Renungan Harian

Renungan Harian 19 Agustus 2026

Bacaan Liturgi : Pekan Biasa XX, Rabu, 19 Agustus 2026

  • Bacaan Pertama : Nubuat Yehezkiel 34:1-11

  • Mazmur Tanggapan : R. Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan

  • Ayat Mazmur Tanggapan : Mazmur 23:1-3a.3b-4.5.6

  • Bait Pengantar Injil : Alleluya. Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji pikiran dan segala maksud hati. Alleluya.

  • Bacaan Injil : Matius 20:1-16

Belajar Bersyukur atas Kebaikan Allah

Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur. Ada yang bekerja sejak pagi, ada yang mulai siang, bahkan ada yang baru bekerja pada sore hari. Namun ketika tiba waktunya menerima upah, semuanya mendapatkan jumlah yang sama. Para pekerja yang datang lebih awal kemudian bersungut-sungut karena merasa diperlakukan tidak adil.

Melalui perumpamaan ini, Yesus mengingatkan kita bahwa kebaikan dan kemurahan hati Allah tidak dapat diukur dengan perhitungan manusia. Kita sering berpikir, “Saya sudah lama melayani Tuhan, mengapa orang yang baru bertobat juga menerima kasih dan pengampunan yang sama?” Kita mudah membandingkan diri dengan orang lain dan merasa bahwa kita lebih layak.

Namun Tuhan tidak pernah pelit dalam memberikan kasih-Nya. Ia melihat bukan hanya berapa lama kita bekerja, tetapi terutama hati yang mau datang kepada-Nya. Bagi Allah, setiap orang berharga dan setiap kesempatan untuk kembali kepada-Nya adalah anugerah.

Sabda Yesus, “Yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir”, mengajak kita untuk meninggalkan sikap iri, merasa paling berjasa, dan suka membandingkan diri. Sebaliknya, kita diajak untuk bersyukur karena Tuhan telah memberi kita kesempatan untuk hidup, melayani, dan mengalami kasih-Nya.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sungguh bersyukur atas kebaikan Tuhan, ataukah saya masih sering menghitung jasa dan membandingkan diri dengan orang lain?

Tuhan menghendaki agar kita bukan hanya menjadi pekerja di kebun anggur-Nya, tetapi juga menjadi pribadi yang memiliki hati seperti Dia: murah hati, penuh belas kasih, dan mampu bersukacita ketika orang lain menerima berkat.

Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk tidak iri dan tidak menghitung-hitung jasa kami. Berilah kami hati yang bersyukur atas segala kebaikan-Mu dan hati yang mampu bersukacita atas berkat yang Engkau berikan kepada sesama. Semoga kami setia bekerja di kebun anggur-Mu dengan kasih dan kerendahan hati. Amin.

(RP. Titus Brandsma Pantjaja Adji Wilasa, O.Carm.)