Berita dan Artikel

Pertemuan Kedua Bulan Kitab Suci Nasional 2023

Pertemuan Kedua - Kasih Allah Menggerakkan Pertobatan

Pengalaman selama masa pandemi dan berbagai pengalaman hidup yang menyebabkan kesedihan, ketakutan, kecemasan, bahkan kematian menjadi bukti betapa rapuhnya manusia. Kerapuhan manusia melahirkan dunia yang semakin rentan terhadap krisis, pudarnya persaudaraan manusia, fanatisme ideologi, dan kepentingan kelompok yang menyebabkan manusia terpecah belah.

Kerapuhan hidup manusia hanya dapat dipulihkan jika manusia berani mengambil pilihan untuk bertobat. Pertobatan mengajak kita untuk menyadari kasih Allah yang amat dalam dan luas, yang tidak hanya ditujukan untuk sekelompok orang tertentu, melainkan untuk semua orang terutama yang mengalami kerapuhan hidup, asalkan mereka bertobat.

Konteks

Berhadapan dengan kekesalan Yunus yang lebih menginginkan hukuman terhadap orang-orang Niniwe, tanpa kenal lelah Allah terus-menerus memberi tanda agar Yunus memahami diri-Nya yang berbelas kasih dan kehendak-Nya untuk memberi pengampunan kepada semua orang yang berdosa. Pada akhirnya, dalam diam dan keheningan, Yunus menyadari pentingnya martabat kehidupan manusia yang seharusnya dikasihi dan diampuni.

Membaca teks secara mendalam

Beberapa poin yang diperoleh dari perikop ini adalah sebagai berikut.

  1. Yunus sangat gusar dan marah karena melihat apa yang dilakukan Tuhan Allah. Bagi Yunus, Allah seharusnya bersikap adil dengan menghukum penduduk Niniwe karena kejahatan mereka, bukan malah mengampuni mereka.
  2. Kegusaran dan kemarahan Yunus terungkap jelas dalam permintaannya. Dia meminta lebih baik mati saja daripada hidup. Yunus tidak senang dengan pengampunan yang diberikan Allah kepada mereka yang bertobat. Dia menolak untuk berdamai dengan cara Tuhan mengasihi dan mengampuni orang berdosa yang bertobat.
  3. Allah lebih menghendaki agar Yunus bertobat dengan tidak mengikuti kebenaran dan keyakinannya sendiri, tetapi mengikuti kehendak Allah.
  4. Tuhan Allah tidak jemu-jemu memberi tanda supaya Yunus memahami diri-Nya sebagai pengasih dan penyayang serta panjang sabar yang mengampuni otang berdosa yang bertobat. Tanda kasih sayang-Nya kepada Yunus diungkapkan dengan menumbuhkan pohon jarak dalam satu malam. Tindakan Allah ini membuatnya senang dan bersukacita karena dia terlindungi dari panas terik. Dari sini terlihat kepribadian Yunus yang sesungguhnya. Ia bersukacita ketika menerima dari Tuhan sesuatu yang menyukakan dirinya. Sebaliknya, ketika menerima sesuatu yang berbeda dari keyakinannya, ia menjadi gusar dan marah.
  5. Yunus marah karena pohon jarak menjadi layu digerogoti ulat. Menanggapi pemberontakan dan protes ini, Allah lagi-lagi menyatakan diri-Nya sebagai pengasih dan penyayang dalam sebuah pertanyaan retoris. Allah mengampuni para pendosa yang bertobat dan berbelas kasih kepada mereka yang tidak sadar bahwa mereka berdosa sebab mereka adalah ciptaan-Nya.

Pertanyaan Mendalam

  1. Dalam hal apakah saya perlu melakukan pertobatan? Hal-hal apa saja yang menghalangi saya untuk dapat bertobat?
  2. Pernahkah saya gagal menyadari kasih Tuhan untuk saya dan malahan marah kepada Tuhan karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan saya?
  3. Apakah kasih Allah kepada saya sudah menggerakkan saya untuk juga “bergerak” mengampuni dan mengasihi mereka yang tidak saya sukai bahkan saya benci?

Materi Tayang Pertemuan Kedua

Materi Pertemuan Lainnya

  1. Pendahuluan (Klik Disini)
  2. Pertemuan Pertama (Klik Disini)
  3. Pertemuan Ketiga (Klik Disini)
  4. Pertemuan Keempat (Klik Disini)