Bacaan Liturgis – Senin Pekan Paskah III, Senin, 20 April 2026
Bacaan Pertama: Kisah Para Rasul 6:8-15
Mazmur Tanggapan:Berbahagialah orang-orang yang hidup menurut Taurat Tuhan.
Ayat Mazmur Tanggapan: Mazmur 119:23-24.26-27.29-30
Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Alleluya
Bacaan Injil: Yohanes 6:22-29
Serius Dan Tulus Menimba Pengetahuan Iman Dari Yesus
Saudari dan saudara yang terkasih, hari ini kita merayakan Hari Minggu Panggilan Sedunia. Dalam Injil, Yesus menyatakan diri sebagai Gembala, yang memberikan gambaran figure yang selalu memberi perlindungan, menjamin makanan dan minuman, keamanan serta keselamatan domba-dombanya. Menjadi gembala memang harus memiliki jiwa kepemimpinan. Di dunia ini banyak tampil manusia yang sangat berambisi menjadi pemimpin akan tetapi mereka tampil sebagai pemimpin-pemimpin palsu yang hanya mencari keuntungan pribadi dan sikap ambisius yang berorientasi kepada pengkultusan diri sendiri. Kristus adalah figur seorang pemimpin yang sejati yang selalu menjamin keselamatan, kenyamatan dan jaminan masa depan hidup abadi bagi kita sebagai domba-domba-Nya. Yesus memang tampil bagaikan gembala yang baik. Seluruh hidup-Nya dicurahkan demi keselamatan kita manusia. Dia rela berkorban, bahkan sampai menyerahkan nyawa-Nya demi cinta-Nya yang penuh dan sempurna bagi kita.
Hari ini dalam rangka Hari Minggu Panggilan, kita berdoa agar di dalam Gereja kita selalu lahir benih-benih panggilan yang baru untuk menjadi religius, biarawan-biarawati dan imam. Agar dengan demikian Gereja selalu melahirkan pemimpin-pemimpin religius yang bagaikan gembala yang selalu menuntun umat bertumbuh dalam iman sejati. Kaum religius mau hidup secara militan untuk menghidupi dan mengikuti jejak Kristus agar tugas pelayanan di Gereja dapat dilaksanakan dengan sepenuh hati dan setulus jiwa. Maka seluruh umat harus didorong terus-menerus untuk mendukung lahirnya bibit-bibit panggilan yang baru di tengah-tengah keluarga masing-masing. Setiap keluarga harus memiliki tanggung jawab untuk mendukung agar selalu muncul calon-calon religius yang baru di keluarga masing-masing. Ini bisa tercapai apabila ada usaha yang serius untuk mengkondisikan suasana keluarga di rumah masing-masing penuh damai, suka cita dan menghargai nilai-nilai spiritual. Gereja dikatakan berbuah dan berkembang ketika di tengah-tengah umat hidup religius dapat bertumbuh subur.
@RP. Tinto Hasugian O. Carm
Sebagai seorang Kristiani kita selalu berusaha mengikuti Kristus, menimba pengetahuan iman dari-Nya serta menghidupi ajaran-Nya. Kita harus memiliki niat yang serius dan hati yang tulus untuk mengikuti Kristus agar iman kita mampu bertumbuh tahap demi tahap menuju kematangan spiritual yang sejati. Dalam Injil hari ini kita mendengarkan banyak orang yang terkesima dan terpesona setelah menyaksikan Yesus menggandakan roti dan memberi makan ribuan orang. Yesus memberikan mereka makan secara berlimpah. Ternyata keadaan itu membuat orang banyak terlena dan ingin terus mengikuti Yesus untuk mendapatkan makanan jasmani semata. Motivasi dan niat yang kurang murni dari khayalak orang banyak itu hendak dikoreksi oleh Yesus.
Peristiwa dalam Injil ini hendaknya menjadi bahan permenungan kita juga di jaman sekarang. Seorang kristiani yang sejati hendaknya pertama-tama aktif datang ke Gereja dan terlibat dalam berbagai kegiatan rohani bukan pertama-tama agar mendapatkan kenyamanan dan fasilitas dalam lingkungan Gereja dan komunitas-komuntas rohani di lingkungan. Kita serius, tulus dan rindu berkumpul bersama dan berdoa bersama di Gereja karena kita ingin sekali mendapat pencerahan dan transfomasi kehidupan setelah mendengarkan Yesus bersabda, merayakan Ekaristi dan menwujudkan persaudaraan dengan teman-teman kita seiman.
Hidup kita di dunia ini harus seimbang. Memang perlu kita dalam keseharian kita bekerja secara ragawi untuk memenuhi nafkah insani kita. Akan tetapi ada saatnya juga kita harus menarik diri dari keseharian kerja dan aktifitas kita untuk sungguh-sungguh serius mencari pengalaman perjumpaan dengan Tuhan secara rohani dan spiritual. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan secara rohani inilah yang akan membuat kita selalu tetap mampu mengarahkan hati, budi dan jiwa kita pada hal-hal ilahi. Sehingga kehidupan kekal yang menjadi tujuan akhir dari peziarahan kita di dunia ini secara meyakinkan terus ada dalam ‘spirit’ hidup keseharian kita.
@RP. Tinto Hasugian O. Carm