Bacaan Liturgis – Pekan III Paskah, Sabtu, 10 Mei 2025
Bacaan Pertama: Kisah Para Rasul 9:31-43
Mazmur Tanggapan: Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku?
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13.14-15.16-17
Bait Pengantar Injil: Alleluya. Perkataan-perkataan-Mu adalah roh dan hidup. Perkataan-Mu adalah perbuatan hidup yang kekal. Alleluya.
Bacaan Injil: Yohanes 6:60-69
Renungan Singkat : MENGIKUTI YESUS DENGAN SETIA
Mengikuti Yesus itu membutuhkan rahmat terus-menerus yang berkarya dalam hati. Keinginan hati semata tidak cukup. Kita perlu menyadari dengan rendah hati, kita belum mampu membangun komitmen untuk setia. Tidak jarang kita berkobar semangatnya untuk mengikuti Yesus karena melihat karya-karya-Nya yang menakjubkan. Pengalaman semacam ini dapat kita renungkan dari pelayanan para Rasul terutama sesudah kebangkitan Yesus dari alam maut. Dalam Kisah Para Rasul yang kita dengarkan hari ini, Petrus menyembuhkan seorang yang sakit lumpuh. “Kata Petrus kepadanya: "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!" Seketika itu juga bangunlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan” (Kis.9:34-36). Bahkan ia membangkitkan seorang perempuan bernama Tabita yang telah meninggal. “Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk (ay 42). Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.
Pengalaman semacam ini juga terjadi dalam hidup beriman kita sekarang. Kita bersyukur, Tuhan menyatakan kasih-Nya lewat karya mengagumkan yang terjadi dalam pelayanan Gereja. Banyak orang disembuhkan sakitnya; dipulihkan hidupnya; dibebaskan dari kuasa kegelapan dan berbagai pengalaman rohani lain yang sungguh menyentuh hati. Tetapi pada saat yang sama, kita seringkali mengukur kuasa Tuhan dalam pelayanan Gereja hanya dari hal-hal yang menakjubkan ini. Mari kita membarui hidup beriman. Kita tidak pantas mengukur kuasa Tuhan dalam bentuk apapun. Mari kita menyadari, Tuhan jauh lebih besar dari segala sesuatu yang kita pikirkan tentang hidup kita dan sesama. Yang harus kita pelihara dalam hidup ialah pikiran yang mau taat dan hati yang terbuka kepada Tuhan dan kuasa-Nya. Percayalah kepada Tuhan dalam setiap doa-doa! Pada saat yang sama, tetaplah setia di dalamnya bahkan tampaknya tidak terjadi apa-apa. Jangan kita mudah bosan. Jangan kita mudah mencari pelarian dalam hidup rohani!
Pengalaman beriman dalam pelayanan Rasul Petrus ini berbeda sekali dengan pengalaman Yesus ketika mewartakan kebenaran kepada para Rasul. Ketika itu Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh.6:53-57). Mendengarkan Sabda Yesus ini, para rasul menganggap itu perkataan yang keras dan tidak ada yang sanggup mendengarnya (ay.60). Iman mereka goncang! Yesus sebenarnya sedang mewartakan kebenaran akan diri-Nya yang menjadi kurban penebusan di atas kayu salib. Dengan peristiwa salib dan kebangkitan dari alam maut, Tubuh dan Darah-Nya menjadi santapan rohani jiwa kita. Dan, kita tahu nantinya, bahkan ketika Yesus ditangkap dan diadili, para Rasul sudah goncang imannya. Mereka lari meninggalkan Yesus. Memang mengikuti Yesus Kristus dengan setia butuh rahmat yang besar. Mari kita dengan rendah hati memohon rahmat itu agar tetap setia mengikuti Dia yang melakukan karya menakjubkan maupun mengikuti Dia di jalan Salib. Tuhan memberkati. Amin.
[RP Manaek Martinus Sinaga, O.Carm]