Renungan Harian

Renungan Harian 04 Desember 2025

Bacaan Liturgis – Pekan Adven I, Kamis, 04 Desember 2025

  • Bacaan Pertama: Kitab Yesaya 26:1-6

  • Mazmur Tanggapan: Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1.8-9.19-21. 25-27a

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya. Carilah Tuhan, selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya, selama Ia dekat. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Matius 7: 21. 24-27

Renungan Singkat : Tuhan, Tuhan!

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hujan deras bukan hanya mengakibatkan genangan air di mana-mana. Guyuran hujan deras juga bisa mengakibatkan banjir. Hujan deras disertai angin kencang dalam durasi waktu yang cukup lama bahkan berhari-hari bisa mendatangkan air bah atau banjir bandang disertai tanah longsor.

Itulah yang disebut bencana hidrometeorologi (Kompas, 2/12/2025). Dampak bencana ini sangat dahsyat: Bisa menelan puluhan, ratusan bahkan ribuan korban jiwa, kerusakan atau kerugian materi yang tidak sedikit serta terputusnya infrastruktur jalan dan jembatan yang menghubungkan antardaerah atau provinsi. Infrastruktur yang terputus mengakibatkan warga terisolasi.

Seperti itulah bencana hidrometeorologi, yang terjadi pekan terakhir bulan November kemarin di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Banyak pengamat menilai bahwa bencana tersebut di luar dugaan, sedemikian parah. Hingga Selasa (2/12/2025) pukul 21.00 jumlah korban meninggal di tiga provinsi ini telah mencapai 744 jiwa dan korban hilang tercatat 551 orang (Kompas, 3/12/2025). Bagaimana hal ini bisa terjadi? Benarkah alam atau hujan yang sedemikian deras dan berlangsung lama, berhari-hari, sebagai pemicunya? Benarkah hal ini merupakan masalah anomali cuaca belaka?

Menurut pegiat Kelompok Kajian Kebudayaan “Wanyabala”, Jakarta, Purnawan Andra, dalam artikel “Bencana Produksi Kita Sendiri” mengatakan, “Apa yang terjadi di Sumatera ini seharusnya menjadi momen reflektif, bencana bukan ketidakstabilan emosi bumi, melainkan kegagalan negara dan masyarakat menjaga lanskap hidupnya. Ketika rumah terendam dan kayu gelondongan hanyut, itu adalah indikator tata kelola ruang yang telah melewati batas aman” (Kompas, 03/12/2025).

Para saudara yang dikasihi Tuhan, dalam refleksi saya, ketika bencana hidrometeorologi itu datang secara tiba-tiba, saya bertanya dalam hati, adakah di antara mereka yang berseru, “Tuhan, Tuhan!” atau “Tuhan, Tolong kami, ya Tuhan!”

Seruan “Tuhan, Tuhan!” bisa merupakan sebuah ungkapan iman, sebuah seruan kepada seorang Pribadi bernama Tuhan atau Tuhan Allah, yang diyakini dan diimani sebagai Penolong dan Penyelamat. Sebuah seruan iman yang terungkap karena dirinya menyadari akan adanya Tuhan yang bisa menolong dan menyelamatkan baik pada saat itu maupun di kemudian hari. Itulah sebabnya, Rasul Paulus berkata, “Allah yang satu itu Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Rom 10:12-13). Seruan kepada nama Tuhan yang dilakukan dengan iman membawa kepada keselamatan.

Lantas bagaimana kalau seruan itu tidak dilakukan dengan iman? Bisakah seruan itu membawa kepada keselamatan? Bisakah seruan itu membawa seseorang masuk ke dalam Kerajaan Surga? Hari ini Yesus menjawabnya, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga” (Mat 7:21-23).

Jelas bahwa orang yang melakukan kehendak Bapa di surga, dia akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Apa kehendak Bapa di surga? Salah satu kehendak Bapa adalah agar kita, anak-anak-Nya karena iman dan Pembaptisan mau mendengarkan Putra-Nya Yesus dan melakukannya. Hal ini tampak dalam peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung di mana terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:35). Kehendak Allah, Bapa di surga, jelas yakni mendengarkan Yesus dan, tentu saja, melakukan apa yang diminta-Nya.

Sebaliknya, jika orang mendengarkan perkataan Yesus namun tidak melakukannya, kata Yesus, “Ia sama dengan orang bodoh, yang membangun rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Maka robohlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” (ay. 26-27).

Saudara-saudari, kekasih Tuhan, hari ini kita dihadapkan pada dua pilihan: ingin menjadi orang bijak atau orang bodoh. Kita akan menjadi orang bijak atau orang bodoh ditentukan pada pilihan: Apakah kita mau mendengarkan perkataan Yesus dan melakukannya atau tidak.

Selain itu, apakah kita akan mendengarkan sabda Tuhan atau tidak juga ditentukan oleh pilihan kita: Apakah kita benar-benar mengakui Yesus sebagai Tuhan atau tidak (bdk. 1Kor 12:3). Jika ya, maka seruan “Tuhan, Tuhan!” adalah sebuah seruan iman yang bisa membawa kita ke dalam Kerajaan Surga.

Oleh sebab itu, pada Masa Adven ini mari kita belajar tekun untuk mendengarkan sabda Tuhan dan melakukannya. Mari kita juga menanggapi sabda Tuhan dalam doa; kita menyerukan nama Tuhan dengan penuh iman, sebab Dialah Penolong dan Penyelamat kita. 

[RP Agustinus Ari Pawarto, O.Carm]