Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Mingguan

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (setiap Sabtu Pertama setiap bulan)

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Rabu 02 September 2026

Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XXII, Rabu, 02 September 2026

  • Bacaan Pertama: 1Korintus 3:1-9

  • Refren Mazmur Tanggapan: Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik pusaka-Nya.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-15.20-21

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya. Tuhan mengutus aku memaklumkan Injil kepada orang hina dina dan mewartakan pembebasan kepada para tawanan. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 4:38-44

Ladang Allah dan Bangunan-Nya

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kita perlu merenung sejenak bagaimana kita telah hidup, baik dalam keluarga atau komunitas maupun dalam Gereja sebagai persekutuan umat Allah. Sebab itu, ada baiknya jika kita merefleksikan tentang apa itu Gereja dan apa yang telah, akan dan harus kita lakukan.

Rasul Paulus, melalui bacaan pertama (1Kor 3:1-9) membantu kita dalam berefleksi. Dia berkata, β€œSebab kami ini hanyalah kawan sekerja Allah; sedangkan kalian adalah ladang Allah dan bangunan-Nya” (1Kor 3:9). Dalam ayat ini Rasul Paulus menyebut dua gambaran tentang Gereja, yakni sebagai ladang Allah dan bangunan Allah. Kita perlu melihat keduanya.

Pertama, Gereja sebagai ladang Allah. Tentang gambaran ini para Bapa Konsili Vatikan II sudah menjelaskannya dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) mengenai aneka gambaran Gereja. Dikatakan demikian, β€œGereja itu tanaman atau ladang Allah (lih. 1Kor 3:9). Di ladang itu tumbuhlah pohon zaitun bahari, yang akar kudusnya ialah para Bapa bangsa. Di situ telah terlaksana dan akan terlaksanalah perdamaian antara bangsa Yahudi dan kaum kafir (lih. Rom 11:13-26)” (Lumen Gentium, No. 6).

Lebih lanjut para Bapa Konsili menjelaskan, β€œGereja ditanam oleh Petani surgawi sebagai kebun anggur terpilih (lih. Mat 21:33-43; Yes 5:1 dst.). Kristuslah pokok anggur yang sejati. Dialah yang memberi hidup dan kesuburan kepada cabang-cabang, yakni kita, yang karena Gereja tinggal di dalam Dia, dan yang tidak mampu berbuat apa-apa tanpa Dia (lih. Yoh 15:1-5)” (Ibid.).

Kebun atau ladang Allah tersebut telah ditanami tanaman anggur dan menjadi kebun anggur terpilih, di mana Kristus sendiri menjadi pokok anggur yang sejati. Dia memberi hidup, pertumbuhan dan kesuburan kepada setiap cabangnya. Itu berarti bahwa Gereja selalu tinggal di dalam Dia, selalu menyatu di dalam Dia, karena tanpa Dia Gereja tidak mampu berbuat apa-apa (bdk. Yoh 15:5). Di sinilah posisi kita sebagai anggota Gereja. Kita dipanggil untuk selalu menyatu di dalam Yesus, Pokok anggur sejati. Hanya dengan menyatu di dalam Dia, kita beroleh hidup, kekuatan dan kesuburan hingga menghasilkan buah-buah keutamaan hidup Kristiani.

Pentingnya peran Yesus ditunjukkan dalam bacaan Injil. Agar cabang-cabangnya bertumbuh dengan sehat dan bisa berbuah, maka anggota yang sakit, seperti dialami oleh ibu mertua Simon yang sakit demam keras, disembuhkan. β€œYesus berdiri di sisi wanita itu, lalu menghardik demamnya. Segera penyakit itu meninggalkan dia. Wanita itu segera bangun dan melayani mereka” (Luk 4:39). Hanya dengan badan yang sehat, orang bisa bekerja dan melayani keluarga dan sesama.

Yesus juga meletakkan tangan-Nya atas mereka yang sakit dan kerasukan setan (ay. 40-41). Namun, selain pelayanan penyembuhan tersebut, adalah hal penting bagi Yesus, yakni memberitakan Injil. β€œJuga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah sebab untuk itulah Aku diutus,” kata-Nya tegas kepada mereka yang berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka (ay. 43). Dari Injil, kita memperoleh pertumbuhan rohani. Sebab itu, Injil harus diwartakan, direnungkan dan dihidupi oleh setiap anggota Gereja.

Kedua, Gereja sebagai bangunan Allah. Tentang gambaran ini, para Bapa Konsili Vatikan II menjelaskan demikian, β€œSering pula Gereja disebut bangunan Allah (lih. 1Kor 3:9). Tuhan sendiri mengibaratkan Diri-Nya sebagai batu, yang dibuang oleh para pembangun, tetapi malahan menjadi batu sendi (lih. Mat 21:42; Kis 4:11; 1Ptr 2:7; Mzm 117:22). Di atas dasar itulah Gereja dibangun oleh para rasul (lih. 1Kor 3:11), dan memperoleh kekuatan dan kekompakan dari pada-Nya” (Lumen Gentium, No. 6).

Selanjutnya dijelaskan, β€œBangunan itu diberi pelbagai nama: rumah Allah (lih. 1Tim 3:15), tempat tinggal keluarga-Nya; kediaman Allah dalam Roh (lih. Ef 2:19-22), kemah Allah di tengah manusia (Why 21:3), dan terutama kenisah kudus. Kenisah itu diperagakan sebagai gedung-gedung ibadat dan dipuji-puji oleh para Bapa Suci, lagi pula dalam Liturgi dengan tepat diibaratkan Kota suci, Yerusalem baru. Sebab di situlah kita bagaikan batu-batu yang hidup dibangun di dunia ini (lih. 1Ptr 2:5). Yohanes memandang Kota suci itu, ketika pada pembaruan bumi turun dari Allah di surga, siap sedia ibarat mempelai yang berhias bagi suaminya (Why 21:1 dst.)” (Ibid.).

Saudara-saudari, mari kita hidup sebagai anggota Gereja yang bersekutu, bukan berselisih seperti terjadi di antara jemaat di Korintus. Mari kita hidup bagaikan tanaman anggur di kebun anggur terpilih, Gereja Katolik Roma, dan kita menerima pertumbuhan dari Kristus sendiri yang telah mendirikan Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

Hanya dengan hidup bersekutu, masing-masing saling menopang sesuai dengan bagiannya, maka Gereja sebagai bangunan Allah akan tetap berdiri kokoh tak tergoyahkan sampai akhir zaman. Mari, para saudara-saudari, kita sadari betul-betul bahwa kita ini adalah ladang Allah dan bangunan-Nya. Tuhan memberkati. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.