Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Mingguan

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (setiap Sabtu Pertama setiap bulan)

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Jumat 11 September 2026

Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XXIII, Jumat, 11 September 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Korintus 9:16-19.22b-27

  • Mazmur Tanggapan: Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam!

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6.12

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 6:39-42

Menjadi Pemenang dan Peraih Mahkota Abadi

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) seorang olahragawan didefinisikan sebagai orang yang suka berolahraga (yang banyak melakukan atau mengambil bagian dalam olahraga). Jika Anda suka berolahraga, Anda, entah pria atau perempuan adalah seorang olahragawan. Dalam KBBI tidak dikenal istilah olahragawati, yang dimaksudkan untuk perempuan.

Seorang atlet, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, juga dikategorikan sebagai seorang olahragawan, terutama yang mengikuti perlombaan atau pertandingan. Dalam hal ini seorang atlet melatih diri setiap hari agar memiliki kekuatan, ketangkasan dan kecepatan yang maksimal. Dengan demikian, dia mampu bersaing dengan atlet-atlet lain ketika mengikuti perlombaan atau pertandingan, entah di tingkat lokal, regional, nasional, interkontinental atau internasional. Jika Anda adalah seorang olahragawan, artinya seorang yang suka berolahraga, namun tidak pernah mengikuti perlombaan atau pertandingan, maka menurut hemat saya, Anda bukanlah seorang atlet.

Namun demikian, jika Anda ingin memiliki karakter seorang atlet, hal itu sangat baik dan pasti akan berguna bagi hidup sehari-hari. Apalagi dalam kapasitas sebagai seorang Kristiani, yang memang perlu memiliki semangat seorang atlet, meski bukan seorang atlet. Mengapa? Karena dalam hidup beriman, kita memiliki tujuan yang harus diperjuangkan dan diraih. Dan, untuk meraih tujuan tersebut, kita perlu melatih diri dan memiliki perhatian yang terpusat (fokus).

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dalam bacaan pertama Rasul Paulus berkata, “Tidak tahukah kalian, bahwa dalam gelandang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya satu saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kalian memperolehnya. Tiap-tiap orang yang mengikuti pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku berlari bukan tanpa tujuan, dan aku bertinju bukan dengan memukul secara sembarangan. Sebaliknya, aku melatih dan menguasai tubuhku sepenuhnya, jangan sampai aku sendiri ditolak sesudah memberitakan Injil kepada orang lain” (1Kor 9:23-27).

Rasul Paulus berbicara tentang dunia olahraga, mengingat orang-orang Yunani yang tinggal di Korintus (bahasa Yunani: Κόρινθος, Korintos), sebuah kota kuno yang berada di kawasan tengah-selatan Yunani, terkenal karena perlombaan-perlombaannya. Keakraban para pembaca terhadap dunia olahraga membuat gambaran atletik yang digunakan oleh Rasul Paulus cocok untuk memotivasi dan mengilhami orang Kristen. Tujuannya, untuk hidup dengan disiplin yang sehat disertai dengan pengorbanan dan penyangkalan diri.

Orang-orang Korintus perlu memiliki hidup dalam keseimbangan, yang diperoleh melalui disiplin diri yang sehat, pengorbanan dan penyangkalan diri. Itulah sebabnya Paulus menggunakan gambaran dari dua cabang olahraga yang dikenal waktu itu, yakni lomba lari (atletik) dan pertandingan tinju.

Pertama, Rasul Paulus membandingkan kehidupan Kristen dengan seorang atlet. Maksudnya, seorang pelari yang disiplin, yang memusatkan perhatian pada garis akhir dan mengalahkan semua hawa nafsunya untuk mendapatkan hadiah (1Kor 9:24). “Karena itu, larilah begitu rupa, sehingga kalian memperolehnya,” tegas Rasul Paulus, perihal hadiah yang bisa diperoleh berkat disiplin, fokus pada garis akhir (tujuan) dan penyangkalan diri sebagai pendukung agar bisa fokus.

Penyangkalan diri seorang atlet yang sedang berlomba adalah bagian dari “menguasai dirinya dalam segala hal” (ay. 25). Maksudmya, agar dia “memperoleh mahkota yang fana” (ay. 25). Sedangkan dalam hidup beriman, orang perlu menguasai diri dalam segala hal “untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (ay. 25).

Argumentasi Paulus, jika pemusatan perhatian dan penyangkalan diri diperlukan untuk memperoleh hadiah yang fana, yang gampang rusak, betapa lebih penting lagi untuk mengejar mahkota yang abadi, yang tidak dapat binasa. Paulus “berjuang” dengan cara dan semangat yang sama namun dengan sasaran yang lebih mulia. “Sebab itu aku berlari bukan tanpa tujuan,” kata Paulus (ay. 26). Tujuannya adalah untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

Kedua, Rasul Paulus membandingkan kehidupan Kristen dengan praktik tinju Yunani yang pada kenyataannya masing-masing berjuang untuk menghancurkan dan membinasakan lawan. Pengalaman Paulus sendiri menunjukkan perlunya memberi pukulan yang terarah, tepat sasaran, dengan menguasai diri. Itulah sebabnya dia berkata, “Dan aku bertinju bukan dengan memukul secara sembarangan. Sebaliknya, aku melatih dan menguasai tubuhku sepenuhnya…” (ay. 26-27).

Demi keseimbangan, Paulus menempatkan disiplin diri, asketisme dan kerelaannya untuk menderita dalam konteks untuk melayani orang lain melalui Injil yang diberitakannya. “Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya supaya sedapat mungkin memenangkan beberapa orang di antaramu. Segala-galanya itu kulakukan demi Injil, agar aku mendapat bagian di dalamnya,”kata Paulus (ay. 22b-23). Itulah misi Paulus dalam hidup dan pelayanannya. Ia ingin orang lain menjadi pemenang, bukan dengan mengalahkan, menjelekkan atau merendahkan. Justru dengan cara itulah ia ingin memperoleh mahkota yang abadi.

Lain halnya dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang munafik, yang ditegur oleh Yesus melalui perumpamaan dalam Injil hari ini. Dengan memiliki kecenderungan untuk melihat selumbar dalam mata orang lain, sementara balok yang ada dalam dirinya tidak diketahui (Luk 6:41) menjadi bukti bahwa mereka tidak menguasai diri dan mengalahkan hawa nafsunya. Fokus mereka adalah bagaimana mengalahkan orang lain dengan menonjolkan kelemahan orang lain, menghakimi, meremehkan, menjelek-jelekkan orang lain, dan selalu mencela orang lain. Mereka tidak sadar bahwa ada balok dalam mata mereka. Jika demikian, mereka tidak akan memperoleh mahkota abadi.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mari kita mohon rahmat Allah agar kita bisa melatih diri, menguasai diri dan menguasai tubuh sepenuhnya sehingga kita kelak bisa memperoleh mahkota abadi, yang tidak dapat binasa. Itulah pemenang sejati.

Mari kita terus melakukan refleksi diri dan berusaha keras untuk mengeluarkan balok yang ada dalam mata kita. Tujuannya, kita dapat melihat dengan jelas dan memiliki pandangan yang bersih dalam mengarahkan diri untuk mencapai garis akhir seperti yang telah dialami oleh Rasul Paulus (lih. 2Tim 4:7) serta menjadi pemenang dan peraih mahkota abadi. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.