Renungan Harian

Renungan Harian 10 Juni 2026

Bacaan Liturgis – Pekan Biasa X, Rabu, 10 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Raja-Raja 18:20-39

  • Mazmur Tanggapan: Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2a.4.5.8.11

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Tunjukkanlah lorong-Mu kepadaku, ya Tuhan, bimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Matius 5:17-19

Menghargai Hal Kecil

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kata menyangkamenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya menduga atau mengira. Contoh, saya mengira Pak Maryono ini orang Jawa, ternyata orang Flores, NTT. Arti lain, mencurigai atau menaruh syak. Contoh, polisi mencurigai pemuda itu terlibat dalam penyalahgunaan obat terlarang.

Apa yang diduga, dikira atau dicurigai perlu dicek kebenarannya atau dilakukan klarifikasi dari pihak yang bersangkutan. Ketika Pak Maryono membeberkan jati dirinya sebagai orang Flores, baru orang tahu bahwa apa yang dia duga atau dia kira hanya dari warna kulit atau namanya ternyata salah. Atau ketika sang pemuda tersebut diperiksa oleh pihak polisi baru akan terbukti apakah dia memang terlibat dalam penyalahgunaan obat terlarang atau tidak. Singkat kata, tindakan menduga, mengira dan mencurigai bisa salah tanpa ada suatu tindakan klarisikasi atau pengecekan dari pihak bersangkutan.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata, “Janganlah kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). “Janganlah” adalah sebuah peringatan atau larangan agar tidak menyangka, menduga, mengira, mencurigai atau menaruh syak (curiga) bahwa Yesus datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Tanpa dilandasi oleh pengenalan yang mendalam akan Yesus, maka penilaian tentang Dia bisa salah. Juga, tanpa dilandasi oleh sikap percaya dan kasih akan Yesus, penilaian tentang Dia bisa salah.

Yesus menunjukkan bahwa dugaan atau perkiraan mereka tentang Diri-Nya itu salah. Maka, Yesus memberi klarifikasi, “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya,” yakni untuk menggenapi hukum Taurat atau kitab para nabi.

Seandainya tujuan Yesus datang ke dunia adalah untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, maka Yesus masuk dalam kategori seorang perusak. Namun, yang benar, Yesus datang untuk menggenapinya. Ia datang untuk menggenapi apa yang masih kurang, yang tidak ada dalam diri orang-orang Yahudi, yakni roh, jiwa dan semangat hukum Taurat atau kitab para nabi yang tidak merasuki hati dan seluruh hidup mereka.

Para ahli Taurat tahu banyak tentang hukum Taurat tetapi tidak hidup menurut jiwa dan semangat yang sebenarnya, yang ada di dalam hukum Taurat tersebut. Isinya tidak mereka pahami, hidupi dan amalkan. Tidak heran kalau suatu ketika para ahli Taurat dan orang-orang Farisi akan dikecam oleh Yesus, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dan selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23). Mereka hanya penekun huruf yang ada dalam kitab Taurat dan nabi-nabi, tetapi tidak menangkap isi dan semangat yang harus dilakukan. Itulah sebabnya, yang terpenting dalam hukum Taurat justru mereka abaikan.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Yesus adalah tokoh inspirator kita. Mari kita belajar dari pada-Nya: Pertama, Ia datang ke dunia bukan untuk merusak atau meniadakan hukum Taurat atau tulisan-tulisan para nabi yang mengungkapkan kehendak Allah, melainkan untuk melakukan dan menggenapi kehendak Allah. Seperti dikatakan-Nya dalam Injil Yohanes, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Oleh sebab itu, setiap kali kita membaca sabda Tuhan dalam Kitab Suci atau Injil, mari kita belajar menemukan kehendak Allah di balik huruf-huruf atau kata-kata yang tidak semuanya kita mengerti maksudnya. Jika kita telah menemukannya, kita berusaha untuk mewujudkannya.

Kedua, Yesus berkata, “Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat 5:18). Inilah kerendahan hati Yesus, bahwa hal yang terkecil pun (satu iota atau titik) tidak akan dibuang atau ditiadakan karena iota atau titik tersebut dalam satu kesatuan kalimat atau hukum memiliki maksud dan arti. Jika iota atau titik dihilangkan, maka kalimat dalam sebuah hukum menjadi tidak jelas dan tidak lengkap; bisa menimbulkan salah pengertian. Jadi, hal yang terkecil pun memiliki peran, sumbangan dan arti yang tidak boleh dibuang atau diabaikan begitu saja.

Oleh sebab itu, para saudara, mari kita belajar dari Yesus perihal menghargai hal kecil, aturan sederhana, namun punya arti jika ditempatkan dalam satu kesatuan yang lebih besar. Kita perlu belajar dari Yesus, sebab, seperti dikatakan oleh Santa Faustina, “Yesus suka campur tangan dalam hal-hal yang paling kecil di dalam hidup kita” (BHSF, No. 360). [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]