Kapel Adorasi

Santa Teresia Benedikta dari Salib

06.30 WIB - 22.00 WIB

Aksi Puasa Pembangunan 2025

Kepedulian Lebih Kepada Saudara Yang Lemah dan Miskin

05 Maret 2025 - 12 April 2025

Ziarah Porta Sancta

Paroki Meruya

08.00 WIB - 20.00 WIB

Tahun Yubileum 2025

Peziarah Pengharapan

24 Desember 2024 - 06 Januari 2026

Pendampingan Romo Moderator

Tahun 2025

Silahkan Klik Lebih Lanjut

Jadwal Petugas Tata Tertib 2025

Paroki Meruya

Info Lebih Lanjut

Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Jumat 04 April 2025

Bacaan Liturgis – Pekan IV Prapaskah, Jumat, 04 April 2025

  • Bacaan Pertama: Kitab Kebijaksanaan 2:1a.12-22

  • Mazmur Tanggapan: Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 34:17-18.19-20.21.23

  • Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 7:1-2.10.25-30

Renungan Singkat : MENJADI ORANG BENAR

Orang benar berkenan bagi Allah tetapi seringkali dia harus menanggung perlakuan tidak adil dari sesamanya. Ketika orang berusaha hidup benar, selalu ada tindakan-tindakan tidak benar menghampirinya. Hal itu bisa dipicu oleh rasa iri hati dan berbagai motif lain. Namun, demikian kita bersyukur dalam sejarah perkembangan iman, banyak orang tetap setia hidup benar bagi Allah meskipun mengalami banyak rintangan dan penderitaan. Kehadiran mereka menjadi gangguan yang mengusik kenyamanan orang-orang jahat. Sabda Allah menegaskan kebenaran ini kepada kita. “Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita (Kebijaksanaan.2:12),” demikian ajakan orang-orang jahat atau kaum fasik. Selain itu, kehadiran orang benar itu seringkali memicu niat dalam diri orang lain untuk mencobai dia. Apakah perkataannya itu sungguh-sungguh selaras dengan penghayatan hidup? Apakah dia sungguh-sungguh anak Allah? Ia dicobai dengan aniaya dan siksa untuk mengenal kelembuatan dan kesabaran hatinya (ay 17-19).

Tidak jarang, karena mengalami banyak rintangan dan penderitaan karena kebenaran, orang benar itu menjadi lelah dan tidak setia. Dalam situasi iman yang demikian ini, kita membutuhkan rahmat Allah yang besar agar tetap setia menjadi orang benar. Apakah Allah membiarkan hamba-Nya menderita karena hidup benar? Apakah Dia tidak melindungi atau membelanya? Pertanyaan iman ini tidak cukup dijawab hanya dengan Ya atau Tidak. Jawabannya perlu kita renungkan dalam terang Sabda Allah. Kisah Ayub menjadi salah satu jawaban bagi kita. Ayub hidup sebagai orang benar di hadapan Allah. Namun, ia mengalami rintangan dan penderitaan yang sangat besar. Ia kehilangan anak-anaknya, hewan ternaknya. Ia kehilangan segalanya. Yang sangat indah ialah, Ayub tidak pernah menyalahkan Allah sebagai berlaku tidak adil kepadanya. Ia justru hidup dalam semangat tobat. “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN" (Ayub.1:21).

Tidak lama lagi, kita akan memasuki hari-hari suci pada masa Prapaskah ini. Kita akan merenungkan Yesus Kristus menderita sengsara dan wafat di kayu salib. Ia, Allah yang menjadi manusia datang ke tengah dunia ini membawa cinta untuk membebaskan umat manusia dan seluruh dunia ini dari belenggu dosa. Ia tidak berdosa, tetapi diperlakukan lebih daripada oknum berdosa. Hukumannya setara dengan pelaku kejahatan yang sangat besar. Tepatlah nubuat Nabi Yesaya atas Dia, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi" (Yes.52:13-14). Tetapi dengan itu, Yesus Kristus mewartakan kebenaran cinta kasih kepada dunia ini. Banyak bangsa, raja-raja terdiam menyaksikan pengorbanan Yesus Kristus yang agung itu. Penderitaan orang benar menghasilkan buah yang berlimpah. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yoh. 12: 24), demikian Sabda Yesus.

Jadi, apakah kita takut menderita? Jangan pernah takut menderita karena hidup kita benar! Takutlah menderita bila moral kita buruk dan jahat di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati.

[RP Manaek Martinus Sinaga, O.Carm]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Tahun Yubileun 2025* Oleh Romo Agustinus Ari Pawarto O.Carm