Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Minggu 15 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Hari Minggu Prapaskah IV, Minggu Laetare, 15 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Kitab Pertama Samuel 16:1b.6-7.10-13a

  • Mazmur Tanggapan: Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6

  • Bacaan Kedua: Efesus 5:8-14

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Akulah terang dunia, sabda Tuhan, siapa saja yang mengikuti Aku, mempunyai terang hidup. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 9:1-41 (singkat 9:1.6-9.13-17.34-38

Mohon Kebutaan Rohani Dimelekkan

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari Minggu Prapaskah IV disebut juga hari Minggu Laetare (Latin: Sukacita). Aura dan gema Minggu Laetare ini adalah sukacita. Lantas di mana sukacita itu, paling tidak yang ditampilkan dalam Liturgi hari ini?

Pertama, sukacita itu ada dan ditunjukkan di antifon pembuka. Antifon pembuka biasanya dibacakan kalau tidak ada lagu pembuka. Bunyinya, “Bersukacitalah, hai Yerusalem, dan berhimpunlah, kamu semua yang mencintainya; bergembiralah dengan sukacita, hai kamu yang dulu berdukacita, agar kamu bersorak-sorai, dan dipuaskan dengan kelimpahan penghiburanmu” (Yes 66:10-11). Bersukacitalah, bergembiralah, dan bersorak-sorai adalah tiga kata bersaudara yang menunjukkan suasana kegembiraan komunal.

Kedua, sukacita itu ada di dalam diri Daud yang dipilih dan dipakai Tuhan untuk karya keselamatan-Nya (1Sam 16:1b.6-7.10-13a). Maka, Tuhan minta kepada Samuel supaya mengurapi Daud sebagai raja. Kata-Nya, “Bangkitlah dan urapilah dia, sebab inilah dia!” (ay. 12). “Maka Samuel mengambil tabung tanduknya yang berisi minyak itu, dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya” (ay. 13a). Hati penuh sukacita pasti tampak dalam diri Daud di tengah saudara-saudaranya.

Ketiga, sukacita bukan hanya ada dalam diri Daud saat ia diurapi menjadi raja tetapi juga meluap dari hatinya saat ia bermazmur (Mzm 23), sebagaimana kita dengar dalam Mazmur Tanggapan. Daud bersukacita karena mengalami penyertaan Tuhan dan karenanya ia tidak takut bahaya (ay. 4). Bahkan ia juga mengalami bagaimana Tuhan menjamu hidupnya bagaikan seorang tuan pesta menyediakan hidangan baginya (ay. 5a).

Selain itu, dengan hati penuh sukacita Daud juga mengenang bagaimana Tuhan sendiri mengurapinya untuk menjadi raja, katanya, “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah” (ay. 5cd). Siapa yang tidak bersukacita atas peristiwa seperti ini? Daud pasti hidup dalam sukacita saat itu. Sebab itu, Mazm 23 menjadi mazmur sukacita atas penggembalaan Allah dalam hidupnya sebagai raja.

Keempat, sukacita juga ada di dalam diri seorang yang buta sejak lahirnya (Yoh 9:1-41 atau singkat, 9:1.6-9.13-17. 34-38). Melalui kuasa yang bekerja di dalam Diri Yesus, seorang yang diutus Allah sendiri, si buta itu setelah membasuh diri di kolam Siloam (yang artinya: Uang Diutus) akhirnya dapat melihat lagi (ay. 7). Hatinya pasti dipenuhi oleh sukacita yang besar lantaran selama hidupnya tidak bisa melihat, matanya buta, dan kemudian melalui tangan dan ludah-Nya, ia bisa sembuh dan melihat secara normal seperti dialami oleh orang kebanyakan.

Saudari dan saudara yang dikasihi Tuhan, tindakan Yesus memelekkan mata orang yang lahir buta merupakan sebuah mukjizat, pekerjaan ajaib Tuhan. Iman si buta telah mengantar kepada perbuatan ajaib dan besar dari Tuhan sehingga dia sembuh, matanya bisa melek dan melihat seperti orang kebanyakan.

Penyembuhan orang yang lahir buta itu menurut pandangan penjinjil melambangkan baptisan, kelahiran kembali dari anak kegelapan menjadi anak terang. Ia menuntun si buta yang sejak lahir berjalan dalam kegelapan masuk ke dalam terang iman sebagaimana ia katakan kepada Yesus, “Aku percaya, Tuhan!” (ay. 38a). Pengakuannya ini ditegaskan lagi dengan “sujud menyembah Yesus” (ay. 38b). Ia mengakui identitas Yesus, bukan hanya sebagai seorang nabi (ay. 17) tetapi bahkan sebagai Tuhan. Sungguh luar biasa, apalagi jika saat itu ia melakukan tindakan “sujud menyembah Yesus” itu dengan hati penuh sukacita.

Para saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita mohon kepada Yesus agar kebutaan rohani yang selama ini menghalangi kita untuk melihat dan mengalami pekerjaan-pekerjaan besar Allah dalam diri sesama yang mengalami berbagai keterbatasan, entah fisik maupun sosial dimelekkan oleh-Nya. Tuhan memberkati! [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pembaruan Dalam Diri" Oleh RP Yohanes Tinto Tiopano Hasugian, O.Carm