Kapel Adorasi

Santa Teresia Benedikta dari Salib

06.30 WIB - 22.00 WIB

Aksi Puasa Pembangunan 2025

Kepedulian Lebih Kepada Saudara Yang Lemah dan Miskin

05 Maret 2025 - 12 April 2025

Ziarah Porta Sancta

Paroki Meruya

08.00 WIB - 20.00 WIB

Tahun Yubileum 2025

Peziarah Pengharapan

24 Desember 2024 - 06 Januari 2026

Pendampingan Romo Moderator

Tahun 2025

Silahkan Klik Lebih Lanjut

Jadwal Petugas Tata Tertib 2025

Paroki Meruya

Info Lebih Lanjut

Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Jumat 28 Maret 2025

Bacaan Liturgis – Hari Jumat, Pekan III Prapaskah, 28 Maret 2025

  • Bacaan Pertama: Nubuat Hosea 14:2-10

  • Mazmur Tanggapan: Akulah Tuhan, Allahmu, dengarkanlah suara-Ku.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6c-8a.8bc-9.10-11ab.14.17

  • Bacaan Kedua: Ibrani 10:4-10

  • Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Bertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Markus 12:28b-34

Renungan Singkat : Satu-satunya Cahaya yang Terus Menyala

Saudari dan saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini adalah hari pantang. Selama Masa Prapaskah ini para saudara bisa memilih pantang apa saja. Silakan dan selamat! Namun, jangan ada di antara para saudara yang memilih pantang kasih. Sebab, kasih itu dasar, jiwa dan semangat yang membuat pantang apa pun bernilai bagi hidup keimanan. Maka, jika para saudara memilih pantang kasih, apa pun yang dilakukan tidak memberkati.

Hari ini kita akan fokus pada permenungan tentang kasih. Namun, jika kita berbicara atau merenungkan tentang kasih, maka yang kita bicarakan atau renungkan tidak lain adalah Allah. Mengapa? “Sebab Allah adalah kasih,” kata Rasul Yohanes dalam suratnya yang pertama (1Yoh 4:8). Rasul Yohanes menegaskan, “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1Yoh 4:16b).

Kasih itu membahagiakan. Sebab barangsiapa tetap di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Siapa tidak merasa bahagia jika Allah di dalam dia? Siapa tidak bahagia jika ia telah mengalami kasih Allah dan kasih-Nya tetap di dalam dia?

Para saudara, “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rom 5:5). Dengan mencurahkan kasih-Nya, Allah berinisiatif untuk mengasihi kita lebih dahulu supaya kita mengalami sebagai orang yang dikasihi oleh-Nya. Pengalaman dikasihi oleh Allah adalah sesuatu yang penting. Sebab, jika kita tidak lebih dahulu memiliki pengalaman dikasihi oleh Allah, kita tidak bisa mengasihi Allah.

Dalam bahasa Santa Teresa dari Avila dikatakan begini, “Tidak seorang pun dapat memberikan apa yang tidak dimilikinya; Dia harus memilikinya dulu” (Pendirian Biara-Biara Pertama, 5:13). Tidak seorang pun dapat memberikan kasih yang tidak dimilikinya; Dia harus memiliki kasih lebih dulu. Dia harus memiliki atau mengalami apa artinya dikasihi sehingga dengan pengalaman itu dia bisa mengasihi.

Santa Teresa dari Avila menangkap maksud hati Allah, yang dalam bahasa surat Rasul Yohanes dikatakan demikian, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh 4:19). Ayat ini menjawab pertanyaan mendasar, “Dapatkah kita mengasihi Allah yang tidak kita lihat? Tak seorang pun pernah melihat Allah – bagaimana kita dapat mengasihi-Nya?”

Allah tahu akan kelemahan manusia. Manusia tidak dapat mengasihi jika tidak dikasihi-Nya lebih dahulu. Maka, kalau dalam Injil hari ini disajikan jawaban Yesus atas pertanyaan seorang ahli Taurat tentang perintah yang paling utama, “Perintah yang paling utama ialah: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12:29-30), manusia atau kita bisa melakukan perintah ini karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.

Bagaimana konkretnya kita bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan? Rasul Yohanes menulis dalam suratnya, “Jikalau seorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, makai a adalah pendusta. Karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4:20).

Rasul Yohanes menunjukkan gandengan antara perintah yang paling utama, yakni mengasihi Allah dengan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan dan perintah yang kedua, yakni mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Mrk 12:31a). Gandengan antarkeduanya begitu kuat, sehingga tidak bisa mengandaikan salah satu perintah saja.

Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Deus Caritas Est (Allah Adalah Kasih) mengatakan, “Kasih eksplisit dituntut sehubungan dengan Surat Pertama Yohanes (1Yoh 4:20) yang baru dikutip. Di situ digarisbawahi keterkaitan tak terpisahkan antara kasih akan Allah dan akan sesama. Keduanya merupakan kesatuan sedemikian rupa, sehingga mengatakan mengasihi Allah tetapi menutup dirinya kepada sesama atau bahkan membencinya menjadi dusta. Ayat Yohanes ini harus ditafsirkan lebih dalam arti bahwa kasih akan sesama adalah juga jalan menjumpai Allah, dan bahwa memalingkan diri dari sesama juga membuat buta terhadap Allah” (No. 16).

Paus Fransiskus menegaskan pernyataan Paus Benediktus XVI demikian, “Paus Benediktus XVI telah mengatakan bahwa ‘menutup mata terhadap sesama kita juga membutakan kita terhadap Allah’, dan bahwa kasih, pada dasarnya adalah satu-satunya cahaya yang ‘dapat selalu menyinari dunia yang kelam dan memberi kita keberanian yang diperlukan untuk tetap hidup dan berkarya” (Seruan Apostolik Sukacita Injil, No. 272).

Para saudara, mari kita mengasihi Allah dengan tidak menutup mata terhadap sesama kita, terlebih sesama saudara yang lemah dan miskin, bahkan tidak membencinya agar kita tidak menjadi pendusta. Mari kita terus menyalakan “satu-satunya cahaya”, kata Paus Fransiskus, yang menyinari setiap langkah laku kita sebagai kaum peziarah pengharapan.

Saya juga mengajak: Mari kita terus berharap agar satu-satunya cahaya itu tidak redup dan akhirnya padam sehingga kita tersandung, jatuh dan binasa. Kasih, satu-satunya cahaya yang terus menyala biarlah tetap menyala hingga membawa kita ke surga.

[RP. A. Ari Pawarto, O.Carm]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Tahun Yubileun 2025* Oleh Romo Agustinus Ari Pawarto O.Carm