Bacaan Liturgis – Pekan III Prapaskah, Selasa, 10 Maret 2026
Bacaan Pertama: Nubuat Daniel 3:25.34-43
Mazmur Tanggapan: Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan.
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5ab.6-7bc.8-9
Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati, sabda Tuhan, sebab Aku ini pengasih dan penyayang.Terpujilah.
Bacaan Injil: Matius 18:21-35
Mengampunani Kesalahan Orang
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, jalinan persaudaraan yang hidup dan sehat membuat satu sama lain merasa diterima, disemangati, didukung dan diteguhkan meski berlainan tempat tinggal. Dalam berbagai kesulitan, masing-masing bisa saling membantu demi kebaikan dan kesejahteraan sesama saudara.
Namun, tidak sedikit orang mengalami hubungan antarsaudara yang tidak harmonis. Rasa tersinggung karena tidak dilibatkan, tidak diajak omong dalam mengatasi persoalan keluarga, pembagian warisan yang dianggap tidak adil, bisa menjadi pemicu keretakan, keresahan dan kemarahan antarsaudara. Rasa terluka dan kecewa mengubah suasana persaudaraan menjadi dingin, beku dan saling baku diam. Relasi persaudaraan menjadi tidak sehat. Bagaimana cara mengatasinya? Kita mencari inspirasi dari Kitab Suci, bagaimana Tuhan membimbing umat-Nya.
Injil hari ini menyajikan sebuah solusi jitu. Berangkat dari pertanyaan salah seorang murid Yesus bernama Petrus. Ia datang kepada Yesus dan bertanya, “Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat 18:21).
Kita tahu bahwa Petrus punya saudara bernama Andreas (lih. Luk 6:16). Apakah pertanyaan Petrus dilatarbelakangi oleh pengalaman bahwa Andreas, saudaranya, sering berbuat dosa terhadapnya? Apakah karena Petrus sudah angkat tangan, menyerah, kalau terus-terusan harus mengampuni saudaranya? Apakah Petrus memang sudah menghitung berapa kali dia telah mengampuni saudaranya, atau saat itu dia sudah mengampuni sampai tujuh kali? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak perlu kita jawab. Hal yang perlu kita lakukan adalah memerhatikan jawaban Yesus atas pertanyaan Petrus tersebut.
“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali,” jawab Yesus dengan tegas dan penuh wibawa (ay. 22). Jawaban Yesus rupanya di luar dugaan Petrus. Sebuah jawaban yang mengejutkan, meski Injil tidak mencatat ekspresi sang penanya saat mendengar jawaban Yesus. Dengan jawaban tersebut, Yesus mengarah-kan bukan saja Petrus tetapi juga para murid-Nya yang lain kepada semangat kasih yang tak terbatas, tidak dapat menghitung dan mengukur pengampunan secara kuantitatif.
Sebab bagi Yesus, mengampuni saudara mesti total, tidak hitung-hitungan, tidak setengah-setengah, tidak dengan batasan-batasan yang ukurannya dibuat sendiri. Pengampunan mesti total dalam arti melibatkan mulut yang omong, budi yang mengerti persoalannya, dan hati yang merasakan. Pengampuan yang total adalah pengampunan yang disampaikan didukung oleh batin yang mengampuni dan tidak mau menyimpan rasa dendam atau benci apa pun dalam hatinya.
Pengampunan yang diajarkan Yesus bukan sebuah pengampunan yang basa-basi “daripada ramai”. Pengampunan yang Yesus ajarkan dan teladankan adalah pengampunan yang tak bersyarat, bukan “pengampunan kalkulator”. Sama seperti Bapa mengampuni umat-Nya yang dilandasi oleh kasih sejati, demikian pula hendaknya pengampunan anak-anak Bapa yang di surga terhadap sesama saudara mesti tulus, penuh kasih dan tanpa syarat.
Saudara-saudari, umat beriman kekasih Tuhan, kata saudara yang disebutkan oleh Petrus bisa berarti saudara kandung, Andreas, namun juga bisa berarti saudara dalam pengertian salah seorang dari antara para murid Yesus. Sebab kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, Yesus pernah berkata, “Kamu semua adalah saudara” (Mat 23:8).
Jadi, siapa pun saudara itu, entah saudara kandung atau saudara seiman, atau bahkan saudara se-Bapa namun berlainan agama atau perbedaan lainnya, cara mengampuninya sama: Mesti tulus, penuh kasih dan tanpa syarat. Dalam praktik memang tidak mudah, maka selalu membutuhkan rahmat Allah. “Tanpa rahmat Allah, kita tidak dapat berbuat apa-apa,” kata Santo Agustinus.
Dalam hal mengampuni saudara, kadang dihadapkan pada peristiwa yang sulit untuk dilupakan. Lantas, bagaimana kalau tidak bisa melupakan peristiwa tersebut? Apakah pengampunan yang telah diberikan bisa dikatakan tulus? Dalam Ensiklik Fratelli Tutti (Semua Saudara), Paus Fransiskus berbicara tentang mengampuni tanpa melupakan. “Pengampunan tidak berarti melupakan. Lebih baik kita mengatakan, bila ada sesuatu yang sama sekali tidak dapat disangkal atau disembunyikan, namun kita dapat mengampuni. Bila ada sesuatu yang tidak pernah boleh ditoleransi, dibenarkan, atau dimaafkan, namun kita dapat mengampuni. Ketika ada sesuatu yang dengan alasan apa pun tidak boleh kita lupakan, namun kita dapat mengampuni. Pengampunan yang bebas dan tulus merupakan sesuatu yang luhur, yang mencerminkan agungnya pengampunan ilahi. Jika pengampunan itu diberikan dengan sukarela, bahkan mereka yang menolak untuk bertobat dan tidak mampu meminta pengampunan dapat diampuni” (No. 250).
Lebih lanjut Paus Fransiskus menegaskan, “Mereka yang benar-benar mengampuni tidak melupakan, tetapi mereka menolak dikendalikan oleh kekuatan destruktif yang sama yang telah menyakiti mereka. Mereka memutus lingkaran setan, menghentikan kemajuan daya kekuatan penghancur” (Ibid., No. 251). Luar biasa kekuatan dari tindakan mengampuni yang diberikan dengan bebas dan tulus, sukarela dan tanpa syarat. Balas dendam, menyimpan kebencian dan amarah adalah kekuatan destruktif (yang merusak) dan penghancur persaudaraan dalam keluarga, komunitas, kelompok-kelompok kategorial dan teritorial dalam paroki pun pula dalam masyarakat.
Oleh karena itu, saudara-saudari yang dikasihi Allah yang Maha Pengampun, mari kita semakin mengasihi agar kita dapat mengampuni sesama saudara dengan bebas dan tulus, sukarela dan tanpa syarat, alias total. “Karena, jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]