Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Senin 02 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Pekan II Prapaskah, Senin, 02 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Daniel 9:4b-10

  • Mazmur Tanggapan: Tuhan tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8.9.11.13

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Engkau mempunyai sabda kehidupan kekal. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Lukas 6:36-38

Menjadi Manusia Pengampun

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, selama manusia masih hidup dalam daging, dia tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, melakukan kesalahan dan dosa adalah sebuah kecenderungan manusiawi, yang terjadi pada setiap pribadi.

Namun, kesalahan dan dosa itu harus selalu disadari, diakui dan diatasi. Tujuannya, agar kita bertumbuh menjadi pribadi yang semakin bermartabat dan hidup lebih baik, tidak lagi dibelenggu oleh kesalahan dan dosa. Masa Prapaskah merupakan kesempatan indah yang Allah anugerahkan kepada umat Katolik untuk melakukan penegasan rohani, baik secara personal maupun komunal.

Injil hari ini cukup singkat dan padat; menyajikan banyak hal penting dan mendasar bagi perkembangan hidup kita. Semua perlu direfleksikan dan diupayakan tindakan konkretnya sesuai dengan situasi, kemampuan dan kesanggupan masing-masing pribadi. Akan tetapi, merefleksikan semuanya tentu juga perlu waktu. Maka, salah satu hal penting dan mendasar yang dapat kita refleksikan hari ini adalah soal pengampunan. Yesus berkata, “Ampunilah dan kamu akan diampuni… Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk 6:37b.38b).

Pengampunan terhadap sesama saudara, bukanlah suatu tindakan ringan. Persis seperti dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) bahwa ketika kita tersinggung atau dikecewakan, pengampunan dimungkinkan dan diinginkan, namun tak seorang pun mengatakan bahwa hal itu mudah. Diperlukan sikap terbuka dan kemurahan hati dari masing-masing pribadi. Sebab, kata Paus Fransiskus, “Kebenarannya adalah bahwa persekutuan hidup keluarga hanya dapat lestari dan makin sempurna berkat semangat berkorban yang besar. Memang dibutuhkan sikap terbuka dan bermurah hati pada semua dan masing-masing anggota, untuk memberi pengertian, bertenggang rasa, saling mengampuni dan saling berdamai” (Amoris Laetitia, No. 106).

Selain sikap terbuka dan bermurah hati, dibutuhkan juga pemahaman yang tepat tentang pengampunan. Pasalnya, pengampunan itu bukan soal melupakan kesalahan orang lain. Hal ini ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik tentang persaudaraan dan persahabatan sosial, demikian, “Pengampunan tidak berarti melupakan. Lebih baik kita mengatakan, bila ada sesuatu yang sama sekali tidak dapat disangkal, dinisbikan, atau disembunyikan, namun kita dapat mengampuni. Bila ada sesuatu yang tidak pernah boleh ditoleransi, dibenarkan, atau dimaafkan, namun kita dapat mengampuni. Ketika ada sesuatu yang dengan alasan apa pun tidak boleh kita lupakan, namun kita dapat mengampuni. Pengampunan yang bebas dan tulus merupakan sesuatu yang luhur, yang mencerminkan agungnya pengampunan ilahi. Jika pengampunan itu diberikan dengan sukarela, bahkan mereka yang menolak untuk bertobat dan tidak mampu meminta pengampunan, dapat diampuni” (Fratelli Tutti, No. 250).

Kita perlu merenungkan kata-kata bijak dari Paus Fransiskus tersebut dengan baik. Sebab, tidak sedikit orang berpandangan bahwa mengampuni adalah soal melupakan. Sehingga, dalam kasus-kasus tertentu yang masuk kategori berat, menyakitkan atau melukai hati, merusak masa depan dirinya, menggagalkan usahanya dan sebagainya, mereka cenderung menyimpan kesalahan, dendam dan kebencian. Padahal, pilihan dan sikap demikian tidak pernah menguntungkan atau berdampak positif bagi dirinya. Bagaimana orang akan hidup damai, bahagia dan sukacita jika ke mana-mana dan dalam waktu yang lama hatinya terus menyimpan kesalahan, dendam dan kebencian terhadap orang lain.

Sebaliknya, mengampuni dengan tulus dan kesungguhan hati walaupun tidak bisa melupakannya, tindakan tersebut justru mendatangkan keuntungan atau dampak-pengaruh positif bagi dirinya. Paus Fransiskus menunjukkan dampak-pengaruh positif dari tindakan mengampuni sebagai berikut, “Mereka yang benar-benar mengampuni tidak melupakan, tetapi mereka menolak dikendalikan oleh kekuatan destruktif yang sama yang telah menyakiti mereka. Mereka memutus lingkaran setan, menghentikan kemajuan daya kekuatan penghancur. Mereka memutuskan untuk tidak terus mencekoki masyarakat dengan semangat balas dendam, yang cepat atau lambat akhirnya sekali lagi akan jatuh kembali pada diri mereka sendiri. Balas dendam tidak menyelesaikan apa pun” (Fratelli Tutti, No. 251).

Saudara-saudari, umat beriman yang dikasihi Tuhan, mari kita mengampuni sebagaimana diminta oleh Yesus hari ini agar kita pun diampuni dari kesalahan yang ada pada kita. Sebab, ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita. Kalau kita mau mengampuni, yang dilandaskan pada sikap positif yang berupaya memahami kelemahan orang lain, maka kita juga akan diampuni. Kalau orang lain tidak mengampuni kita, Allah Bapa yang Maha Rahim yang akan mengampuni. Itulah sebabnya, Yesus berkata, “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi, jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). Semoga Masa Prapaskah ini membentuk kita menjadi manusia baru, yakni menjadi manusia pengampun dalam kehidupan bersama. [RP. A. Ari Pawartao O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Harmoni Seluruh Ciptaan" Oleh Romo Agustinus Ari Pawarto O.Carm