Renungan Harian

Renungan Harian 19 April 2026

Bacaan Liturgis – Hari Minggu Paskah III, Minggu, 19 April 2026

  • Bacaan Pertama: Kisah Para Rasul 2:14.22-33

  • Mazmur Tanggapan: Tuhan, Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan..

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mazmur 16:1-2a.5.7-8.9-10.11

  • Bacaan Kedua : 1 Petrus 1:17-21

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Tuhan Yesus, bukalah arti Kitab Suci bagi kami, kobarkanlah hati kami karena ajaran-Mu. Alleluya

  • Bacaan Injil: Lukas 24:13-35

HATI KITA BERKOBAR-KOBAR BERSAMA DENGAN YESUS

Sejak kematian Kristus yang begitu memilukan dengan digantung di kayu salib, para murid dilanda kegalauan, stress dan kecemasan yang tidak menentu. Para murid merasa kehilangan Yesus guru mereka. Situasi ini sangat dipahami oleh Yesus. Maka Dia ingin mengajar pelan-pelan tentang peristiwa kebangkitan-Nya. Sehingga Yesus menampakkan diri kepada kedua rasul dalam perjalanan ke Emaus dalam rupa yang tidak dikenali. Kota Emaus ini tidak jauh letaknya dari Yerusalem, sekitar 11 kilometer jaraknya. Kedua rasul memperbincangkan peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus dan berusaha mencari maknanya. Akan tetapi tanpa kehadiran Yesus mereka tidak mampu menemukan arti sesungguhnya dari peristiwa itu.

Tiba-tiba Yesus datang menghampiri mereka dan menemani perjalanan mereka. Awalnya kedua rasul mengira bahwa Yesus adalah salah satu dari peziarah yang sedang kembali menuju kampungnya sendiri sesudah merayakan Paskah di Yerusalem. Kedua rasul melihat Yesus dengan pengamatan mereaka sendiri tetapi gagal mengenal Yesus. Akan tetapi dengan perbincangan yang hangat dan penjelasan Yesus yang tentang kebangkitannya serta memecah-mecahkan roti, akhirnya mata mereka terbuka dan hati mereka berkobar-kobar. Meskipun awalnya hati mereka lamban akan tetapi Yesus tetap sabar untuk memberikan pencerahan dan pemahaman.

Mengenal Yesus, berjumpa dengan Yesus serta mengalami-Nya adalah pengalaman yang akan membawa kita kepada transformasi hidup. Dekat dengan Yesus mestinya hati kita umat beriman harus menjadi penuh semangat dan berkobar-kobar. Maka kita harus tekun dan serius berusaha merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Sebab pengalaman kehadiran Tuhanlah yang membuat hari demi hari kita akan secitra dan ‘sefrekuensi’ dengan Yesus hidup sendiri. Maka Ekaristi yang adalah peristiwa pemecahan Roti sebagai lambang tubuh-Nya menjadi kehadiran Yesus yang paling nyata dan konkrit. Semoga kita mencintai Ekaristi dengan sungguh-sungguh

@RP. Tinto Hasugian O. Carm