Bacaan Liturgis – Pesta Pemuliaan Salib Suci, Senin, 14 September 2026
Bacaan Pertama: Kitab Bilangan 21:4-9
Mazmur Tanggapan: Jangan melupakan perbuatan-perbuatan Allah.
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38
Bacaan Kedua: Filipi 2:6-11
Bait Pengantar Injil: Alleluya. Ya Kristus, kami menyembah dan memuji Dikau, sebab dengan salib-Mu Engkau telah menebus dunia. Alleluya.
Bacaan Injil: Yohanes 3:13-17
Betapa Agungnya Salib!
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini Gereja merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci. Pada kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan dua hal, yakni tentang puasa dan salib.
Pertama, tentang puasa. Dalam Regula Ordo Karmel, sebuah Regula atau pedoman hidup yang dibuat oleh Santo Albertus dari Yerusalem, yang pestanya dirayakan pada hari Kamis nanti, 17 September 2026, pada nomor 16 dikatakan, “Hendaklah kamu berpuasa setiap hari kecuali pada hari Minggu mulai dari Pesta Pemuliaan Salib Suci sampai hari kebangkitan Tuhan, kecuali bila penyakit atau kelemahan badan maupun alasan lain yang wajar menganjurkan untuk tidak berpuasa, sebab kebutuhan tidak mengenal hukum.”
Menurut Regula No. 16 tersebut, pada hari ini, Pesta Pemuliaan Salib Suci, para Karmelit mulai berpuasa, kecuali pada hari Minggu, yang berlangsung sampai hari Paskah, kebangkitan Tuhan. Santo Albertus tidak menentukan puasa secara rinci atau detail. Artinya, para Karmelit di Gunung Karmel saat itu, juga saat ini di seluruh dunia, bisa mengatur puasa sesuai dengan kebutuhan rohani mereka sendiri. Artinya, ada yang berpuasa lebih keras daripada yang lain.
Dalam rentang waktu antara Pesta Pemuliaan Salib Suci sampai dengan Paskah, para Karmelit tidak berpuasa pada hari Minggu. Kebiasaan Gereja kuno tidak memperbolehkan puasa pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah perayaan kebangkitan Tuhan. Dalam perkembangannya, selain hari Mingggu, juga pada hari pesta atau hari raya yang jatuh pada hari biasa, di luar hari Minggu, juga dibebaskan dari puasa.
Pada hari yang dikecualikan atau dibebaskan dari puasa tersebut, dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan kebiasaan penting makan bersama keluarga dan sanak saudara. Makan bersama di hari Minggu, dalam komunitas biara, komunitas pastoran atau keluarga, menjadi perluasan dari Ekaristi hari Minggu serta menjadi pengingat bahwa hari Minggu adalah perayaan kebangkitan Tuhan.
Selain itu, jika merusak kesehatan atau alasan lain yang wajar, puasa tidak diwajibkan. Dengan demikian, aturan puasa sangat manusiawi, tidak dimaksudkan sebagai beban melainkan sebagai suatu disiplin atau latihan keutamaan. Allah tidak pernah mencari kesenangan di atas ketidaknyamanan atau penderitaan manusia; dan juga Ia tidak berkenan dengan apa pun yang merusak atau membahayakan kesehatan manusia.
Dalam berpuasa, bisa juga dikaitkan dengan pantang, yakni menghindari makanan-makanan tertentu. Misalnya, pada hari-hari puasa tidak makan daging, kecuali ikan, atau pantang minum alkohol, pantang merokok, menonton televisi atau film atau sajian hiburan lain yang menggunakan media digital-sosial atau internet.
Kedua, tentang salib. Pusat renungan kita pada hari ini adalah salib. “Betapa agungnya salib!” kata Santo Andreas dari Kreta, yang juga disebut Santo Andreas dari Yerusalem. Ia sejak tahun 692 menjadi Uskup Agung Kreta hingga akhir hidupnya, tanggal 4 Juli 740.
Lebih lanjut Santo Andreas berkata, “Kalau tidak ada salib, Kristus tidak akan disalibkan. Kalau tidak ada salib, kehidupan tidak akan dipaku pada kayu. Kalau Ia tidak dipaku, aliran hidup abadi tidak akan memancar dari sisi-Nya: darah dan air, pembasuhan dunia; ingatan akan dosa-dosa kita tidak akan dihapuskan, kita tidak akan mendapatkan kebebasan, kita tidak menikmati pohon kehidupan, Firdaus tidak dibuka. Kalau tidak ada salib, maut tidak akan dienyahkan, alam maut tidak akan melepaskan mangsanya. Betapa agung salib itu!”
Dalam pengakuan iman Santo Andreas dari Kreta, salib juga merupakan saat peninggian Kristus. Seperti dalam Injil Yesus mengatakan, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:14-15). Yesus berkata bahwa Anak Manusia harus ditinggikan. Mengapa Dia harus ditinggikan? Mengapa Dia harus ditinggikan pada salib? Santo Andreas dari Kreta sudah menjawabnya, karena kalau Ia tidak dipaku pada salib, ingatan akan dosa-dosa kita tidak akan dihapuskan. Kita tetap berada dalam dosa.
Sementara Santo Anastasius dari Antiokhia (559-598) memberi alasan mengapa Yesus harus ditinggikan di salib untuk menebus manusia, yakni, “Karena manusia tidak dapat diselamatkan dengan cara lain.” Artinya, penderitaan dan salib adalah satu-satunya cara yang harus ditempuh oleh Yesus untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari segala dosa mereka! Manusia harus ditebus dengan darah yang mahal, yaitu darah-Nya sendiri yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1Ptr 1:19).
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, begitu besar kasih dan pengorbanan Yesus yang dinyatakan bagi kita di atas salib. Betapa agungnya salib itu. Maka, pada hari ini mari kita menyatakan rasa terima kasih dan solidaritas kita dengan Yesus, Sang Tersalib, dengan puasa dan doa. Semoga disiplin rohani ini berguna bagi hidup kita serta makin meneguhkan iman dan cinta kita kepada-Nya. Tuhan memberkati. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]