Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Sabtu 14 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Hari Sabtu, Pekan III Prapaskah, 14 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Hosea 6:1-6

  • Mazmur Tanggapan: Aku menyukai kasih setia, dan bukan kurban sembelihan.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4.18-19.20-21ab

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Lukas 18:9-14

Menjadi Orang yang Dibenarkan Allah

Saudari-saudara yang dikasihi Tuhan, Injil hari ini disampaikan dengan menggunakan perumpamaan tentang bagaimana berdoa di Bait Allah (baca: gereja). Gereja adalah rumah doa dan setiap umat datang ke gereja untuk berdoa. Namun, seperti dalam perumpamaan, orang berdoa di gereja dengan motivasi batin yang berbeda. Motivasi batin yang berbeda itulah yang juga akan membuat hasil akhir berbeda, meskipun tindakannya sama, sama-sama berdoa di gereja.

Orang Farisi berdoa dengan motivasi batin: Ingin membanggakan diri di hadapan Tuhan. “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain; aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Luk 18:11-12). Ia bangga dengan dirinya. Ia tampil beda, tidak sama seperti orang lain. Ia merasa lebih suci, lebih bersih, lebih benar, lebih takwa, lebih sosial. Bisa jadi dia juga merasa lebih diselamatkan karena semua jasanya itu ketimbang orang lain.

Begitu hebatnya orang itu, sehingga ketika dia berdoa, tak satu permohonan keluar dari hatinya. Ia datang ke Bait Allah hanya untuk bersyukur. Ia mengucap syukur kepada Allah, bukan atas segala rahmat yang Allah limpahkan kepadanya dan yang telah dia terima dengan limpahnya, melainkan bersyukur atas kehebatannya sendiri dalam hal berpuasa dan berderma. Hatinya sama sekali tidak tersentuh oleh kasih Allah yang telah dicurahkan kepadanya. Hal yang menyentuhnya adalah apa yang telah dia buat atas jasanya sendiri.

Orang Farisi dalam perumpamaan hari ini adalah gambaran orang yang berdoa dengan hati sombong, yang sudah tidak lagi membutuhkan Allah dan rahmat-rahmatnya. Karena itu, ia merasa tidak perlu memohon sesuatu kepada Allah. Orang semacam ini selalu ada di segala zaman.

Seorang umat pernah merasa terpukul batinnya, ketika seorang umat lain menegur dia katanya, “Kalau kamu berdoa, jangan hanya minta dan minta saja kepada Tuhan. Bersyukurlah kepada-Nya. Selalu bersyukur, jangan hanya memohon.” Bersyukur kepada Allah itu baik, bagus dan bahkan seharusnya demikian, karena hidup ini kita terima dari kemurahan Allah, belum lagi rahmat-rahmat yang lain.

Namun demikian, memohon juga tidak ada salahnya. Sebab, Yesus sendiri ketika mengajar doa Bapa Kami, juga mengajarkan tentang doa permohonan. Maka, teguran seorang umat terhadap umat lain tersebut, jangan-jangan juga merupakan ungkapan seorang yang sombong, yang sudah tidak membutuhkan Allah dan rahmat-rahmat-Nya karena segala kebutuhan sehari-hari bisa dipenuhi sendiri. Dia lupa, atau barangkali tidak tahu, bahwa setiap orang pada dasarnya adalah seorang pengemis di hadapan Tuhan, yang tidak bisa memenuhi segala kebutuhannya sendiri tanpa pertolongan-Nya.

Santo Agustinus, seorang Uskup dan Pujangga Gereja asal Afrika Utara, pernah berkata, “Di hadapan Allah, manusia adalah seorang pengemis.” Kata-kata ini dikutip dalam Katekismus Gereja Katolik bagian penjelasan tentang doa, bahkan ditempatkan pada bagian awal pembahasan tentang Doa dalam Kehidupan Kristen. Lengkapnya ditulis demikian, “Kerendahan hati adalah dasar doa dan karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rom 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di hadapan Allah, manusia adalah seorang pengemis” (Katekismus Gereja Katolik, No. 2559).

Kerendahan hati adalah dasar doa, dan itulah yang ditampilkan oleh si pemungut cukai dalam perumpamaan Injil hari ini. Ia tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan di hadapan Allah. Allah pasti tahu hal ini. Oleh karena itu, motivasi batin yang menggerakkan dia saat berdoa di Bait Allah ialah: Ingin meletakkan seluruh harapannya dalam Diri Allah yang berbelas kasih pada dirinya yang berdosa.

Saudara-saudari, saking tidak punya apa-apa dia, maka doanya pun pendek, tidak banyak kata-kata. Perhatikan doanya, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (ay. 13). Itu saja. Sebagai orang berdosa yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, dia tidak berani menengadah ke langit, kepada Allah di surga tinggi. Namun, orang ini justru pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah (ay. 14). Luar biasa!

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, perumpamaan yang sangat inspiratif ini menjadi sebuah pembelajaran bagi kita. Pertama, setiap doa, apa pun jenis doa, doa syukur atau permohonan atau penyerahan atau pertobatan, perlu dilakukan dalam semangat kerendahan hati. Tanpa semangat ini, doa dilakukan, apalagi kalau bersama orang lain, misalnya dalam doa bersama, hanya untuk pamer, untuk membangun citra diri sebagai seorang pendoa yang hebat, yang bisa omong dengan “nrocos” (Jawa: banyak kata-kata, terus-menerus).

Kedua, setiap orang adalah pendosa di hadapan Allah. Kebutuhan mendasar seorang pendosa adalah belas kasihan Allah dan seorang pendosa yang rendah hati tidak malu untuk mohon belas kasihan dari Allah. “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (ay. 13) adalah doa yang perlu diserukan setiap hari. Dalam Misa Kudus doa ini selalu diserukan dengan keyakinan, bahwa hati yang remuk redam, yang sadar betul akan kesalahan dan kedosaannya, tidak akan dipandang hina oleh Allah (Mzm 51:19, Mazmur Tanggapan, bait kedua).

Ketiga, arah doa adalah tertuju kepada Allah, bukan kepada manusia. Oleh karena itu, dalam doa orang bisa memuliakan Allah, tetapi tidak untuk merendahkan martabat manusia. “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain” (ay. 11) jelas merupakan sebuah doa yang merendahkan martabat manusia, orang lain, yang adalah sesamanya. Inikah doa yang benar dan berkenan kepada Allah? Pasti tidak. Itulah sebabnya, si pemungut cukai itu pulang sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedang orang lain itu, si orang Farisi, tidak.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pada Masa Prapaskah ini mari kita terus bertumbuh dalam doa, berdoa dengan rendah hati, tulus dan benar, supaya kita menjadi orang yang dibenarkan Allah. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pembaruan Dalam Diri" Oleh RP Yohanes Tinto Tiopano Hasugian, O.Carm