Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Jumat 20 Februari 2026

Bacaan Liturgi : Hari Sesudah Rabu Abu, Jumat, 20 Februari 2026

  • Bacaan Pertama : Yesaya 58:1-9a

  • Mazmur Tanggapan : R. Hati yang remuk rendam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

  • Ayat Mazmur Tangapan : Mazmur 51:3-4.5-6a.18-19

  • Bait Pengantar Injil : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal. Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup, dan Allah akan menyertai kamu. Terpujilah.

  • Bacaan Injil : Matius 9:14-15

Puasa

Ketika murid-murid Yohanes melihat bahwa murid-murid Yesus tidak berpuasa, mereka bertanya kepada Yesus, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Yesus menjawab bahwa selama seorang berada bersama sang mempelai laki-laki, ia tidak berpuasa, tetapi bergembira bersama mempelai laki-laki. Nanti jika pesta perkawinan telah selesai orang dapat berpuasa kembali sesuai kebiasaan yang ada. Dalam hal ini Yesus adalah Sang Mempelai laki-laki, sedangkan para murid adalah sahabat Mempelai laki-laki. Selama Yesus berada di tengah-tengah para murid dan para murid hidup menurut kehendak Yesus, maka mereka tidak wajib berpuasa. Namun akan tiba waktunya dimana Yesus diambil dari mereka (Yesus ditangkap, disiksa dan disalibkan), mereka merasa jauh dari Yesus, dan membutuhkan penghiburan serta peneguhan dari Yesus, pada saat itulah mereka akan berpuasa.

Dari sini Yesus hendak mengatakan kepada kita bahwa puasa bukan merupakan sesuatu yang mutlak harus dilakukan oleh seseorang. Bila seseorang merasa dirinya dekat dengan Yesus dan selalu hidup menurut jalan (kehendak) Yesus, maka ia tidak wajib berpuasa. Puasa hanyalah sarana, bukan tujuan. Tujuan yang utama adalah pertobatan atau pembaruan diri yang harus nampak dalam tindakan nyata. Bila orang berpuasa, tetapi dia hidup dalam belenggu dosa dan membenci sesamanya, maka puasanya tidak ada artinya. Puasa hanya akan berarti bila orang mau melepaskan diri dari belenggu dosa dan menunjukkan belaskasinya terhadap sesamanya yang menderita. Mungkin pada kesempatan ini kita bisa bertanya pada diri sendiri : Apakah kita telah menghayati puasa kita secara benar ataukah kita terjebak pada puasa yang semu. Menghayati puasa hanya secara lahiriah dan kurang menghayati dan menyadari tujuan dari puasa itu sendiri, yaitu pertobatan atau pembaruan diri. Amin.

Marilah berdoa :

Allah Bapa yang Mahakuasa, bantu kami agar kami dapat menghayati puasa dengan baik. Bukan hanya soal tidak makan dan minum, tetapi sebagai sarana pertobatan atau pembaruan diri. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

(RP. Titus Brandsma Pantjaja Adji Wilasa, O.Carm.)

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Merayakan Pertobatan" Oleh Romo Agustinus Ari Pawarto O.Carm