Renungan Harian

Renungan Harian 16 Agustus 2026

Bacaan Liturgi : Minggu, 16 Agustus 2026

  • Bacaan Pertama : Kitab Wahyu 11:19a; 12:1-6a.10ab

  • Mazmur Tanggapan : R. Disebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.

  • Ayat Mazmur Tanggapan : Mazmur 45:10c-12.16

  • Bacaan Kedua : 1 Korintus 15:20-26

  • Bait Pengantar Injil : Alleluya. Maria diangat ke Surga, para malaikat bersukacita, Alleluya.

  • Bacaan Injil : Lukas 1:39-56

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Injil yang kita dengarkan mengisahkan Maria yang mengunjungi Elisabet. Kisah ini sangat indah karena memperlihatkan kepada kita Maria sebagai pribadi yang dipenuhi Allah, tetapi sekaligus sangat peka terhadap kebutuhan sesamanya.

Setelah menerima kabar dari Malaikat bahwa ia akan menjadi Bunda Yesus, Maria tidak tinggal diam. Injil mengatakan bahwa Maria segera berangkat menuju pegunungan untuk mengunjungi Elisabet.

Maria sedang membawa sebuah rahasia besar dalam dirinya: Yesus, Sang Juruselamat, ada dalam kandungannya. Tetapi pengalaman akan kehadiran Tuhan itu tidak membuat Maria menjadi sibuk dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia justru keluar dari dirinya dan datang untuk melayani Elisabet.

Di sinilah kita menemukan salah satu ciri khas Maria: semakin dekat dengan Tuhan, semakin besar kepeduliannya kepada sesama.

Ketika Maria tiba dan memberi salam, bayi dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan. Elisabet pun dipenuhi Roh Kudus dan berkata:“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.”(Luk 1:42)

Maria kemudian menjawab dengan kidung yang kita kenal sebagai Magnificat:“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”

Perhatikan bahwa Maria tidak mengatakan, “Lihatlah, betapa hebatnya aku.” Maria justru mengarahkan semuanya kepada Tuhan. Ia sadar bahwa segala sesuatu yang ada dalam dirinya merupakan karya dan rahmat Allah. Karena itu Maria berkata:“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan.”Inilah kerendahan hati Maria. Ia tidak menjadikan dirinya pusat perhatian. Allah-lah yang menjadi pusat hidupnya.

Hari Raya Maria Diangkat ke Surga mengajak kita untuk melihat kembali kehidupan kita. Kita semua juga menerima banyak rahmat dari Tuhan. Pertanyaannya: Apa yang kita lakukan dengan rahmat itu?

Apakah rahmat Tuhan membuat kita semakin terbuka untuk membantu orang lain? Ataukah kita justru semakin sibuk dengan diri sendiri?

Maria mengajarkan kepada kita bahwa rahmat Tuhan harus mengalir menjadi kasih, perhatian dan pelayanan.

Mungkin ada orang di sekitar kita yang sedang membutuhkan perhatian. Mungkin ada anggota keluarga yang membutuhkan kata-kata yang meneguhkan. Mungkin ada sahabat yang sedang kesepian. Mungkin ada orang yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Kita tidak perlu melakukan sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang kehadiran, sapaan, perhatian dan kesediaan mendengarkan sudah menjadi berkat yang sangat berarti.

Dan akhirnya, Maria mengajarkan kepada kita untuk selalu memuji Tuhan dalam segala keadaan. Magnificat lahir bukan ketika semua persoalan Maria sudah selesai. Justru Maria sedang memasuki sebuah perjalanan yang penuh ketidakpastian. Namun ia tetap berkata:Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku.”

Semoga kita pun belajar dari Maria: ketika hidup kita penuh sukacita, kita memuji Tuhan; ketika hidup kita penuh persoalan, kita tetap percaya kepada Tuhan; dan ketika menerima berkat, kita membagikannya kepada sesama.

Doa:

Santa Maria, Bunda yang diangkat ke surga, doakanlah kami untuk selalu berkata “ya” kepada Tuhan, rendah hati menerima rahmat-Nya, dan menjadikan hidup kami berkat bagi sesama. Amin.

(RP. Titus Brandsma Pantjaja Adji Wilasa, O.Carm.)