Renungan Harian

Renungan Harian 23 September 2023

Bacaan Liturgis – PW Santo Padre Pio dari Pietrelcina, Imam, Sabtu, 23 September 2023

  • Bacaan Pertama: 1 Timotius 6:13-16

  • Mazmur Tanggapan: Datanglah menghadap Tuhan dengan sorak-sorai.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2.3.4.5

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas dan menghasilkan buah dalam ketekunan. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 8:4-15

Renungan Singkat : Benih Itu Ialah Sabda Allah

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini Gereja merayakan peringatan seorang kudus asal Pietrelcina, Italia, bernama Santo Pio atau biasa disebut Santo Padre Pio. Ia lahir pada 25 Mei 1887 dan diberi nama Francesco Forgione.

Setelah usia 16 tahun (1903), ia meninggalkan keluarga dan masuk ke Biara Kapusin (OFM Cap). Saat itu ia memakai nama biara: Pius atau Pio (Italia).

Ketika Pio masih mengenyam pendidikan calon imam, ia menderita sakit keras dan berada dalam bahaya mati. Oleh karena itu, ia ditahbiskan menjadi imam lebih cepat dari seharusnya, yakni pada usia 23 tahun, tepatnya pada tahun 1910.

Tak lama kemudian, tepatnya pada 7 September 1911, Rm. Pio muda mengalami stigmata pada tubuhnya. Karena ia takut akan kejadian ini, pergilah ia kepada Msgr. Salvatore Panullo, seorang Pastor Paroki Pietrelcina, agar didoakan. Ia pun kemudian didoakan dan luka-luka stigmata itu hilang.

Tatkala Rm. Pio sedang menggunakan waktu pribadinya untuk merenungkan sabda Tuhan dan berdoa seorang diri di kapel biara, tempat dia tinggal, ia mengalami stigmata lagi. Stigmata ini terjadi pada 20 September 1918, 8 tahun dalam hidup imamatnya. Luka-luka itu berada di tangan kiri dan kanan, juga di kedua kaki dan lambungnya, persis seperti kelima luka yang dialami Yesus di salib. Namanya luka, kelima luka tersebut mengeluarkan darah dengan bau harum mewangi.

Rm. Pio adalah imam pertama yang menerima stigmata Yesus. Seiring berjalannya waktu, Padre Pio makin dikenal oleh banyak orang. Mereka datang untuk didoakan, mengikuti Perayaan Ekaristi bersamanya dan merayakan Sakramen Tobat. Dengan demikian, hari-hari hidup Padre Pio selalu diisi dengan pelayanan doa, Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Ada begitu banyak waktu harus dia luangkan untuk doa bagi mereka yang sakit, untuk mempersembahkan Misa Kudus dan melayani Sakramen Tobat namun hanya ada sedikit waktu tersedia baginya untuk beristirahat.

Stigmata menjadi bagian dari penderitaan yang harus dialami oleh Padre Pio sampai akhir hidupnya, pada 23 September 1968. Paus Yohanes Paulus II memberi gelar Beato pada 2 Mei 1999. Selanjutnya ia menyatakannya sebagai orang kudus (Santo) pada 16 Juni 2002.

Sebagai seorang imam dan biarawan, Padre Pio selalu menggunakan waktunya untuk berdoa seorang diri, entah di kamarnya atau di kapel biara. Begitu banyaknya orang yang datang kepadanya untuk mendapatkan pelayanan spiritual, menuntut dia untuk bisa mengatur waktu dengan baik, sehingga waktu untuk sendiri bersama Tuhan untuk merenungkan sabda Tuhan tidak terabaikan.

Saudara-saudari sekalian, jika Anda membuka Kitab Suci, Anda akan menemukan bahwa perikop Injil hari ini diberi judul “Perumpamaan tentang seorang penabur”. Perumpamaan ini terdapat juga dalam Injil Sinoptik lain, yakni dalam Mat 13:1-23 dan Mrk 4:1-20, masing-masing dengan judul yang sama (Perumpamaan tentang seorang penabur).

Dalam penjelasan-Nya, karena para murid menanyakan kepada Yesus maksud perumpamaan itu, Yesus mengatakan bahwa benih yang ditaburkan itu ialah Sabda Allah (ay. 11), yang akan menghasilkan buah dalam hati yang terbuka, bagaikan tanah yang baik (ay. 8 dan 15), tetapi dapat tak berbuah di tanah yang lain karena sejumlah alasan. Antara lain, karena dimakan burung-burung (ay. 5) atau direbut iblis (ay. 12), karena tak berair (ay. 6) atau karena berbagai pencobaan (ay. 13), dan karena terhimpit semak duri (ay. 7) atau terhimpit oleh kekhawatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup (ay. 14).

