Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Sabtu 21 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Hari Sabtu, Pekan IV Prapaskah, 21 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Yeremia 11:18-20

  • Mazmur Tanggapan: Ya Tuhan, Allahku, pada-Mu aku berlindung.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 7:2-3.9bc-10.11-12

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Orang yang mendengarkan firman Tuhan, dan menyimpannya dalam hati yang baik, akan menghasilkan buah dalam ketekunan. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 7:40-53

Tidak Menutup Diri

Saudari-saudara yang dikasihi Tuhan, gelas yang tertutup tidak bisa diisi dengan air. Pintu rumah yang tertutup menghalangi orang untuk masuk ke dalam rumah itu. Pikiran yang tertutup, sulit memahami pikiran orang lain, bahkan sulit menerima pendapat orang lain sekalipun pendapat, gagasan atau ide itu benar, baik dan aktual.

Bagaimana jika yang tertutup adalah hati? Hati yang tertutup cenderung menjadi keras dalam bersikap; rahmat Tuhan diabaikannya, kebaikan sesama ditolaknya. Singkatnya, orang yang tertutup hatinya akan cenderung bersikap antipati.

Ketika orang banyak mendengarkan pengajaran Yesus di Yerusalem, mereka mempunyai pendapat pribadi tentang Yesus. Pendapat atau kesimpulan mereka beragam. Ada yang berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi ada juga yang menyanggahnya, katanya, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal” (Yoh 7:40-42).

Pendapat ketiga atau terakhir mewakili orang-orang yang tertutup hatinya dan mengingkari kebenaran. Dari Kitab Suci mereka tahu bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal. Padahal, itulah persisnya tempat kelahiran Yesus (lih. Luk 2:4.11). Apa yang ditulis dalam Kitab Suci benar. Namun, mereka menyangkalnya, itulah hati yang tertutup.

Ketika penjaga-penjaga Bait Allah mendengar sendiri pengajaran Yesus sebelum menangkap-Nya sebagaimana diperintahkan oleh para imam kepala dan orang-orang Farisi, mereka berkata, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (Yoh 7:46). Artinya, Yesus itu orang hebat. Tidak pernah dijumpai bahwa ada orang seperti Dia. Kata-kata-Nya penuh wibawa dan kuasa, sehingga para penjaga Bait Allah pun tidak memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk menangkap-Nya. Terlalu kuat wibawa dan kuasa Yesus bagi mereka. Akan tetapi, kebenaran yang dilihat, dialami, dibawa dan diwartakan kepada kaum Farisi tersebut dianggap sebagai kata-kata yang menyesatkan. “Adakah kamu disesatkan?” Tanya kaum Farisi kepada para penjaga Bait Allah itu (ay. 48a).

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, orang-orang Farisi yang tertutup, baik pikiran maupun hatinya, membuat mereka terkungkung oleh pola pikir mereka sendiri. Mereka selalu merasa benar bahkan yang paling benar. Orang lain yang mengalami dan penyampaikan kebenaran dianggap tersesat. Orang lain yang telah mendengarkan kebenaran dari Sang Kebenaran (bdk. Yoh 14:6) justru dianggap tersesat. Sungguh mengherankan.

Jika kita renungkan lebih lanjut, sejatinya orang yang tertutup itu bagaikan orang yang sedang membangun tembok, memutus hubungan dengan dunia luar. Ia membangun sebuah budaya hidup yang tidak sehat. Itulah sebabnya, ketika menulis Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), Paus Fransiskus menegaskan, “Dewasa ini, ketika jaringan-jaringan dan sarana-sarana komunikasi manusia telah membuat kemajuan-kemajuan yang tak terkirakan, kita merasakan tantangan untuk menemukan dan membagikan “mistik” hidup bersama, berbaur dan bertemu, saling merangkul dan mendukung satu sama lain, mengambil bagian dalam gelombang yang, meskipun agak kacau, dapat menjadi pengalaman nyata persaudaraan dalam iring-iringan solidaritas, peziarahan suci” (No. 87).

Lebih lanjut Paus Fransiskus mengatakan, “Keluar dari diri kita sendiri dan bergabung dengan orang lain adalah sesuatu yang sehat bagi kita. Tertutup atau menutup diri menjadikan kita mencicipi racun pahit, dan kemanusiaan akan menjadi lebih buruk untuk setiap pilihan egois yang kita buat” (Ibid.).

Saudari dan saudara seiman dalam Yesus, untuk menghindari racun pahit dan aspek kemanusiaan kita memburuk, mari kita buang jauh-jauh sikap menutup diri, menganggap diri paling benar, menganggap diri sudah hebat, sudah maju dan melek teknologi dan merendahkan orang lain dengan menganggapnya ketinggalan zaman dan sebagainya. Kita hidup dalam kebersamaan dan keberagaman. kita perlu membuka diri terhadap aneka keterbatasan orang lain.

Dengan menutup diri, apa pun yang hebat pada kita, tidak akan menjadi berkat bagi sesama. Sebaliknya, dengan membuka diri, mau membagikan mistik hidup bersama, mau membaur dan berjumpa, misalnya dalam kegiatan lingkungan, wilayah atau kelompok kategorial, kita dapat saling merangkul dan mendukung satu sama lain. Kita dapat bertumbuh bersama. Sebab, kata Paus Fransiskus, hidup itu akan bertumbuh justru dengan dibagikan (Ibid., No. 10).

Para saudara, perlu diingat bahwa semangat berbagi itu mungkin, jika orang tidak menutup diri. Mari kita mohon rahmat Allah agar sikap orang-orang Farisi yang tertutup tidak meracuni hidup kita. Mari kita juga membuka diri bagi saudara-saudari kita umat Islam yang hari ini merayakan hari raya Idul Fitri. Kita mohon maaf lahir dan batin jika selama ini relasi kasih dan persaudaraan belum dihayati dengan sungguh-sungguh. Hari ini adalah saat penuh rahmat untuk tidak menutup diri. Tuhan memberkati! [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pembaruan Dalam Diri" Oleh RP Yohanes Tinto Tiopano Hasugian, O.Carm