Bacaan Liturgis – Hari Kamis, Pekan III Prapaskah, 12 Maret 2026
Bacaan Pertama: Yeremia 7:23-28
Mazmur Tanggapan: Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati.
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2.6-7.8-9
Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, sabda Tuhan, sebab Aku ini pengasih dan penyayang. Terpujilah.
Bacaan Injil: Lukas 11:14-23
Yesus Difitnah
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pernahkah Anda difitnah orang? Misalnya, dkifitnah oleh sahabat, teman kerja atau pelayanan, tetangga atau salah seorang warga Gereja? Bagaimana reaksi atau tanggapan atau sikap Anda saat itu dan selanjutnya? Setiap orang yang pernah difitnah tentu mengalami beragam reaksi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “fitnah” artinya perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang lain. Misalnya, memfitnah untuk menodai nama baik atau merugikan kehormatan seseorang. Dengan demikian, fitnah jelas merupakan suatu perbuatan yang tidak baik, tidak benar dan tidak terpuji. Hal yang demikian, jangan pernah ditiru.
Yesus juga pernah difitnah. Perikop Injil hari ini merupakan salah satu buktinya. Fitnah bermula dari pelayanan Yesus ketika mengusir dari seseorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, meninggalkan orang yang telah dibungkam atau dibuatnya bisu, orang itu dapat berbicara atau berkata-kata. Peristiwa pengusiran atau penyembuhan tersebut akhirnya menimbulkan keheranan di antara orang banyak. Nah, dari antara mereka ada yang menyebar fitnah yang bunyinya, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan” (Luk 11:15).
Sang penyebar fitnah rupanya bukan seorang yang cerdas. Kalau mau berpikir logis, bagaimana penghulu atau pemimpin setan bisa bekerja sama dengan Yesus untuk mengusir setan yang ada dalam diri seseorang sampai orang itu tidak bisa omong alias bisu? Dalam bahasa sepak bola, apakah tindakan seperti itu bukan namanya gol bunuh diri yang menguntungkan pihak lawan? Sang penyebar fitnah rupanya tidak berpikir seperti itu. Yang penting, Yesus difitnah, dituduh mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan. Artinya, Yesus bisa mengusir setan seperti itu hanya karena dibantu atau diberi kuasa oleh penghulu setan-setan. Yesus tidak punya kuasa apa-apa.
Jadi jelas, fitnah itu bertujuan untuk mencemarkan atau merendahkan Pribadi Yesus dan kuasa yang bekerja di dalam Dia. Fitnah juga bertujuan untuk menolak apa yang Yesus lakukan, sekalipun hal itu telah membuat banyak orang heran.
Bagaimana reaksi atau sikap Yesus atas fitnah yang ditujukan kepada-Nya? Jika saja Yesus hidup di zaman Gus Dur, yang pernah menjadi presiden RI, Yesus akan berkata ala Gus Dur, “Gitu aja kok repot!” Artinya, Yesus merasa tidak perlu bereaksi secara emosional atau merasa kebakaran jenggot. Yesus menghadapi fitnah itu dengan tenang.
Namun, Yesus juga merasa perlu memberikan klarifikasi supaya orang lain yang sudah mendengar fitnah tersebut bisa melihat kebenaran, dan kebenaran sejati selalu ada pada Yesus, bukan pada setan-setan mana pun, termasuk bukan pada penyebar ftnah, siapa pun dia dan kapan pun pemfitnah itu melakukan aksinya, entah di zaman Yesus entah di zaman digital sekarang ini.
Klarifikasi Yesus memakai bahasa metafora atau perbandingan sederhana namun jelas. “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah pasti runtuh. Jika iblis itu terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimana kerajaannya dapat bertahan?” (ay. 17-18a). Yesus berkata demikian, sebab ada yang berkata bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul (ay. 18b).
“Jadi,” kata Yesus dalam penegasan-Nya, “jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya?” (ay. 19). Yesus mengajak mereka untuk berpikir logis.
Saya membayangkan, saat itu mulut mereka bungkam semua seperti seorang yang berhasil dibungkam setan dan akhirnya tidak bisa omong. Kemudian, Yesus menegaskan lagi supaya mereka tahu kebenaran yang sesungguhnya, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (ay. 20).
Dengan kuasa Allah, menurut pakar Kitab Suci, teks aslinya: Dengan jari Allah. Jadi, dengan jari Allah, Yesus mengusir setan (Katekismus Gereja Katolik, No. 700). Jari Allah adalah ungkapan Yahudi yang menggambarkan kuasa Allah. Kuasa Allah inilah yang bekerja dalam Diri Yesus, bukan kuasa Beelzebul, penghulu setan. Dengan demikian, peristiwa pengusiran setan yang membisukan menjadi tanda hadir atau datangnya Kerajaan Allah. Dengan hadir atau datangnya Kerajaan Allah, maka kerajaan setan kalah.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, peristiwa Yesus difitnah memberikan beberapa pesan: Pertama, fitnah adalah karya setan yang bercokol dalam diri manusia untuk menghambat atau menghalangi hadirnya Kerajaan Allah, yang juga adalah Kerajaan Kebenaran. Kedua, jika suatu saat difitnah, hadapi fitnah tersebut dengan tenang.
Ketiga, fitnah (berita bohong, hoaks) dipakai untuk memberikan opini publik bahwa Yesus tidak punya kuasa apa-apa, alias dimaksudkan untuk mengaburkan gambaran tentang Yesus yang sebenarnya. Keempat, melalui fitnah, kita bisa memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk mewartakan kebenaran yang sejati. Ingat, setiap murid Yesus diutus untuk menjadi pewarta kebenaran. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]