Renungan Harian

Renungan Harian 26 Januari 2022

Bacaan Liturgis – Peringatan Wajib Santo Timotius dan Titus, Uskup, Rabu, 26 Januari 2022

  • Bacaan Pertama: 2 Timotius 1:1-8 atau Titus 1:1-5
  • Mazmur Tanggapan: Ceritakanlah karya-karya agung Tuhan di antara segala suku bangsa.
  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mazmur 96:1-2a.2b-3.7-8a.10
  • Ayat Bait Pengantar Injil: Tuhan mengutus Aku menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin dan memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan. Alleluya.
  • Bacaan Injil: Lukas 10:1-9

Renungan Singkat - Damai Sejahtera

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pada awal perayaan Ekaristi imam selalu memberi salam kepada umat yang hadir, antara lain dengan berkata: Rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus, bersamamu. Salam ini merupakan salah satu dari tiga rumus salam pembuka yang diucapkan oleh imam dan disediakan satu rumus salam khusus untuk diucapkan oleh uskup.

Salam berbunyi Rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus, bersamamu merupakan sebuah salam yang biblis atau alkitabiah karena diambil dari Kitab Suci Perjanjian Baru. Adalah Rasul Paulus dan Yohanes yang selalu memberikan salam ketika menulis surat kepada jemaat sebagai jemaat atau kepada anggota jemaat. Seperti dalam bacaan pertama, pilihan pertama (2Tim 1:1-8), Rasul Paulus memberi salam kepada Timotius, anaknya yang terkasih, Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau (ay. 2). Dalam bacaan pertama pilihan kedua (Tit 1:1-5) Rasul Paulus memberi salam kepada Titus, anaknya yang sejati dalam iman, Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau (ay. 4).

Dalam pemberian salam, disebutkan kata damai sejahtera. Damai sejahtera yang diberikan itu berasal dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus. Setiap umat yang hadir, berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi, pasti menerimanya. Kecuali, kalau dia datang terlambat. Apa yang Anda rasakan ketika menerima damai sejahtera tersebut? Menerima damai sejahtera adalah anugerah yang sungguh indah, berharga dan penting dalam hidup beriman sebagai pengikut-pengikut Yesus. Mengapa?

Tujuh puluh murid Yesus diutus berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Yesus berpesan kepada mereka,

Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jika di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu akan kembali kepadamu (Luk 10:5-6).

Jadi, menerima anugerah damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus dan menyadari bahwa damai sejahtera tersebut menyertai hidup kita adalah anugerah yang sungguh indah, berharga dan penting, karena ketika kita diutus, damai sejahtera yang telah kita alami itulah yang harus kita berikan dan bagikan kepada orang lain yang kita jumpai atau kunjungi. Begitu pentingnya, sehingga (damai sejahtera) itu harus dikatakan lebih dahulu ketika memasuki suatu rumah.

Sayang, dimensi rasa kurang mendapat perhatian di kalangan umat. Setiap kali menghadiri Misa Kudus atau perayaan Ekaristi, kita menerima damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Namun, ketika kita pulang dari gereja, wajah menampakkan seolah-olah tidak menerima apa-apa dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus.

Saudara-saudari yang dikasihi Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, mari kita belajar mempertajam rasa. Dengan demikian, dengan menerima damai sejahtera, dan damai sejahtera itu menyertai kita, kita benar-benar menjadi umat Allah yang hidup dalam damai sejahtera. [RP. A. Ari Pawarta, O.Carm.]