Renungan Harian

Renungan Harian 09 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Pekan III Prapaskah, Senin, 09 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: 2 Raja-Raja 5:1-15

  • Mazmur Tanggapan: Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2.3;43:3.4

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Aku menanti-nantikan Tuhan, dan aku mengharapkan firman-Nya, sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Lukas 4:24-30

Saling Menghargai dan Menghormati

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pokok refleksi tentang kesadaran baru yang perlu terus kita bangun dan kembangkan dalam keseharian kita adalah menghormati martabat manusia. Hal ini penting, sebab dengan menghormati martabat manusia, orang juga menghargai martabatnya. Sebaliknya, jika orang tidak mampu menghargai martabat manusia, dia juga tidak akan menghormatinya.

Injil hari ini menunjukkan bagaimana antara menghargai dan menghormati tidak terkombinasi dengan baik. Yesus adalah korban dari perilaku orang-orang Nazaret ketika Dia datang ke sana. Mereka tidak menghargai kedatangan Yesus sebagai utusan Allah, yang dikenal juga dengan istilah nabi. Itulah sebabnya, kepada mereka yang saat itu tengah berkumpul di rumah ibadat, Yesus menegaskan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk 4:24).

Yesus memberi contoh dua nabi besar dari Israel kuno, yaitu Nabi Elia dan Nabi Elisa (ay. 25-27). Sebagai nabi besar mereka justru melayani orang-orang bukan Israel. Mengapa? Karena orang-orang Israel berlaku sombong. Mereka menutup hati, tidak terbuka terhadap pelayanan Nabi Elia dan Nabi Elisa di Israel. Mereka tidak menghargai kehadiran nabi, utusan Allah, di rumah mereka sendiri, yakni Israel. Demikian juga dengan Yesus, sebagai nabi, ketika pulang ke rumah-Nya, dalam hal ini Nazaret yang dipandang sebagai rumah-Nya, mereka tidak mau menerima-Nya. Mereka tidak menghargai kedatangan-Nya. Itu juga berarti, mereka tidak menghormati Dia sebagai utusan Allah. Mereka tidak menghormati Yesus bahkan sebagai Pribadi.

Sikap orang-orang Nazaret tampak semakin jelas bahwa mereka tidak menghargai dan menghormati Yesus yang datang ke “rumah” mereka, yakni Nazaret. Seperti ditunjukkan oleh penginjil, “Mendengar (kata-kata Yesus) itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu” (ay. 28-29).

Perhatikan kosa kata yang dipakai penginjil: “Marahlah semua orang di rumah ibadat itu”, “menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung” dan “melemparkan Dia dari tebing itu”. Sangat sadis, bukan? Tidak manusiawi! Kasar! Begitulah mereka memperlakukan Yesus sebagai salah seorang dari antara mereka, orang-orang Nazaret.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, setiap pribadi itu berarti, berharga dan mulia, sejak penciptaan manusia pertama hingga sepanjang segala abad. Santo Ambrosius dalam komentarnya tentang manusia dalam konteks penciptaan berkata demikian, “Hari keenam berakhir, dan penciptaan dunia diselesaikan dengan pembentukan karya agung, yakni manusia, yang berdaulat atas segala makhluk hidup, dan seolah-olah menjadi mahkota alam semesta dan keindahan yang terindah setiap makhluk.”

Dalam pandangan Santo Ambrosius, manusia mengenakan keindahan yang terindah dari setiap makhluk. Karena merupakan keindahan yang terindah, maka manusia itu keramat, suci, sakral, sehingga harus dihargai dan dihormati tanpa syarat serta tidak dapat diganggu gugat.

Santo Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Evangelium Vitae (Injil Kehidupan)mengatakan, “Hidup manusiawi itu keramat dan tidak dapat diganggu gugat pada tiap saat hidupnya, termasuk pada tahap awal sebelum kelahiran. Semua manusia sejak dari rahim ibu adalah mereka milik Allah, yang menyelami dan mengenal mereka, yang membentuk mereka dan menenun mereka dengan tangan-Nya sendiri, yang memandang mereka bila masih embrio yang kecil sekali dan tanpa bentuk. Di situ pun, selagi masih berada di rahim ibu mereka, mereka itu sasaran pribadi penyelenggaraan Allah yang penuh kasih kebapaan” (No. 61). Pemahaman seperti itulah yang mesti menggerakkan setiap orang untuk menghargai dan menghormati martabat setiap pribadi, apa pun penampilannya, apakah sehat dan normal atau sehat dan difabel. Semua, tanpa kecuali, adalah pribadi yang mesti dihargai dan dihormati.