Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Rabu 18 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Hari Rabu, Pekan IV Prapaskah, 19 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Yesaya 49:8-15

  • Mazmur Tanggapan: Tuhan itu pengasih dan penyayang.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9.13cd-14.17-18

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Akulah kebangkitan dan hidup, sabda Tuhan. Setiap orang yang percaya pada-Ku, akan hidup, sekalipun ia sudah mati. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 5:17-30

Berbuat Baik

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, berbuat baik itu tidak selalu diterima dengan baik oleh orang yang tidak berkehendak baik. Dan tidak semua orang punya kehendak baik untuk menerima perbuatan baik orang lain, sebaik apa pun perbuatan orang lain itu.

Kalau orang sudah tidak senang, sehebat atau sebaik apa pun suatu perbuatan akan dinilai secara minor atau miring atau bahkan ditolak. Kenyataan semacam ini bisa dan biasa terjadi di banyak tempat. Namun demikian, jika kita punya kehendak baik untuk berbuat baik, jangan pernah surut untuk melakukannya.

Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia Rasul Paulus memberi nasihat bagus demikian, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang” (Gal 6:9-10).

Nasihat bijak dan bagus tersebut pernah dikutip oleh Paus Fransiskus dalam suatu Pesan Prapaskah demikian, “Janganlah kita bosan berbuat baik dalam amal kasih terhadap tetangga kita. Selama Masa Prapaskah ini, semoga kita mempraktikkan sedekah dengan memberi dengan sukacita (lih. 2 Kor 9:7). Allah yang “menyediakan benih bagi penabur dan roti untuk dimakan” (2Kor 9:10) memungkinkan kita masing-masing tidak hanya memiliki makanan untuk dimakan, tetapi juga bermurah hati dalam berbuat baik kepada orang lain. Meskipun benar bahwa kita memiliki seluruh hidup kita untuk menabur kebaikan, marilah kita mengambil keuntungan khusus dari Masa Prapaskah ini untuk merawat mereka yang dekat dengan kita dan untuk menjangkau saudara-saudari kita yang terluka di sepanjang jalan kehidupan (lih. Luk 10:25-37).”

Lebih lanjut Paus Fransiskus mengajak umat beriman untuk memaknai Masa Prapaskah sampai akhirnya melahirkan tindakan nyata. “Prapaskah adalah waktu yang baik untuk mencari – dan bukan untuk menghindari – mereka yang membutuhkan; untuk menjangkau – dan tidak mengabaikan – mereka yang membutuhkan telinga yang simpatik dan kata-kata yang baik; untuk mengunjungi – dan tidak meninggalkan – mereka yang kesepian. Marilah kita mempraktikkan panggilan kita untuk berbuat baik kepada semua, dan meluangkan waktu untuk mengasihi yang miskin dan membutuhkan, mereka yang ditinggalkan dan ditolak, mereka yang didiskriminasi dan terpinggirkan.”

Berbuat baik kepada sesama tanpa jemu-jemu dan menjadi lelah tidak pernah sia-sia dan percuma. Meski, kadang tidak diterima dengan baik oleh orang yang tidak punya hati dan kehendak yang baik. Berbuat baik kepada sesama tanpa jemu-jemu dan menjadi lelah bagaikan menanam investasi bagi masa depannya. Melakukannya sekarang, namun menikmati hasilnya baru nanti di kemudian hari. Menurut Rasul Paulus, “Karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai” (Gal 6:9). Kapan itu saat menuai?

Dalam Injil hari ini Yesus yang mendapat kuasa dari Bapa untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia (Yoh 5:27), memberikan jawaban dengan sangat jelas. “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kubur akan mendengar suara Anak, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:28-29).

Benar bahwa saatnya akan tiba atau dalam istilah Rasul Paulus, apabila sudah datang waktunya, orang yang telah berbuat baik sewaktu hidup di dunia akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal. Sedangkan yang selama hidup berbuat yang jahat akan bangkit untuk dihukum. Beroleh hidup yang kekal atau dihukum adalah panenan yang dituai setelah kematian. Apakah yang dituai atau dipanen itu hasil yang baik atau buruk tergantung apa yang ditanam sewaktu masih hidup.

Dalam suatu khotbahnya tentang berbuat baik Santo Leo Agung (+ 461) juga menegaskan, “Apa yang ditaburkan seseorang, itu akan dituai juga, dan upah seseorang itu sesuai dengan perbuatannya.” Paus yang juga Pujangga Gereja ini menjelaskan, jikalau orang menggunakan kekayaannya sebagai sarana untuk berbuat baik, jika kekayaan itu digunakan untuk menolong orang miskin, dengan memberi derma, maka dia itu menimbun atau mengumpulkan harta yang tidak akan hilang dan tidak pernah akan hilang, yang akan dinikmati setelah kematiannya, berupa hidup yang kekal.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mari kita belajar berbuat baik (bdk. Yes 1:17). Mari kita tak jemu-jemu berbuat baik. Sebab, berbuat baik yang lahir dari iman, yang bagaikan biji-biji yang ditanam atau ditabur di kala kita hidup, buah atau hasilnya akan dituai, dipanen atau dinikmati di kemudian hari setelah kematian kita. Buah itu berupa hidup yang kekal. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pembaruan Dalam Diri" Oleh RP Yohanes Tinto Tiopano Hasugian, O.Carm