Renungan Harian

Renungan Harian 12 September 2026

Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XXIII, Sabtu, 12 September 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Korintus 10:14-22a

  • Mazmur Tanggapan: Aku mempersembahkan kurban syukur kepadamu, ya Tuhan.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13.17-18

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya. Orang yang mengasihi Aku akan menaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 6:43-49

Mendirikan Rumah dengan Kokoh

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Injil hari ini (Luk 6:43-49) terdiri dari dua perikop, yakni tentang pohon dan buahnya (ay. 43-45) dan tentang dua macam dasar (ay. 46-49). Kedua perikop tersebut secara liturgis digabung menjadi satu bacaan.

Tentang dua macam dasar itu, Yesus mengawalinya dengan sebuah pertanyaan, “Mengapa kalian berseru kepada-Ku, “Tuhan, Tuhan!” padahal kalian tidak melakukan apa yang Kukatakan?” (ay. 46). Ini adalah sebuah pertanyaan retoris, yang tidak memerlukan jawaban langsung.

Oleh sebab itu, Yesus lalu melanjutkan, “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan sabda-Ku serta melakukannya, - Aku menyatakan dengan siapa ia dapat disamakan: - Dia itu sama dengan orang yang mendirikan rumah. Ia menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena dibangun dengan kokoh” (ay. 47-48).

Datang, mendengarkan Sabda dan melakukannya adalah tiga tindakan iman seorang murid Yesus, dulu hingga sekarang. Melalui ketiga tindakan iman itulah dia, juga kita, digambarkan oleh Yesus sebagai sama dengan orang yang membangun dan mendirikan rumah dengan (dasar yang) kokoh, yakni di atas batu. Karenanya, rumah tersebut tidak dapat digoyahkan ketika datang air bah dan banjir melandanya (ay. 48).

Dalam Anjuran Apostolik Verbum Domini (Sabda Allah) yang ditujukan kepada Para Uskup, Klerus, para Religius, dan Umat Beriman mengenai Sabda Allah dalam kehidupan dan misi Gereja, dimaklumkan di Roma, pada 30 September 2010, Paus Benediktus XVI mengatakan, “Dalam membangun hidup, kita memerlukan dasar yang kokoh dan yang akan bertahan bila kepastian-kepastian manusiawi tak berhasil. Memang, karena “untuk selama-lamanya, ya Tuhan, Firman-Mu tetap teguh di surga” dan “kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan” (Mzm 119:89-90), siapa pun yang membangun di atas Firman ini membangun rumah kehidupannya di atas batu (Luk 6:47-48; bdk. Mat 7:24)” [Verbum Domini, No. 10].

Membaca Injil hari ini dalam terang Anjuran Apostolik Verbum Domini dari Bapa Suci Paus Benediktus XVI, pesan injili yang disampaikan kepada kita menjadi jelas dan transparan, bahwa perkataan Yesus, sabda-Nya, Injil-Nya yang “adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rom 1:16), mesti kita dengarkan dengan telinga dan hati yang terbuka serta kita lakukan dengan kedua tangan kita.

Kata “kedua tangan kita” adalah ungkapan simbolis bahwa Injil yang kita baca atau dengarkan setiap hari hendak kita lakukan dengan kesungguhan hati dan kekuatan kita. Sebab, melalui tindakan iman seperti inilah kita berusaha menghayati apa artinya “datang kepada Yesus” dan menjadi murid-Nya serta hidup dalam persekutuan umat-Nya, yakni Gereja yang didirikan-Nya.

Dengan mendengarkan dan melakukan sabda Yesus, kita membangun kehidupan beriman yang makin hari makin kokoh, tak tergoyahkan oleh angin badai, juga oleh badai pandemi Covid-19 yang belum reda. Injil Yesus yang dirayakan dalam Misa Kudus membuat pengharapan kita tidak pernah kendur. Apalagi, hidup yang ditopang oleh Injil, kekuatan Allah yang menyelamatkan, ini disatukan dalam tubuh dan darah Kristus.

Hal ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam bacaan pertama, “Bukankah piala syukur yang kita syukuri merupakan persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita bagi-bagi merupakan persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti itu hanya satu, maka kita ini sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:16-17).

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mari kita membangun rumah kehidupan dengan dasar yang kokoh, dan bertahan sampai pada kesudahannya, bagaikan mendirikan rumah dengan kokoh, di atas batu. Sabda dan Ekaristi yang kita hidupi setiap kali membuat bangunan kehidupan beriman kita makin kokoh, tidak tergoyahkan. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]