup tidak lagi murah. Bukankah demikian sikap kita?
Saudara-saudari, dunia memang selalu tampil lebih menarik meskipun tidak pernah menjanjikan yang sejati dan menyelamatkan. Sebab itu, mari kita belajar dari Simeon, seorang yang benar dan saleh hidupnya itu. Ia telah membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus dan diantar oleh-Nya untuk sampai kepada keselamatan yang dari Allah dalam Diri Yesus, sebagai hal yang terpenting dan terindah dalam hidup. Bukankah hal ini yang sesungguhnya dikehendaki Allah?
[RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]