Bacaan Liturgis – Hari Biasa Pekan XXX, Kamis, 29 Oktober 2026
Bacaan Pertama: Efesus 6:10-20
Mazmur Tanggapan: Terpujilah Tuhan, gunung batuku!
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1.2.9-10
Bait Pengantar Injil: Alleluya. Terberkatilah yang datang atas nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga. Alleluya.
Bacaan Injil: Lukas 13:31-35
Kristus Datang Membawa Kebenaran Sejati
Ada ungkapan yang mengatakan, “Katakanlah kebenaran dengan berani, meskipun terasa pahit kedengaraannya.” Kata-kata ini sangat tegas dan keras, akan tetapi memang kebenaran harus tetap ditegakkan dan dijunjung tinggi agar hidup yang sesungguhnya yaitu terciptaanya keadilan dan kehidupan moral yang ideal dapat terwujud. Kedatangan Kristus ke dunia ini memang membawa terang dan cinta kasih bagi manusia yang mau dengan rendah hati menerima pengajaran dan pencerahan yang diwartakan oleh Kristus. Akan tetapi Kristus tidak hanya mewartakan terang dan cinta kasih, Dia juga secara konsisten mengatakan kebenaran dan secara konsisten dan tegas pula untuk menegakkan kebenaran itu. Dia tidak takut berhadapan kepada siapa pun, termasuk kepada raja Herodes penguasa kerajaan yang bertindak secara sewenang-wenang, kejam dan tak memiliki belas kasih. Yesus juga tidak takut ketika harus berhadapan dengan orang-orang penting dan berpengaruh dalam kehidupan beragama dan bermasyarat di Israel pada jaman Dia hidup. Mereka itu adalah para imam kepala, ahli taurat dan orang-orang Farisi.
Sebagai seorang kristiani yang sejati memang Kristus mengajarkan kepada kita ajaran cinta kasih sebagai inti dari hidup. Akan tetapi Kristus juga mengajarkan kepada kita seruan kenabian untuk berani mengatakan kebenaran meski harus mempertaruhkan kedudukan, posisi dan bahkan nyawa kita sendiri. Salah satu sifat dari Allah itu adalah Sang Kebenaran. Maka nilai kebenaran harus kita perjuangkan dan kita hadirkan terus-menerus dalam kondisi apapun sebagai bentuk perwujudan kehadiran Tuhan dalam kehidupan bersama. Mari belajar dari Kristus, berani membela kebenaran serta memperjuangkannya meskipun Dia akhirnya mendapatkan fitnahan, menerima tuduhan palsu dan akhirnya di gantung di kayu salib. Dia tidak mundur sedikit pun meski mendapat tekanan dan ancaman karena kebenaran tidak bisa ditawar-tawar. Ketika kebenaran bisa dinegosiasi dan dan ditawar-tawar maka akan tercipta ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kekuasaan yang diktator. Maka mari terus membela dan mewujudkan kebenaran sebagai tanda hadirnya otoritas Allah dalam kehidupan manusia di dunia ini.
@RP Tinto Hasugian O. Carm