Renungan Harian

Renungan Harian 07 Juni 2026

Bacaan Liturgis – Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Minggu, 07 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: Kitab Ulangan 8:2-3.14b-16a

  • Mazmur Tanggapan: Megahlah Tuhan, hai Yerusalem.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13.14-15.19-20

  • Bacaan Kedua: 1 Korintus 10:16-17

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Akulah Roti Hidup yang telah turun dari surga, sabda Tuhan. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Yohanes 6:51-58

Merayakan Hidup yang Berdimensi Sosial

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, selamat berhari Minggu. Hari ini Gereja merayakan hari raya Tubuh dan Darah Kristus. Oleh karena itu, hari ini menjadi kesempatan baik untuk merenungkan tentang merayakan hidup kita yang selalu disuplai dengan makanan rohani berupa roti Ekaristi.

Dalam Ensiklik Ecclesia de Eucharistia(Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja), Santo Paus Yohanes Paulus II mengatakan sudah sejak awal, bahkan sebagai kalimat pembuka Ensiklik bahwa “Gereja hidup dari Ekaristi” (No. 1). Kalimat berikutnya dikatakan, “Justru dalam Ekaristi Kudus, lewat perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Tuhan, Gereja bersukacita atas kehadiran-Nya yang mahapekat.”

Dalam Misa Kudus, setelah mendoakan atau menyanyikan Kudus, imam berdoa, “Sungguh kuduslah Engkau, Tuhan, sumber segala kekudusan. Maka kami mohon: Kuduskanlah persembahan ini dengan pencurahan Roh-Mu…” Kemudian ketika imam melanjutkan dengan kata-kata: “agar bagi kami menjadi Tubuh dan Darah Tuhan kami Yesus Kristus”, imam membuat satu kali tanda salib, alias memberkati, di atas roti dan piala yang berisi air anggur.

Jadi, pada saat itu, imam, atas nama Gereja mohon pencurahan Roh Kudus agar roti dan air anggur yang telah disiapkan di altar, termasuk roti yang disiapkan di patena maupun di sibori, yang akan dibagikan kepada umat, diubah menjadi Tubuh dan Darah Tuhan.

Saat itu, para saudara yang dikasihi Tuhan, Roh Kudus sungguh-sungguh hadir, tercurah dan mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Tuhan. Sehingga, yang diterima saat Komuni benar-benar Tubuh Kristus, bukan lagi roti biasa, meskipun bentuk dan rupa tetap sama, yakni roti atau hosti. Itulah sebabnya Santo Sirilus dari Yerusalem (315-386) menegaskan dalam katekesenya, “Dalam roti dan anggur janganlah hanya melihat unsur alamiah, sebab Tuhan telah tegas mengatakan bahwa itu adalah Tubuh dan Darah-Nya: Iman memastikan bagimu, kendati indra menunjuk kepada yang lain.”

Iman memastikan bagi kita bahwa roti dan air anggur yang telah diberkati atau dikonsekrasikan saat Doa Syukur Agung, dan hanya pada saat itu, tidak di luar Misa, telah terjadi perubahan dari roti dan air anggur menjadi Tubuh dan Darah Tuhan. Sebab itu, Santo Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Dari Ekaristilah Gereja hidup. Dari ‘roti hidup’ inilah Gereja beroleh makanannya” (Ecclesia de Eucharistia, No. 7).

Para saudara, umat beriman yang dikasihi Tuhan, dalam Injil hari ini Yesus pun mengatakan, “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga” (Yoh 6:51a). Lanjut-Nya, “Jika kamu tidak makan daging Putra Manusia dan minum Darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan Daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, … ia akan hidup selama-lamanya” (ay. 53-54.58).

Dari kata-kata Yesus itu tampak jelas bahwa dengan merayakan Ekaristi sejatinya kita merayakan hidup, hidup yang saat ini, yaitu hidup yang menyatu dengan Yesus, sebab, “siapa yang makan Daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (ay. 56). Hidup yang selalu tinggal dalam Dia, menyatu di dalam Dia ini berlangsung setiap saat, sehari demi sehari sepanjang hidup kita sampai kelak kita memperoleh atau mempunyai hidup yang kekal” (ay. 54), yang berarti “akan hidup selama-lamanya” (ay. 51 dan 58).

Luar biasa daya kehadiran Tubuh dan Darah Kristus dalam diri kita. Akan tetapi, hidup yang ditandai oleh kehadiran Tuhan seperti ini bukan tanpa konsekuensi. Santo Yohanes Kristostomus, Uskup Konstantinopel dan Pujangga Gereja (344-407) berkata, “Kamu telah minum Darah Kristus, namun tidak mengenal saudaramu. Kamu mencemarkan meja itu, karena kamu menganggapnya tidak layak membagi-bagi makananmu kepada orang-orang, yang telah dilayakkan, untuk mengambil bagian dalam meja ini. Allah telah membebaskan kamu dari semua dosamu dan telah mengundang kamu untuk itu. Dan kamu sama sekali tidak menjadi lebih berbelas kasihan.”

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dengan merayakan Ekaristi, kita merayakan hidup, hidup yang menyatu erat dengan Yesus, yang oleh Santo Yohanes Paulus II disebut “kehadiran-Nya yang mahapekat” (EE, 1). Betapa bahagianya kita, mestinya, yang setiap kali merayakan Ekaristi kita merayakan hidup Kristus yang sungguh-sungguh hadir dan memberikan Diri-Nya bagi kita sekaligus merayakan hidup kita yang menyatu dengan Dia dan berdimensi sosial, menjadi lebih berbelas kasihan.

Mari kita merayakan hidup yang Berdimensi Sosial seperti Yesus, Sang Roti Kehidupan, yang mau memberi Diri dan berbagi dengan orang lain. Hidup yang berdimensi sosial seperti ini bersumber dari Ekaristi. Inilah yang disebut hidup ekaristis. Hidup ekaristis membuat kita bahagia karena menyatu dengan Dia dan bukan membuat “hidup berubah menjadi pengejaran yang tidak pernah selesai karena selalu ada sesnsasi baru yang ingin diraih” (Harian Kompas, Sabtu-Minggu, 06-07 Juni 2026, hlm. 9), yang adalah ciri hidup duniawi dan hedonis. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]