Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XIX, Selasa, 09 Agustus 2022
- Bacaan Pertama: Nubuat Yehezkiel 2:8-3:4
- Mazmur Tanggapan: Betapa manis janji Tuhan bagi langit-langitku.
- Ayat Mazmur Tanggapan: Mazmur 119:14.24.72.103.111.131
- Ayat Bait Pengantar Injil: Terimalah beban-Ku dan belajarlah dari pada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati. Alleluya.
- Bacaan Injil: Matius 18:1-5.10.12-14
Renungan Singkat - Kita Semua Adalah Anak
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, makhluk secitra dengan Allah yang paling rapuh adalah anak. Apalagi kalau anak ini masih dalam rahim sang ibu. Ia berada dalam posisi amat rapuh, sangat rentan akan gangguan untuk hidup dan sehat. Dalam hal ini, posisi sang ibu kandung amat menentukan.
Jika sang ibu memandang anak sebagai anugerah, maka ia melewati hari-hari pengandungan dengan sukacita, gembira dan bahagia. Hati penuh sukacita, gembira dan bahagia itu akan mencapai puncaknya saat kelahiran anaknya. Lain halnya, jika sang ibu tidak memandang anak sebagai anugerah, tetapi sebagai beban dan siksaan, maka sang janin sangat rentan akan derita dan kematian.
Dalam Seruan Apostolik Sukacita Kasih, Paus Fransiskus mengatakan, Anak-anak adalah karunia. Setiap anak adalah unik dan tidak tergantikan… Kita mengasihi anak-anak kita karena mereka adalah anak-anak, bukan karena mereka rupawan, atau mereka adalah seperti ini atau itu; bukan, karena mereka adalah anak! Bukan karena ia berpikir seperti saya atau karena mewujudkan keinginan saya. Seorang anak adalah seorang anak. Kasih orang tua merupakan sarana kasih Allah Bapa yang menanti-nantikan dengan kelembutan kelahiran setiap anak, menerima anak tersebut tanpa syarat, dan menyambutnya dengan bebas (Sukacita Kasih, No. 170).
Setiap anak adalah anak yang mesti disambut dengan bebas, tanpa syarat dan penuh sukacita. Itulah sebabnya kepada setiap ibu hamil Paus Fransiskus berpesan, Kepada setiap ibu hamil, saya ingin meminta dengan penuh kasih: Jagalah sukacita Anda dan jangan ada hal apa pun yang merampas sukacita rohaniah keibuan. Anak itu pantas menjadi sukacita Anda. Jangan biarkan rasa takut, kecemasan, aneka komentar orang lain atau berbagai masalah mengurangi sukacita menjadi sarana Allah membawa kehidupan baru ke dalam dunia (Sukacita Kasih, No. 171).
Setiap ibu hamil adalah penjaga sukacita, karena “anak-anak adalah hadiah indah dari Tuhan” (Sukacita Kasih, No. 222). Inilah yang mesti kita sadari dan selalu kita syukuri, bahwa anak-anak adalah hadiah dari Tuhan. Dan, apabila kita berbicara tentang anak, kita selalu berbicara tentang diri kita. Sebab, berapa pun umur kita sampai hari ini, setiap kita adalah anak. Hal ini diingatkan oleh Paus Fransiskus, Kita harus ingat dengan baik bahwa kita masing-masing adalah seorang anak. Dalam diri setiap orang, “Pun jika orang itu telah menjadi dewasa, atau menjadi tua, juga jika ia menjadi orang tua, jika ia menduduki posisi penting, di bawah semua itu tetap ada identitas seorang anak. Kita semua adalah anak-anak. Dan hal ini selalu membawa kita kembali pada kenyataan bahwa kita tidak menciptakan hidup kita sendiri, tetapi kita menerimanya. Karunia besar hidup ini adalah karunia pertama yang kita terima (Sukacita Kasih, No. 188).
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kita semua adalah anak-anak. Kita memiliki identitas seorang anak, yang menerima segalanya, juga menerima anugerah hidup dari tangan Bapa. Pertanyaannya, bagaimana kita hidup sebagai anak? Bagaimana kita memperlakukan orang lain sebagai anak? Bagaimana kita memandang setiap orang sebagai anak? Bagaimana kita menghormati martabat hidup seorang anak?
Hari ini Yesus berkata, Dan barang siapa menyambut seorang anak kecil sepert ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. (Dan) Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini (Mat 18:5.10a). Siapa pun yang menyambut atau menerima seorang anak, dialah yang terbesar. Sebab, dengan menyambut seorang anak, ia menyambut Yesus sendiri, dan menyambut Yesus, berarti menyambut Allah yang mengutus-Nya (Mat 10:40). Luar biasa bukan?
Mari kita miliki sikap saling menerima seorang akan yang lain. Menghormati martabat manusia mesti terungkap dalam hal saling menerima apa adanya. Sebab, di hadapan Allah, kita semua adalah anak dan berapa pun umur kita, kita tetaplah anak. Mari kita hidup sebagai anak-anak Bapa dan menerima segalanya dari tangan Bapa. Semuanya bukan jasa kita, maka di atas segala-galanya, kita mesti selalu bersyukur kepada Bapa. [RP. A. Ari Pawarta, O.Carm.]