Renungan Harian

Renungan Harian 17 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Pekan IV Prapaskah, Selasa, 17 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Yehezkiel 47:1-9.12

  • Mazmur Tanggapan: Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3.5-6.8-9

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu.Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 5:1-3a.5-16

Air dan Pertobatan Ekologis

Saudari-saudara yang dikasihi Tuhan, hidup manusia tidak bisa dipisahkan dari air. Sebab, tubuh manusia terdiri dari air sebesar antara 55 s/d 78%, tergantung dari ukuran badan: besar, kecil, tinggi, pendek, gemuk atau kurus.

Selain itu, tubuh manusia membutuhkan antara 1 s/d 7 liter air setiap hari, tergantung tingkat aktivitas, banyak-sedikitnya aktivitas fisik yang mengeluarkan keringat atau melakukan aktivitas yang tidak mengeluarkan keringat namun menguras otak dan sebagainya.

Singkat kata, air sangat dibutuhkan manusia untuk menunjang gaya hidup sehat. Oleh karena itu, manusia perlu mengonsumsi air minum yang bersih, cukup dan aman agar tubuh tetap sehat. “Mengonsumsi air minum yang aman merupakan hak asasi manusia yang mendasar dan universal untuk hidup sesuai dengan martabat yang tidak dapat diganggu gugat,” kata Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau), No. 30. Namun, sekalipun tidak dikonsumsi ke dalam tubuh, air juga diperlukan demi kesehatan tubuh. Misalnya, mandi dengan air bersih akan berdampak pada kesehatan tubuh.

Para saudara, sejumlah besar orang sakit yang berbaring di serambi kolam Betesda adalah orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. Mereka senantiasa berjaga-jaga dan selalu siaga untuk menantikan goncangan air kolam itu. “Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya” (Yoh 5:4).

Mereka percaya bahwa air kolam yang digoncangkan malaikat Tuhan akan menyembuhkan penyakit mereka. Ini termasuk kolam ajaib, karena airnya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sayangnya, air itu memberi daya kesembuhan kalau digoncangkan oleh malaikat Tuhan. Kalau malaikat itu tidak turun ke dalam kolam dan tidak ada goncangan air, maka di kolam tersebut tidak ada aktivitas, maksudnya, tidak ada orang sakit yang akan masuk ke dalamnya.

Di antara mereka yang merindukan goncangan air kolam dan selalu kalah cepat dengan orang lain yang lebih kuat dan “sehat” adalah seorang yang sudah 38 tahun lamanya menderita sakit. Yesus berkata kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Ini adalah sebuah tawaran.

Yesus tahu bahwa yang namanya orang sakit pasti ingin sembuh dan sehat. Makanya, dia dengan sabar menantikan goncangan air kolam. Namun, ia selalu kalah cepat dan kalah cekatan. Maklum saja, sudah 38 tahun loh menderita sakit yang sama, masih untung jika dia tidak mengalami komplikasi. Karena itu, tawaran Yesus tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan “kehendak iman”, kehendak yang disertai oleh iman, sehingga jika ia memiliki kehendak iman yang kuat, ia akan melakukan apa yang Yesus perintahkan.

Jawaban si sakit yang menyebut Yesus sebagai Tuhan (lih. ay. 7) menunjukkan adanya kehendak iman di dalam dirinya. Itulah sebabnya Yesus memberi perintah kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (ay. 8). Penginjil mencatat, bahwa seketika itu juga ia menjadi sembuh. Ia bisa mengangkat tilam dan berjalan seperti yang Yesus perintahkan kepadanya. Luar biasa!

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dia sembuh bukan karena air kolam Betesda. Ia menjadi sembuh dalam tempo sesingkat-singkatnya, yang penginjil sebut “pada saat itu juga” (ay. 9), karena Yesus yang dia sebut dan akui sebagai Tuhan. Yesus telah menggantikan air kolam yang digoncangkan dengan Diri-Nya sebagai Pribadi yang mengalirkan air kehidupan, yang pada akhir perutusan-Nya akan diungkapkan dalam “darah dan air” yang keluar dari lambung-Nya saat di salib (Yoh 19:34).

Rasul Yohanes dalam suratnya juga mengingatkan akan Yesus yang datang dengan air dan darah, yang bukan saja untuk menyembuhkan dan menghidupkan namun juga untuk menebus dan menyelamatkan. Itulah sebabnya selain air juga darah-Nya. “Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah” (1Yoh 5:6a).

Saudari dan saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, atas kasih dan pengorbanan Yesus yang datang dengan air dan darah untuk menyembuhkan dan menghidupkan, untuk menebus dan menyelamatkan kita, mari kita semakin mengasihi Dia. Mari kita semakin peduli akan air dan darah yang telah dikorbankan-Nya bagi kita dan dunia (bdk. 1Yoh 2:2).

Mari kita semakin bersaksi, juga tentang penggunaan air yang Tuhan berikan kepada bumi setiap hari. Tugas kita adalah merawat dan memelihara air supaya tidak terbuang begitu saja. Misalnya, menampung air hujan untuk menyirami tanaman di pot yang tidak terkena air hujan atau untuk membersihkan lantai dan sebagainya; juga melindungi air di sekitar kita agar tidak tercemar atau kotor.

Dalam Ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau), Paus Fransiskus juga menegaskan, “Sangatlah mulia mengemban tugas memelihara ciptaan melalui tindakan kecil sehari-hari, dan sangat mengagumkan bila pendidikan mampu mendorong orang untuk menjadikannya sebagai suatu gaya hidup. Pendidikan dalam tanggung jawab ekologis dapat mendorong berbagai perilaku yang memiliki dampak langsung dan signifikan untuk pelestarian lingkungan, seperti: menghindari penggunaan plastik dan kertas, mengurangi penggunaan air, memilah sampah, memasak secukupnya saja untuk dimakan, memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik, menggunakan transportasi umum atau satu kendaraan bersama dengan beberapa orang lain, menanam pohon, dan mematikan lampu yang tidak perlu” (No. 211).

Umat beriman yang dikasihi Tuhan, Paus Fransiskus telah memberikan banyak contoh konkret bagaimana kita mengemban tugas memelihara ciptaan. Mengurangi penggunaan air atau menggunakan air secukupnya adalah salah satu contoh dari sekian banyak tindakan konkret lainnya, yang jika dilakukan dengan penuh kesadaran, kesetiaan dan tanggungjawab akan menjadi bagian dari pertobatan ekologis, sebagaimana diminta oleh Paus Fransiskus.

Gaya hidup ekologis akan terbangun jika dimulai dengan membiasakan diri atau membangun habitus. Akan tetapi, sesuatu dapat dimulai dan terjadi, hanya jika ada pertobatan. Semoga air yang kita terima dan gunakan setiap hari dapat mengantar kita kepada pertobatan ekologis. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]