Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Senin 23 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Pekan V Prapaskah, Senin, 23 Maret 2023

  • Bacaan Pertama: Daniel 13:1-9.15-17.19-30.33-62 (Singkat: 13:41c-62)

  • Mazmur Tanggapan: Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannyalah Aku berkenan, supaya ia hidup. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 8:1-11

Jari Allah Menyentil Kesombongan Kita

Saudara-saudari kekasih Tuhan, kedua bacaan Kitab Suci hari ini berbicara mengenai perempuan yang menjadi korban kekerasan. Ada dua orang perempuan yang menjadi korban kekerasan. Namun, kedua perempuan tersebut berhasil diselamatkan.

Susana, yang dikisahkan dalam bacaan pertama, korban kesaksian palsu, berhasil diselamatkan oleh seorang anak muda bernama Daniel. Perempuan kedua, tak diekspos namanya, yang dikisahkan dalam bacaan Injil, berhasil diselamatkan oleh “Seorang Anak muda” bernama Yesus dari Nazaret, yang adalah Penyelamat manusia dari kuasa dosa.

Penginjil menulis bahwa ketika seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah dibawa kepada Yesus dan bagaimana orang semacam itu harus diperlakukan menurut hukum Taurat, Yesus membungkuk lalu menulis di tanah dengan jari-Nya. Namun, karena mereka, yaitu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, terus-menerus bertanya kepada Yesus, Ia pun bangkit berdiri. Ia berkata kepada mereka, “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7).

Pertanyaannya, apa yang Yesus tulis di tanah dengan jari-Nya? Apa isi tulisan itu? Apakah tulisan itu adalah jawaban tertulis dari Yesus, supaya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bisa membaca sendiri jawaban-Nya? Mengapa Yesus bersikap seperti itu, yang terkesan tidak mau meladeni mereka, orang-orang yang arogan itu?

Apa yang Yesus tulis, kita tidak tahu. Ada kesan, Yesus sepertinya tidak ambil peduli terhadap masalah tersebut. Namun, apa yang Yesus lakukan, yakni menulis sesuatu atau mencoret-coret di tanah dengan jari-Nya merupakan suatu jawaban. Karena mereka berpegang pada hukum Musa yang ditulis di atas dua loh batu di atas Gunung Sinai (Kel 31:18), maka Yesus menuliskan hukum-Nya yang baru di atas tanah.

Jari Yesus adalah jari Allah. Hukum-Nya yang sekarang ditulis di bumi, bahkan “ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging yaitu di dalam hati manusia” (2Kor 3:3) adalah hukum cinta kasih dan dalam cinta kasih ada pengampunan, bukan hukuman. Itulah sebabnya ketika mereka mendengar kata-kata Yesus (ay. 7), kemudian terdiam, dan karena masing-masing merasa diri juga orang berdosa lantas pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Dengan begitu, yang tinggal di situ hanya perempuan tersebut dan Yesus. Lalu, Yesus berkata kepadanya, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ay. 11).

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, menarik bahwa penginjil menulis, mereka pergi seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Mengapa mulai dari yang tertua? Mengapa tidak langsung berhamburan, sama-sama pergi meninggalkan perempuan itu dan Yesus? Apakah kata-kata “mulai dari yang tertua” punya makna saat itu, juga saat ini?

Ada yang menafsirkan bahwa orang yang lebih tua dan lebih banyak pengalaman sadar dan tahu bahwa dia sudah banyak berbuat dosa dan adalah seorang pendosa. Yang lambat sadar dan tahu adalah yang lebih muda umurnya, karena memang dia belum sempat berbuat banyak dosa. Dari segi pengalaman (berbuat dosa) juga belum banyak.

Akan tetapi, saudara-saudari, bahwa semua orang meninggalkan perempuan itu, dan tak seorang pun yang berani melemparkan batu kepadanya, maka dapat disimpulkan: Pertama, kata-kata Yesus punya kuasa untuk membuat mereka semua sadar dan tahu diri, siapakah sesungguhnya diri mereka di hadapan Allah dan sesama.

Kedua, bahwa mereka pun adalah orang-orang berdosa, yang selama ini menganggap diri bersih, tak punya dosa.

Ketiga, untuk membuat mereka sadar dan tahu diri sebagai orang berdosa dibutuhkan Seorang penggedor atau pendobrak “rasa suci” mereka. Yesuslah penggedor atau pendobrak rasa suci mereka. Ia telah menjadi penolong dan penyelamat bagi perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Lebih luas lagi, Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat 1:21). Inilah misi Yesus. Sebab itu, Ia tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannyalah Ia berkenan, supaya ia hidup (Bait Pengantar Injil).

Umat beriman yang dikasihi Allah yang hidup, apakah diri kita lebih tua atau lebih muda dari yang lain? Kita semua perlu membangun sebuah kesadaran diri bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan kerahiman Allah. Kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri tanpa Allah dan kerahiman-Nya. Semoga Masa Prapaskah yang sudah memasuki Pekan Ke-5 ini membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang tidak memandang rendah sesama. Semoga jari Allah menyentil kesombongan kita dan membentuk kita semakin rendah hati di hadapan Allah dan sesama. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pertobatan untuk merawat bumi, Rumah kita bersama" Oleh RP Agustinus Ari Pawarto, O.Carm