Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Selasa 03 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Pekan II Prapaskah, Selasa, 03 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Yesaya 1:10.16-20

  • Mazmur Tanggapan: Siapa yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9.16bc.17.21.23

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Buanglah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap-Ku, dan perbaruilah hati serta rohmu. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Matius 23:1-12

Kamu Semua Adalah Saudara

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ketika berefleksi tentang pribadi manusia dalam rencana Allah dan kemudian merumuskannya dalam Konstitusi Pastoral tentang Tugas Gereja dalam Dunia Dewasa Ini (Gaudium et Spes, Kegembiraan dan Harapan), para Bapa Konsili Vatikan II menegaskan bahwa manusia di dunia ini merupakan satu-satunya makhluk yang oleh Allah dikehendaki demi dirinya sendiri (No. 24).

Benar bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk, tiada duanya. Ia diciptakan dan dikehendaki demi dirinya sendiri sebagai pribadi yang segambar atau secitra dengan Allah (Latin: Imago Dei). Sebab itu, sebagai pribadi yang segambar dengan Allah, manusia bukanlah sesuatu, melainkan seseorang. Karenanya, ia bersifat unik, berharga, mulia dan bahkan tak ternilai. Pasalnya, sebagai pribadi, manusia mampu mencari Allah Penciptanya, mampu berelasi dengan-Nya, juga mampu memahami dan merefleksikan dirinya serta hubungannya dengan orang lain.

Itulah sebabnya, para saudara kekasih Tuhan, sejak semula manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial (Latin: homo socius). Ia bisa berkorelasi, berelasi, berkomunikasi, berkomunitas dan bersaudara dengan orang lain. Ada suatu nilai tanggung jawab sosial yang melekat dalam setiap pribadi. Oleh karena itu, ketika Tuhan bertanya kepada Kain, “Di mana Habel, adikmu itu?” Ia menjawab, “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 4:9).

Jawaban Kain tersebut merupakan sebuah jawaban yang tidak ramah (Jawa: ketus), tidak bersahabat, padahal jawaban itu ditujukan kepada Tuhan. Jawaban dalam bentuk pertanyaan itu juga merupakan sebuah jawaban yang mengingkari hakikat dirinya sebagai pribadi yang memiliki sifat sosial. Dia punya tanggung jawab untuk menjaga adiknya sebagai saudaranya sendiri.

Mengomentari jawaban Kain terhadap pertanyaan Tuhan, Santo Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Evangelium Vitae (Injil Kehidupan) menegaskan, “Memang, setiap orang adalah ‘penjaga saudaranya’, sebab Allah memercayakan kita satu kepada yang lain. Lagi pula dalam rangka memercayakan itulah Allah menganugerahi setiap orang kebebasan; yakni kebebasan yang mencakup dimensi relasional (hubungan). Itulah karunia agung Sang Pencipta, yang diabdikan kepada pribadi serta pemenuhannya melalui pemberian dirinya dan sikap terbuka bagi sesama” (No. 19).

Sayang, dalam kebebasannya Kain tidak mampu menggunakan karunia agung Sang Pencipta untuk membangun dan mengembangkan dimensi relasional yang ada dalam dirinya sebagai pribadi, makhluk sosial. Namun, kegagalan Kain juga mengingatkan kita bahwa tugas menjadi ‘penjaga saudaranya’ bukanlah hal yang gampang. Dibutuhkan satu kekuatan yang disebut kasih, the power of love.

Saudara-saudari yang dianugerahi kasih oleh Allah, disertai kemampuan untuk mengembangkan dimensi relasional, melalui Injil hari ini Yesus mengingatkan kita, “Tetapi kamu, janganlah suka disebut rabi; karena hanya satulah Rabimu, dan kamu semua adalah saudara” (Mat 23:8). Hanya satu yang patut disebut Guru yakni Yesus, dan kita semua adalah saudara. Kata-kata Yesus ini maknanya amat mendalam, menjadi dasar dalam kehidupan bersama, pada tingkat mana pun. Namun, hidup bersaudara dalam berbagai level, mulai dari keluarga hingga level masyarakat umum, dimungkinkan dan bisa diwujudkan hanya jika masing-masing pribadi memiliki kasih sebagai kekuatan yang menggerakkan dari dalam dirinya.

Itulah sebabnya, dalam sebuah ensiklik sosial, yang disebut Ensiklik Fratelli Tutti (Semua Sudara), Paus Fransiskus menegaskan demikian, “Kasih akhirnya mendorong kita menuju persekutuan universal. Tidak seorang pun yang menjadi dewasa atau mencapai kepenuhan dengan mengasingkan diri. Dengan dinamikanya sendiri, kasih menuntut keterbukaan yang makin berkembang, kemampuan makin besar untuk menerima orang-orang lain, dalam petualangan tanpa akhir yang membuat semua pinggiran bertemu dalam rasa saling memiliki sepenuhnya. Yesus berkata kepada kita: ‘Kamu semua adalah saudara’ (Mat 23:8).” [Fratelli Tutti, No. 95].

Wejangan Yesus perihal menempatkan diri dan orang lain sebagai saudara karena kamu semua adalah saudara ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik sosial yang dimaklumkan pada 3 Oktober 2020 lalu. Karena itu, kita perlu mencamkannya dengan baik agar digerakkan oleh kasih, kita mampu hidup dalam persekutuan universal, tempat di mana sebagai pribadi kita dapat menjadi dewasa atau mencapai kepenuhan; tempat di mana kita bisa makin berkembang dan mampu menerima orang lain sebagai pribadi yang unik, berharga, mulia dan tak ternilai. Dengan sikap seperti inilah kita bisa memberikan penghormatan kepada manusia sebagai pribadi yang bermartabat.

Saudara-saudari, umat beriman kekasih Tuhan, mari kita bersama-sama mengembangkan tugas perutusan kita, menjadi penjaga saudara, yakni orang-orang yang ada di sekitar kita, baik dalam keluarga, komunitas maupun mereka yang ada di luar lingkup keluarga dan komunitas. Sebab kita semua adalah saudara. Masing-masing dari kita memiliki tanggung jawab sosial untuk saling memerhatikan keselamatan mereka. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pembaruan Dalam Diri" Oleh RP Yohanes Tinto Tiopano Hasugian, O.Carm