Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Mingguan

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (setiap Sabtu Pertama setiap bulan)

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Rabu 09 September 2026

Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XXIII, Rabu, 09 September 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Korintus 7:25-31

  • Mazmur Tanggapan: Dengarlah, hai putri, lihatlah dan sendengkanlah telingamu.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 45:11-12.14-15.16-17

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena besarlah upahmu di surga. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 6:20-26

Berbahagialah, Hai Kalian yang Miskin

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini kita memasuki hari kesembilan dalam Bulan Kitab Suci Nasional. Mari kita membaca perikop Injil hari ini (Luk 6:20-26). Dalam Kitab Suci, perikop Injil ini diberi judul “Ucapan bahagia dan peringatan”.

Seraya memandang murid-murid-Nya, ketika Yesus berada di tempat datar, Yesus menyebut ucapan bahagia pertama demikian, “Berbahagialah, hai kalian yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 2:20). Mengapa yang miskin disebut sebagai orang yang berbahagia? Apa istimewanya orang miskin? Apakah orang miskin sendiri merasa bahagia dengan kemiskinan yang mereka rasakan dan alami setiap hari? Dan apa artinya miskin? Cukup dulu, saya tidak mau terlalu banyak bertanya.

Mari kita perhatikan sejenak Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (Sukacita Injil) dari Paus Fransiskus berikut ini, “Hati Allah memiliki tempat khusus bagi kaum miskin, sedemikian besarnya sehingga Ia sendiri “menjadi miskin” (2Kor 8:9). Seluruh sejarah keselamatan kita ditandai oleh kehadiran orang-orang miskin. Keselamatan datang kepada kita dari “ya” yang diucapkan oleh seorang gadis kalangan bawah dari kampung kecil di pinggiran sebuah kerajaan besar. Penyelamat lahir di sebuah palungan, di tengah-tengah hewan-hewan, seperti anak-anak dari keluarga miskin; Dia telah dipersembahkan di Bait Allah bersama dengan dua tekukur, persembahan orang-orang yang tidak mampu mempersembahkan domba (bdk. Luk 2:24; Im 5:7). Dia dibesarkan dalam sebuah rumah pekerja biasa dan melakukan pekerjaan tangan untuk mendapatkan nafkah-Nya” (Sukacita Injil, No. 197).

Lebih lanjut Paus Fransiskus katakan, “Ketika Dia mulai mewartakan Kerajaan Allah, kerumunan orang-orang yang dirampas hak-hak mereka mengikuti Dia, dan dengan demikian Ia mewujudkan apa yang telah disabdakan-Nya: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18). Dia menyakinkan mereka yang dibebani oleh kesusahan dan dihimpit oleh kemiskinan bahwa Allah memiliki tempat istimewa bagi mereka di hati-Nya: “Berbahagialah, hai kalian yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 4:20). Dia menyamakan Diri-Nya dengan mereka: “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan” (Mat 25:35 dst) dan Dia mengajarkan bahwa kasih kepada mereka ini adalah kunci menuju surga” (Ibid.).

Membaca Injil hari ini dalam terang Seruan Apostolik Paus Fransiskus (Evangelii Gaudium, No. 197) di atas, kita mendapat pencerahan dalam memaknai orang “yang miskin” sebagai “yang berbahagia”. Bagaimana tidak bahagia kalau hati Allah memiliki tempat khusus bagi kaum miskin? Bukankah itu berarti bahwa yang miskin adalah orang yang istimewa dan karena itu Allah memiliki tempat istimewa bagi mereka di hati-Nya?

Kita juga bisa berkata, bagaimana tidak berbahagia, kalau Allah, yang dalam Yesus Kristus sekalipun kaya mau menjadi miskin, supaya yang miskin menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2Kor 8:9)? Bagaimana tidak bahagia kalau yang miskin adalah yang empunya Kerajaan Allah? Bagaimana tidak bahagia kalau yang miskin selalu membutuhkan Allah dan kasih-Nya dan karena itu selalu bergantung kepada-Nya karena hanya Dialah yang sanggup memenuhi apa yang dibutuhkan oleh yang miskin di hadapan-Nya?

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, jika kita selalu membutuhkan Allah serta kasih-Nya dan karena itu selalu bergantung kepada-Nya karena Dialah yang sanggup memenuhi apa yang dibutuhkan oleh yang miskin di hadapan-Nya, maka sejatinya kita juga adalah orang-orang yang miskin. Itulah sebabnya, dalam Khotbah di Bukit Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 5:3). Tentang sabda bahagia ini Santo Gregorius dari Nisa (335-395) berkata, “Rasul Paulus menempatkan bagi kita kemiskinan Allah sebagai contoh, ketika Ia berkata: ‘Ia membuat Diri-Nya menjadi miskin demi kepentingan kita’ (2Kor 8:9).”

Oleh karena itu, para saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita tak henti-hentinya menaruh kepercayaan kepada Allah, sepenuhnya, alias total. Sebab, dari pada-Nyalah kita menerima segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup ini. Dari pada-Nya pula kita menerima kebutuhan akan kasih-Nya yang mengatasi segala kebutuhan jasmani kita sehari-hari. Semoga, kita pun akan mendengar sabda bahagia yang Yesus ucapkan, “Berbahagialah, hai kalian yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah.” [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.