Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XXIII, Selasa, 06 September 2022
- Bacaan Pertama: 1 Korintus 6:1-11
- Mazmur Tanggapan: Tuhan berkenan kepada umat-Nya.
- Ayat Mazmur Tanggapan: Mazmur 149:1-2.3-4.5-6a.9b
- Ayat Bait Pengantar Injil: Kalian telah Kupilih dari dunia dan Kutetapkan agar pergi dan berbuah, dan buahmu tinggal tatap. Alleluya.
- Bacaan Injil: Lukas 6:12-19
Renungan Singkat - Mendengarkan Dia
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini adalah hari keenam dalam Bulan Kitab Suci Nasional. Bagaimana dengan lima hari yang telah dilewati, apakah Anda sudah membuka halaman-halaman tertentu dari Kitab Suci dan kemudian membacanya? Jika belum, mulailah membacanya hari ini. Jika hari ini tidak (sempat) memulainya, besok pun belum tentu akan memulainya; lagi pula kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita esok hari. Jika Anda sudah melakukan pembacaan Kitab Suci, secara pribadi atau dalam kelompok kecil atau dalam keluarga, silakan dilanjutkan.
Melalui Minggu atau Bulan Kitab Suci Nasional, kita membangun sebuah habitus, sebuah kebiasaan baik untuk membaca Kitab Suci. Sedapat mungkin membacanya secara pribadi, sebab kita bukanlah seorang yang buta huruf, yang tidak bisa membaca atau mengenali huruf-huruf dalam sebuah rangkaian kalimat. Anugerah Allah berupa mata yang bisa melihat dan membaca huruf, abjad dan tulisan mesti kita aplikasikan dalam bentuk membaca Kitab Suci. Inilah kegiatan membaca tingkat (lebih) tinggi dalam hal membaca. Membaca buku pengetahuan atau buku komik atau membaca surat kabar (koran), adalah kegiatan manusiawi. Namun, membaca sabda Allah dalam Kitab Suci adalah sebuah kegiatan manusia beriman pada tingkat yang (lebih) tinggi. Mengapa? Karena dalam kegiatan membaca ini kita melibatkan Sosok ilahi, yakni Allah dan/atau Yesus Putra-Nya sendiri.
Rm. Oscar Lukefahr, CM, penulis buku A Catholic Guide to the Bible: Memahami dan Menafsir Kitab Suci Secara Katolik, yang merupakan bahan kursus Kitab Suci yang telah diberikan selama enam puluh tahun, yang diselenggarakan di Catholic Home Study Service (CHSS) oleh Komunitas Vincentian & Missouri Knights of Columbus, Amerika Serikat, mengatakan dalam buku tersebut, “Jika kita membuka dan membaca Kitab Suci, Allah yang tidak terbatasi oleh waktu dan ruang, berbicara kepada kita melalui Sabda yang sama yang telah disampaikan-Nya kepada Abraham, Musa dan para nabi. Begitu pula jika kita membuka dan membaca Kitab Suci, Yesus berbicara kepada kita seketika itu juga, sebagaimana halnya Ia berbicara kepada para rasul dua ribu tahun yang lalu” (hlm. 47).
Dengan membaca Kitab Suci, kita mendengarkan Allah yang bersabda kepada kita, seperti dahulu Dia berbicara kepada para nabi-Nya (Ibr 1:1). Dengan membaca Injil, kita mendengarkan Yesus yang berbicara kepada kita, seperti dahulu Yesus berbicara kepada orang banyak yang datang kepada-Nya.
Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang berbicara atau mengajar orang banyak yang datang kepada-Nya. Hal ini terjadi, ketika Yesus turun dari sebuah bukit dan tiba di tempat datar; di tempat datar itu sudah berkumpul sejumlah besar murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan Yerusalem, dari Pantai Tirus dan Sidon (Luk 6:17). Perhatikan catatan Penginjil Lukas, Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang kerasukan roh-roh jahat mendapat kesembuhan (ay. 18).
Satu hal yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pertama-tama mereka - sejumlah besar murid-murid-Nya dan banyak orang lain - datang kepada Yesus dengan motivasi untuk mendengarkan Dia. Mereka menempatkan Yesus sebagai Rabi, yang artinya Guru, yang tugas-Nya adalah mengajar. Sebagian dari mereka yang datang kepada-Nya telah menyatakan diri mau menjadi murid-murid-Nya karena percaya akan apa yang Yesus ajarkan. Orang-orang Farisi dan Herodian tahu bahwa Yesus sebagai Guru “dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran” (Mrk 12:14). Namun, mereka tidak mau menjadi murid-murid Yesus. Mereka tidak mau percaya kepada Yesus, Sang Juruselamat. Mereka tidak mau diselamatkan oleh-Nya.
Saudara-saudari, umat beriman, kita yang telah percaya kepada Yesus dan menjadi murid-murid-Nya mesti memiliki hati dan telinga seorang murid, yakni hati dan telinga yang mau mendengar dan mendengarkan Dia yang bersabda, juga jika Ia bersabda melalui Kitab Suci atau Injil. Bagi Yesus, memiliki telinga yang bisa dan mau mendengarkan adalah sikap dasar yang penting dimiliki oleh seorang murid. Itulah sebabnya berkaitan dengan hal penting yang disampaikan-Nya Yesus sering berkata, Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Mat 11:15). Dalam Injil Matius, pernyataan seperti ini beberapa kali Yesus ucapkan. Selain dijumpai pada Mat 11:15, juga dikatakan oleh Yesus pada Mat 13:9 dan 43.
Dalam Kitab Wahyu bahkan lebih sering lagi diserukan pernyataan yang serupa. Misalnya, Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat (Why 2:7). Pernyataan yang sama diserukan lagi pada Why 2:11, 17, 29; 3:6, 13, 22 dan terakhir, pernyataan yang sama seperti yang Yesus serukan dalam Injil, Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Why 13:9).
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kita telah dianugerahi telinga yang bisa mendengar. Mari kita bertekun untuk mendengarkan Dia, yang bersabda kepada kita melalui Kitab Suci atau Injil. [RP. A. Ari Pawarta, O.Carm.]