Bacaan Liturgis – Hari Rabu, Pekan III Prapaskah, 11 Maret 2026
Bacaan Pertama: Ulangan 4:1.5-9
Mazmur Tanggapan: Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem.
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13.15-16.19-20
Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Engkau mempunyai sabda kehidupan kekal. Terpujilah.
Bacaan Injil: Matius 5:17-19
Kitab Suci Sebagai Sumber Inspirasi dan Refleksi
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, memahami pikiran dan isi hati orang lain tidak selalu mudah. Ada kemungkinan orang memahaminya secara salah, maka terjadilah salah atau gagal paham. Untuk menghindari hal ini, diperlukan pencerahan atau penjelasan sehingga bisa membantu orang lain untuk mengertinya secara tepat dan benar.
Seperti ketika Yesus mulai tampil di depan publik, di mana banyak orang belum begitu mengenal Pribadi Yesus dan misi kedatangan-Nya, Yesus menjelaskan tentang sikapnya terhadap hukum Taurat. Oleh karena itu, ketika Yesus berkhotbah di bukit, kepada murid-murid-Nya Yesus mulai dengan satu peringatan tegas, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17).
Perhatikan, dalam satu ayat Yesus dua kali mengatakan: Aku datang. Yesus menegaskan bahwa Dia datang tidak untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi atau sebut saja: Kitab Suci, meskipun hanya satu iota atau satu titik. Ia menghargai dan menghormati Kitab Suci. Demikian juga di kemudian hari, Gereja yang didirikan-Nya, selalu menghormati Kitab Suci sama seperti menghormati Tubuh-Nya sendiri (lih. Katekismus Gereja Katolik, No. 103).
Namun, apakah sebenarnya Kitab Suci itu? Kita pasti tahu, yaitu sebuah buku atau kitab yang suci, yang isinya luhur sekali, yakni firman Tuhan dan kata-kata para nabi. Namun, semua itu tidak bermakna selama tidak dibaca dan dihayati. Oleh sebab itu, misi Yesus datang ke dunia adalah untuk menggenapi apa yang masih kurang, apa yang belum dilihat, dimengerti, disadari dan dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada zaman-Nya.
Jelasnya, Yesus datang supaya roh, jiwa dan semangat yang ada di dalam Kitab Suci sepenuhnya memancar dan merasuki jiwa manusia sehingga ia sungguh-sungguh dihidupi, disemangati dan dikobarkan oleh sabda Tuhan. Oleh firman atau sabda Tuhan dalam Kitab Suci diharapkan orang semakin mengenal dan memahami Pribadi Allah dan Putra-Nya, Sang Sabda yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yoh 1:14).
Para Bapa Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis tentang Wahu Ilahi (Dei Verbum), menegaskan demikian, “Begitu pula Konsili suci mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, terutama para religius, supaya dengan sering kali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh "pengenalan yang mulia akan Yesus Kristus" (Flp 3:8) [No. 25].
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, para Bapa Konsili Vatikan II mendesak, karena penting, sekaligus mengingatkan bahwa dengan membaca Kitab Suci, tentunya juga disertai usaha untuk mengerti dan memahami isi atau pesannya, akan memperoleh pengertian yang mulia akan Yesus Kristus.
Rasul Paulus telah membuktikan, bagaimana dia mengenal Yesus. Dalam suratnya dia memberi kesaksian demikian, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia” (Flp 3:7-9).
Santo Hieronimus, seorang pencinta dan penerjemah Kitab Suci juga mengatakan, “Sebab tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus." Dengan semakin mengenal Yesus Kristus, kita akan semakin mengasihi-Nya; dengan semakin mengasihi-Nya, kita juga akan semakin mengasihi Gereja yang didirikan-Nya, yakni Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Dengan semakin mengasihi Gereja, kita juga akan semakin rela, tulus dan bersemangat dalam melayani umat di dalam keluarga (Gereja Rumah tangga), di lingkungan, wilayah dan paroki.
Saudara-saudari, kita sudah diingatkan oleh para Bapa Konsili Vatikan II dan oleh Santo Hieronimus. Kita juga sudah mendapat kesaksian dari Rasul Paulus. Maka, mari kita hidup bukan dari huruf-huruf yang ada dalam Kitab Suci, tetapi disemangati dan dikobarkan oleh isi atau pesan sabda Tuhan dalam Kitab Suci sehingga kita menjadi Gereja atau umat Allah yang hidup.
Ayo kelompok-kelompok Kitab Suci atau kelompok-kelompok Lectio Divina di lingkungan, wilayah atau kelompok kategorial dilanjutkan dan ditingkatkan. Jangan menunggu kalau Bulan Kitab Suci tiba baru ramai-ramai bikin gerakan atau kegiatan berkaitan dengan Kitab Suci. Jadikan Kitab Suci sebagai sumber inspirasi dan refleksi untuk semakin mengasihi Yesus dan melayani Dia di tengah umat-Nya. Kita bisa melakukannya di Masa Prapaskah ini. Tuhan memberkati. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]