Renungan Harian

Renungan Harian 18 Januari 2026

Bacaan Liturgis – Hari Minggu Biasa II, 18 Januari 2026

  • Bacaan Pertama: Kitab Yesaya 49:3.5-6

  • Mazmur Tanggapan: Lihatlah, ya Tuhan, aku datang melakukan kehendak-Mu.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2.4ab.7-8a.8b-9.10

  • Bacaan Kedua: 1 Korintus 1:1-3

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya. Firman telah menjadi manusia, semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa menjadi anak-anak Allah. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Yohanes 1:29-34

Renungan Singkat :

Pengorbanan Kristus Tidak Pernah Sia-Sia

Dalam Injil hari ini kita menyaksikan Santo Yohanes Pembaptis memberi kesaksian hidup tentang Yesus yang dia kenal dan dia imani sebagai Sang Juru Selamat. Yohanes sebagai seorang yang berlatar adat istiadat Yahudi dan menganut tradisi adat istiadat Israel yang sangat kental, dia ingat akan spiritualitas penebusan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dengan menyelamatkan semua anak sulung bangsa Israel serta membinasakan semua anak sulung Mesir. Bangsa Israel dapat selamat dari kematian setiap anak sulung setelah terlebih dahulu mereka mengobarkan lembuh jantan tambun serta darahnya diolesi pada tiang pintu setiap rumah-rumah bangsa Israel.

Dalam analogi yang sama kita bandingkan dengan Yesus yang oleh Yohanes Pembaptis disebut sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Kristus bagaimana Anak Domba yang dipersembahkan oleh Allah Bapa bagi keselamatan manusia. Darah Kristus adalah Darah Anak Domba yang rela ditumpakan demi keselamatan umat manusia yang ada di dunia ini. Darah anak domba yang dipakai mengolesi tiang utama rumah-rumah orang Israel hanya mendatangkan keselamatan bagi seluruh bangsa Israel saja. Akan tetapi Darah Kristus adalah Anak Domba Paskah yang menumpahkan darah-Nya demi keselamatan seluruh manusia. Kristus menebus semua manusia tanpa terkecuali sekali untuk selamanya. Maka keselamatan Kristus terjadi sekali untuk selamanya untuk seluruh umat manusia di dunia ini.

Allah yang menyejarah menjadi manusia (Imanuel) menyatakan diri-Nya kepada manusia yang dilambangkan dengan burung merpati yang turun dari langit. Burung merpati ini adalah lambang sifat dari ke-Allah-an Kristus yang memancarkan kesetiaan, kelemahlembutan, komitmen, setia pada perjanjiannya dan tulus. Maka pantaslah kita bersyukur memahami penghayatan iman kita yang mendalam akan Allah yang sejati dalam diri Kristus. Allah kita kenal sungguh-sungguh sebagai Allah yang solider, siap berkorban dan setia kepada kita. Maka jangan pernah lagi takut dekat kepada Tuhan. Sebab Kristus yang adalah ‘wajah’ Allah yang sesungguhnya menunjukkan diri-Nya dengan kelemahlembutan dan cinta yang sempurna.

[RP Yohanes Tinto Tiopano Hasugian, O.Carm]