Renungan Harian

Renungan Harian 12 Juni 2026

Bacaan Liturgis – Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus, Jumat, 12 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: Kitab Ulangan 7:6-11

  • Mazmur Tanggapan: Kekal abadi kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2.3-4.6-7.8.10

  • Bacaan Kedua: 1Yohanes 4:7-16

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Pikullah kuk yang Kupasang, sabda Tuhan, dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Matius 11:25-30.

Selalu Membuka Hati

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hidup ini merupakan anugerah Allah. Oleh karena itu, hati yang mengucap syukur kepada-Nya atas hidup ini, atas napas hidup hingga hari ini, atas apa pun yang telah dan sedang kita alami, sudah layak dan sepantasnya. Mengucap syukur kepada Allah adalah sebuah “ingatan hati” akan karya Allah dan campur tangan-Nya dalam hidup ini, detik demi detik, terus-menerus, tak berkesudahan, seperti yang Dia kehendaki.

Misalnya, mengucap syukur sebelum menikmati makan yang telah disediakan di meja makan atau ketika makan bersama keluarga di sebuah rumah makan, adalah sebuah “ingatan hati” akan Allah, Sang Pemberi dan Pemelihara hidup. “Ingatan hati” seperti ini perlu dilakukan terus-menerus hingga menjadi sebuah habitus, kebiasaan yang lahir dari iman dan rasa syukur atas kasih dan kemurahan hati Allah.

Itulah sebabnya, dalam Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk sejenak bersyukur kepada Allah sebelum dan sesudah makan. “Salah satu ungkapan sikap (ketergantungan kepada Allah) ini adalah ketika kita berhenti sejenak untuk bersyukur kepada Allah sebelum dan sesudah makan,” kata Paus Fransiskus (Laudato Si’, No. 227). Benarkah kita selalu bersyukur kepada Allah sebelum dan sesudah makan? Ataukah kita terus memohon dan memohon, seolah-olah kita belum menerima makanan dari Allah, sementara perut kita sudah penuh dengan makanan enak?

Lebih lanjut Paus Fransiskus mengatakan, “Saya menganjurkan kepada semua orang beriman untuk kembali ke kebiasaan yang indah ini dan menghayati kedalamannya. Momen doa pemberkatan itu, meskipun sangat singkat, mengingatkan kita akan ketergantungan hidup kita pada Allah, memperkuat rasa syukur kita atas segala karunia ciptaan, mengakui upaya mereka yang telah menyediakan hidangan tersebut, dan meneguhkan solidaritas dengan mereka yang paling berkekurangan” (Ibid.).

Perhatikan anjuran Paus Fransiskus tersebut. Bagi beliau, mengucap syukur kepada Allah sebelum dan sesudah makan adalah sebuah kebiasaan yang indah, yang mesti dilakukan oleh umat beriman. Sebab, mengucap syukur merupakan salah satu ekspresi dari “kemampuan untuk takjub, yang menuntun ke kedalaman hidup” (Ibid., No. 225). Kemampuan untuk takjub atas anugerah Allah, dalam bentuk apa pun, bukan hanya dalam bentuk makanan, perlu dilatih, terus-menerus, hingga menjadi sebuah habitus (kebiasaan), bahkan menjadi sebuah sikap hidup.

Pada hari raya Hati Yesus Yang Maha Kudus ini Yesus memberi contoh, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyata-kan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu” (Mat 11:25-26).

Yesus bersyukur kepada Bapa, yang Dia akui sebagai Tuhan langit dan bumi. Alasannya, karena Bapa-Nya telah menyelamatkan orang-orang kecil, kaum miskin, yang selama ini dihina dan tidak pernah diperhitungkan oleh para pemuka Yahudi, yakni orang-orang bijak dan orang-orang pandai. Jadi, yang Yesus syukuri adalah karya Allah, yang telah dinyatakan kepada kaum kecil, lemah, dan miskin, orang-orang yang mau bergantung kepada Allah, Tuhan langit dan bumi.

Doa syukur Yesus kepada Bapa-Nya ini, jika dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya tampak jelas, bahwa dalam “kegagalan Yesus” untuk mempertobatkan penduduk di Kota Khorazin, Betsaida dan Kapernaum - meskipun di sana Yesus melakukan banyak mukjizat (Mat 11:20) - Yesus tetap mampu bersyukur kepada Bapa-Nya. Yesus memandang “kegagalan-Nya” sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dari rencana Allah yang Maha Bijaksana.

Secara tidak langsung Yesus mau mengatakan bahwa segala sesuatu yang selama ini dilakukan-Nya, bukanlah prakarsa-Nya sendiri, melainkan prakarsa Bapa-Nya. Dalam hal ini, Yesus hanya melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa-Nya (bdk. Yoh 4:34). Sebab itu, Yesus berkata, “Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu.”

Bapa berkenan menyatakan bahwa “kegagalan Yesus” terjadi karena hati orang-orang di Kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum begitu kerasnya. Sehingga, mereka menutup hati, tidak mau bertobat dan tidak mau percaya akan karya Allah sebagaimana dinyatakan lewat berbagai mukjizat Yesus. Hati yang keras seperti ini tidak akan mampu untuk mengucap syukur kepada Allah, sebab mereka tidak bisa merasakan dengan hati mereka karya-karya dan rahmat Allah yang telah dinyatakan-Nya dalam hidup mereka.

“Kegagalan Yesus” seolah-olah juga mau menunjukkan kepada kita bahwa kalau hati begitu keras dan tegar, sehebat apa pun karya Allah yang dinyatakan oleh Yesus tidak akan mengubah hidup kita. Keselamatan-Nya tidak menjadi pengalaman hidup kita. Karya keselamatan-Nya tidak mau dipaksakan. Biarlah hanya orang yang memiliki keterbukaan hati akan mengalaminya dan bersyukur kepada Allah.

Oleh karena itu, saudara-saudari yang dikasihi dan dipelihara Tuhan, mari kita berhenti mengeraskan hati dan menutup diri. Mari kita belajar untuk selalu membuka hati dan bergantung kepada Allah yang begitu mengasihi kita (1Yoh 4:11). Mari kita selalu sadar bahwa tanpa Allah dan rahmat-Nya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, ketika rahmat Allah dinyatakan kepada kita, apa pun itu, kita mampu untuk bersyukur kepada-Nya. Dari Hati Yang Maha Kudus, Yesus, Sang Guru, telah memberi contoh-teladan kepada kita, murid-murid-Nya. Tuhan memberkati! [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]