Perhatikan Saudara-saudari, ketika para murid meminta Yesus untuk menjelaskan maksud perumpamaan tentang penabur, Ia menjawab bahwa rahasia atau misteri atau tanda-tanda yang tersembunyi dari Kerajaan Allah disingkapkan kepada mereka. Kemudian Ia mengucap-kan pernyataan yang penuh teka-teki dengan mengutip teks Yesaya 6:9-10 yakni “supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat, dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti” (ay. 10). Mengapa para pendengar sekalipun memandang namun tidak melihat dan sekalipun mendengar namun tidak mengerti? Karena hati mereka keras. Hati yang keras tidak akan membuat benih yang adalah sabda Allah itu bertumbuh dan berbuah.

Dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium Paus Fransiskus berkata, “Injil berbicara tentang benih” (Evangelii Gaudium, No. 22). Benih itu ialah sabda Allah dan “sabda Allah tak terduga kekuatannya” (Ibid.) Ia mempunyai kekuatan untuk tumbuh dan berbuah sejauh ia jatuh di tanah yang baik, yakni hati yang terbuka akan sang sabda, hati yang membiarkan diri diberi warta Injil. Itulah sebabnya Paus Fransiskus mengatakan, “Kita perlu terus-menerus dilatih mendengar sabda. Gereja tidak mewartakan Injil apabila tidak terus-menerus membiarkan dirinya diberi warta Injil. Sungguh penting bahwa sabda Allah semakin menjadi pusat setiap kegiatan Gerejawi. Sabda Allah, yang didengarkan dan dirayakan, terutama dalam Ekaristi, memelihara dan secara batiniah memperkuat umat Kristiani, dengan memampukan mereka memberikan kesaksian otentik terhadap Injil dalam kehidupan sehari-hari”(Ibid., No. 174).

Seruan Paus Fransiskus ternyata menginspirasi kita akan beberapa hal: Pertama, perlunya latihan membaca Kitab Suci. Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) menggerakkan atau “memaksa” kita untuk mulai belajar membuka dan membaca Kitab Suci. Latihan seperti ini perlu dan penting bagi seorang murid dan kita semua, yang di hadapan Yesus adalah murid. Seorang murid yang tidak mau belajar, termasuk belajar membaca, dia adalah seorang murid yang sombong, merasa sokpintar, atau malas atau acuh tak acuh. Dalam kenyataan, tidak setiap orang bisa membaca Kitab Suci dengan baik dan benar. Hal ini tampak jelas ketika seorang umat membacakan salah satu perikop Kitab Suci, entah ketika Misa di rumah duka, di rumah umat di lingkungan atau di gereja. Contoh, “Bacaan dari Kitab Roma….” Tidak ada yang namanya Kitab Roma. Yang ada dan yang benar adalah Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma.

Kedua, latihan membaca berkaitan erat dengan latihan mendengarkan sabda. “Kita perlu mempraktikkan seni mendengarkan, yang lebih dari sekadar mendengar. Mendengarkan, membantu kita menemukan sikap tubuh dan kata yang tepat, yang menunjukkan bahwa kita lebih dari sekadar penonton,” kata Paus Fransiskus (Ibid., No. 171). Hal ini perlu dipraktikkan, baik ketika kita membaca Kitab Suci secara pribadi maupun ketika mendengarkan sabda Allah yang dibacakan, didengarkan dan dirayakan, terutama dalam Ekaristi.

Ketiga, sabda Allah perlu dan penting diperlakukan sebagai pusat setiap kegiatan Gerejawi. Itulah sebabnya, Keuskupan Agung Jakarta menghimbau agar dalam Kunjungan Dewan Paroki Harian (DPH) ke wilayah atau pada kesempatan rapat atau kegiatan Gerejawi lainnya selalu dibacakan sabda Allah dan direnungkan pesannya. Istilah yang dipakai oleh Keuskupan Agung Jakarta yaitu agar dalam setiap kegiatan Gerejawi diberi spiritualitasnya. Hal ini untuk membantu umat agar terbiasa untuk mendengarkan sabda Allah dan menjadikannya sebagai pusat hidup Kristiani.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mari kita senantiasa memelihara hati yang terbuka untuk ditaburi benih. Benih itu ialah sabda Allah, yang akan tumbuh dan menghasilkan buah jika kita yang mendengar sabda itu menyimpannya dalam hati yang baik dan menghasilkan buah dalam ketekunan.

Tuhan memberkati.

[RP. Agustinus Ari Pawarto, O.Carm.]