Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XXIII, Senin, 07 September 2026
Bacaan Pertama: 1 Korintus 5:1-8
Mazmur Tanggapan: Tuhan, bimbinglah aku dalam keadilan-Mu.
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 5:5-6.7.12
Bait Pengantar Injil: Alleluya. Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku. Alleluya.
Bacaan Injil: Lukas 6:6-11
Ulurkanlah Tanganmu!
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Injil yang kita baca hari ini adalah sebuah Kabar Baik, sebuah berita gembira perihal karya keselamatan yang dinyatakan oleh Yesus di sebuah rumah ibadat. Perhatikan bahwa di rumah ibadat itu, selain ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hadir juga seorang yang mati tangan kanannya.
Kata “mati” menurut hemat saya bisa dimengerti sebagai “dalam keadaan lumpuh” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya lemah dan tidak bertenaga, atau anggota badan (misalnya mulut, tangan atau kaki) tidak dapat digerakkan lagi.
Dewasa ini, istilah “lumpuh” juga bisa dikaitkan dengan sakit stroke. Stroke terjadi akibat pasokan darah ke otak terganggu karena penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Dengan demikian, area tertentu pada otak tidak mendapat suplai oksigen dan nutrisi sehingga pasien mengalami kematian sel-sel otak.
Penginjil Lukas mencatat bahwa bagian tubuh yang mati atau lumpuh adalah tangan kanannya. Perhatikan, dalam Injil Matius (12:9-15a) dan Markus (3:1-6) hanya disebut “yang mati sebelah tangannya” (Mat 12:10; Mrk 3:1). Artinya, hanya Penginjil Lukas yang menyebut secara pasti dan jelas bahwa tangan kanan orang itu yang mati atau lumpuh. Hal ini tidak mengherankan sebab Lukas adalah seorang dokter. Ia sudah terbiasa mendiagnose penyakit banyak pasien dan memberikan informasi tentang bagian tubuh yang sakit secara akurat, jelas dan detail.
Kepada orang yang mati atau lumpuh tangan kanannya, Yesus berkata, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” (Luk 6:8a). Atas perintah itu, ia segera bangun dan berdiri di tengah, di tempat yang Yesus maksudkan (ay. 8b). Artinya, ia berlaku taat kepada Yesus. Ia tidak punya keragu-raguan sedikit pun; juga ia tidak punya rasa malu terhadap orang banyak di rumah ibadat itu.
Yesus tahu pikiran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bahwa mereka sedang mengamat-amati Diri-Nya, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, yang menurut hukum Taurat tidak diperbolehkan. Namun demikian, Yesus tidak mengurungkan niat-Nya untuk menyelamatkan orang yang mati atau lumpuh tangan kanannya. Kepada mereka Yesus berkata, “Aku bertanya kepada kalian: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, “berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?” (ay. 9).
Pertanyaan Yesus sebenarnya gampang untuk dijawab. Tetapi, mereka berlaku sombong. Mereka tidak mau menjawabnya meskipun tahu jawabannya. Pertanyaan Yesus merupakan sebuah pertanyaan discernment, untuk penegasan roh; namun mereka tidak mau melakukan discernment. Maka, tanpa menunggu waktu lebih lama, Yesus berkata kepada si lumpuh tangan kanannya itu, “Ulurkanlah tanganmu!” (ay. 10a). Lagi-lagi, orang itu berlaku taat kepada Yesus. Ia mengulurkan tangannya dan sembuhlah ia (ay. 10b). Ketaatannya kepada Yesus mendatangkan kesembuhan bagi tangan kanannya dan keselamatan bagi hidupnya.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, menyembuhkan orang sakit termasuk tindakan bekerja. Namun, karena saat itu adalah hari Sabat, maka tindakan Yesus termasuk melanggar hukum hari Sabat. Yesus bukannya tidak tahu tentang hukum hari Sabat. Dia tahu. Namun, saat itu Yesus memilih untuk berbuat baik, ketimbang berbuat jahat. Sebab menyembuhkan orang sakit adalah tindakan berbuat baik. Oleh karena itu, bagi Yesus, berbuat baik atau melakukan sesuatu yang baik pada hari Sabat adalah baik dan benar. Yesus juga lebih memilih menyelamatkan orang, bukan membinasakannya. Pilihan dan tindakan Yesus jelas dan tegas, karena yang Dia lakukan hanyalah kehendak Bapa-Nya dan kehendak Bapa-Nya termasuk dalam hal berbuat baik serta menyelamatkan umat-Nya.
Hari ini Yesus tampil sebagai Guru yang mengajar kita untuk berbuat baik dan menyelamatkan sesama. Yesus adalah Guru dan teladan kita dalam hal berbuat baik kepada sesama yang sakit dan menderita. Perbuatan baik selalu membawa kegembiraan dan keselamatan bagi sesama. Injil Yesus adalah pedoman bagi kita untuk melakukan sesuatu yang baik dan tindakan yang menyelamatkan. Maka, Injil perlu dibaca dalam suasana doa agar dalam terang Roh Kudus kita mampu menemukan pesannya bagi hidup kita sehari-hari.
Jika hidup kita diterangi oleh Kitab Suci dan terutama Injil, maka kita akan tahu bagaimana berbuat baik dan berusaha mewujudkannya. Kita akan tahu bagaimana menyelamatkan sesama, seperti dilakukan Yesus, dan bukan merancang sesuatu untuk membinasakan, seperti dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Saudara-saudari, umat beriman yang dikasihi Tuhan, “Ulurkanlah tanganmu!” juga menjadi sebuah seruan atau perintah Yesus kepada kita. Mari kita taat kepada-Nya, mau mengulurkan tangan kita agar kedua tangan kita diberkati sehingga tetap sehat dan kuat. Dengan tangan yang sehat dan kuat, kita dapat melakukan banyak hal yang baik dan mendatangkan keselamatan bagi sesama. Tuhan memberkati! [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]