Renungan Harian

Renungan Harian 13 Juni 2026

Bacaan Liturgis – PW Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Sabtu, 13 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: Kitab Yesaya 61:9-11

  • Mazmur Tanggapan: Hatiku bersukaria karena Tuhan, Juruselamatku.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:4-5.6-7.8abcdAyat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hati dan merenungkannya. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 2:41-51

Menyerahkan Diri kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini Gereja merayakan peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria. Peringatan ini selalu dirayakan pada hari Sabtu sesudah hari raya Hati Yesus Yang Maha Kudus.

Apa arti dari perayaan ini? Peringatan hari ini dalam kaitannya dengan perayaan kemarin mengingatkan kita bahwa antara Maria dan Yesus, antara Ibu dan Anak terdapat Hati Yang Tak Bernoda. Sebab, Maria itu bersih dari dosa. Ia tidak mengenal dosa sedikit pun karena sejak awal hidupnya ia dikandung tanpa noda, sebagaimana dia sendiri mengatakannya kepada Bernadet Soubirous saat penampakan di Lourdes, Perancis. “Aku adalah Yang Dikandung Tanpa Noda,“ kata Bunda Maria kepada Bernadet pada 25 Maret 1858. Yesus sendiri yang lahir dari rahim Maria “disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1:35), dan seorang rasul Yesus bernama Petrus juga mengakui-Nya sebagai “Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:69).

Singkat kata, Hati Maria dan Hati Yesus adalah dua Hati Yang (sama-sama) Tak Bernoda. Kemarin Gereja merayakan Hati Yesus Yang Maha Kudus dan hari ini merayakan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria. Perayaan secara berurutan ini dilakukan setiap tahun, dan urutannya selalu demikian. Sebuah perayaan yang indah, bukan? Tentu saja!

Fokus renungan kita hari ini ialah mengenai Hati Maria, Hati Yang Tak Bernoda. Para Bapa Gereja Timur menyebut Maria sebagai panhagia, artinya “yang suci sempurna”. Karena itu, para Bapa Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja juga menyebut Maria sebagai yang “bersih dari segala noda dosa, seolah-olah dibentuk oleh Roh Kudus dan dijadikan makhluk baru” (Lumen Gentium, No. 56). Ia bersih dari segala noda dosa, karena “sejak pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang sempurna” (Lumen Gentium, No. 56). Hal ini terjadi, karena rahmat Allah. Karena rahmat-Nya, Maria bebas dari setiap dosa pribadi selama hidupnya (Katekismus Gereja Katolik, No. 493).

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria diakui oleh Gereja dan diungkapkan dalam Litani Santa Perawan Maria sebagai “Bunda yang tersuci, Bunda yang termurni, Bunda yang tetap perawan, Bunda yang tak bercela” (Puji Syukur, No. 214). Hati Maria yang seperti ini antara lain terungkap dalam Injil hari ini.

Ketika Maria bersama suami tercinta, Yusuf, akhirnya berhasil menemukan Yesus dalam Bait Allah di Yerusalem, masih dalam suasana hati yang tercengang, ia berkata kepada Putranya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Luk 2:48). Jawaban Yesus bisa jadi di luar dugaannya, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (ay. 49). Maria, juga Yusuf, pendamping setia Maria tanpa kata, tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus kepada mereka.

Ada hal yang menarik dalam peristiwa Yesus ditemukan dalam Bait Allah. Bahwa dialog singkat antara Maria dan Yesus bisa terkendali, artinya tidak melahirkan konflik atau pertengkaran di antara mereka. Roh Kudus pasti berkarya dalam hati mereka. Segera Yesus pulang bersama-sama mereka ke Nazaret tanpa ngambek (tidak mau omong) atau marah-marah. Maria sendiri menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya, juga tanpa disertai sikap emosional dan kemarahan. Hati mereka dikendalikan oleh Roh Kudus dan tidak dinodai oleh dosa sedikit pun. Dosa karena kemarahan tidak ada dalam hati mereka.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, dari Hati Yesus Yang Maha Kudus dan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria kita diingatkan bahwa konflik dan kemarahan bisa dicegah jika orang punya hati yang sejuk, bukan hati yang panas, hati yang dipimpin oleh Roh Kudus (bdk. Gal 5:25). Dengan begitu, kita tetap hidup dalam damai, ketenangan, kerukunan dan persaudaraan di tengah keluarga atau komunitas.

Secara pribadi atau keluarga, mari kita menyerahkan diri kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Kita menyediakan diri untuk dituntun olehnya sehingga suasana hati dan suasana keluarga atau komunitas yang penuh kasih, damai dan persaudaraan tetap terjaga dan terasa. Mari kita berdoa kepada Maria, “Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, doakanlah kami yang menyerahkan diri kepada perlindunganmu. Amin.” [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]