Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Mingguan

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (setiap Sabtu Pertama setiap bulan)

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Minggu 20 September 2026

Liturgis โ€“ Hari Minggu Biasa XXV, 20 September 2026

  • Bacaan Pertama: Kitab Yesaya 55:6-9

  • Mazmur Tanggapan: Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3.8-9.17-18

  • Bacaan Kedua: Filipi 1:20c-24.27a

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya.Tuhan, bukalah hati kami, sehingga kami memerhatikan sabda Putra-Mu. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Matius 20:1-16

Gapailah Kerajaan Surga Bukan dengan Iri Hati

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini kita memasuki hari Minggu Biasa XXV, minggu keempat dalam Bulan Kitab Suci Nasional. Bersama Gereja, umat Allah, hari ini kita melanjutkan bacaan dan renungan dari Injil Matius. Perikop hari ini berupa perumpamaan yang diambil dari bab 20:1-16. Dalam Kitab Suci, perikop ini diberi judul โ€œPerumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggurโ€.

Di antara orang-orang upahan yang diminta untuk bekerja di kebun anggur tersebut ada yang merasa iri hati. Iri hati merupakan hal yang biasa terjadi di kalangan para buruh, karyawan atau pegawai, atau di kalangan apa pun. Iri hati bisa menyangkut masalah durasi waktu kerja (jumlah jam kerja), upah atau gaji, pemberian bonus atau tunjangan dan sebagainya. Apa pun bisa mendatangkan rasa iri hati.

Selain itu, iri hati bisa terjadi dalam diri siapa saja. Rasul Paulus mengingatkan begini, โ€œJika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan, bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?โ€ (1Kor 3:3b).

Rasul Yakobus juga mengingatkan bahwa jika seseorang menaruh perasaan iri hati, โ€œItu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dan dari setan-setanโ€ (Yak 3:15). โ€œSebab,โ€ kata Rasul Yakobus, โ€œdi mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahatโ€ (ay. 16).

Rasul Yakobus berbicara cukup tegas, keras dan jelas bahwa iri hati datang dari setan-setan. Hal ini juga dikatakan oleh Santa Faustina dalam catatan hariannya, โ€œAku sangat heran bagaimana orang dapat sedemikian iri hati. Apabila aku melihat kebaikan orang lain, aku bersukacita karenanya, seolah-olah itu juga merupakan kebaikanku. Sukacita orang lain adalah sukacitaku, dan penderitaan orang lain adalah penderitaanku; kalau tidak, aku tidak akan berani menyatukan diri dengan Tuhan Yesus. Roh Yesus selalu sederhana, lemah lembut dan tulus; segala kedengkian, kecemburuan dan kemunafikan adalah setan-setan kecil yang licik. Perkataan keras yang mengalir dari kasih yang tulus tidak pernah melukai hatiโ€ (Buku Harian Santa Faustina, No. 633).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata iri hati juga berarti kurang senang melihat kelebihan orang lain atau cemburu, atau sirik atau dengki. Dalam hal ini Santa Faustina benar bahwa iri hati dimengerti juga dengan kecemburuan atau kedengkian. Apa pun nama yang digunakan, apakah iri hati atau kecemburuan atau kedengkian, โ€œadalah setan-setan yang licikโ€, kata Santa Faustina. Setan-setan kecil ini menguasai hati manusia.

Seperti orang-orang upahan yang bekerja di kebun anggur, yang bekerja mulai pagi-pagi benar, tidak disebutkan jam berapa, maka saya sebut, katakan mulai bekerja jam 5 pagi dan sepakat mengenai upah satu dinar sehari (Mat 20:2). Mereka lupa bahwa sudah ada kesepakatan awal dengan pemilik kebun anggur mengenai upah satu dinar sehari sehingga ketika tahu bahwa para upahan lain yang bekerja mulai jam 5 sore, berarti hanya bekerja satu jam dan mendapat upah yang sama, yakni satu dinar sehari, maka mereka langsung bersungut-sungut karena iri hati. โ€œKetika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya, โ€˜Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam, dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahariโ€™โ€ (ay. 11-12).

Bagaimana tanggapan pemilik kebun anggur itu? Katanya, โ€œSaudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat satu dinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?โ€ (ay. 13-15). Tanggapan sang pemilik kebun anggur itu cukup tegas, keras dan jelas. Lantas pesan apa yang hendak disampaikan kepada kita, yang hidup di zaman ini, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan?

Pertama, Tuhan itu murah hati. โ€œSeumur hidup Ia murah hati,โ€ kata Daud (Mzm 30:6). Tuhan sendiri juga mengatakannya kepada Nabi Yeremia, โ€œAku ini murah hati, demikianlah firman Tuhanโ€ (Yer 3:12). Maka, Tuhan bisa bermurah hati kepada siapa saja Ia menghendakinya. Ia bisa bermurah hati bahkan kepada orang-orang yang kita anggap tidak berhak menerimanya. Kita bisa iri hati karenanya.

Namun, tak seorang pun, termasuk kita, bisa mengatur Tuhan dan kehendak-Nya. Murah hati adalah sifat Tuhan dan kalau Ia murah hati, itu urusan-Nya. Sebab itu, jika Tuhan memerhatikan orang lain dan bermurah hati kepadanya, kita tidak boleh iri hati. Kita malah mesti bergembira dan bersukacita karenanya, seperti dilakukan oleh Santa Faustina ketika melihat kebaikan orang lain.

Kedua, ingat bahwa hari ini Yesus berbicara kepada kita tentang Kerajaan Surga melalui sebuah perumpamaan. Berapa pun lamanya masa atau jam kerja โ€“ gambaran tentang masa hidup manusia segala zaman โ€“ Tuhan memberikan upah yang sama: Kerajaan Surga.

Oleh sebab itu, para saudara-saudari, kekasih Tuhan, selama masa peziarahan di bumi, rumah kita bersama ini marilah kita hidup dan bekerja dengan iman dan bertanggung jawab agar kelak kita mendapatkan upah: Kerajaan Surga. Gapailah Kerajaan Surga bukan dengan iri hati, tetapi dengan bermurah hati, seperti Tuhan murah hati! [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.